27 April 2018

Merespons Baper La Nyala terkait Pencalonan Gubernur Jatim

Oleh: Pradipa Yoedhanegara

Beberapa saat yang lalu, muncul edaran berita tentang press conference yang dijembatani oleh beberapa orang aktivis dalam rangka mendengarkan notion, ekspresi, atau kesan seorang Lanyala Mahmud Mataliti, perihal tidak jadinya yang bersangkutan dicalonkan sebagai bakal Calon gubernur Jatim oleh Partai Gerindra.

Salah satu nukilan, dari "Statemen politik dari LNM adalah bahwa Prabowo meminta dana sejumlah 40M darinya untuk pos pembiayaan dalam pilkada", bagi kepentingan saksi yang nantinya akan bertugas di semua TPS yang ada di jawa timur dalam pelaksanaan pilkada serentak tahun 2018.

Telaah Objektif

Terlepas dari adanya subjektivitas berfikir atau pun tendensi dari statement LNM tersebut, setidaknya ada 3 hal yang dapat dicermati dan menjadi bahan perenungan tentang sisi kepantasan dari pernyataan tersebut yang menurut pribadi saya adalah sebagai sebuah character assasination terhadap figur Prabowo Subiyanto.

Pertama, secara internal, LNM merupakan kader Gerindra sejak 2009 dari informasi akurat yang saya dapat dari seorang teman. Secara analogis, LNM seharusnya sudah paham dan tahu betul tentang AD dan ART dalam sebuah partai politik, sekaligus elaborasi peraturan dan tatalaksana kepartaian secara internal dalam partai Gerindra.

Ketika LNM menyampaikan keluhan manakala Prabowo selaku Ketua Umum marah terhadapnya, dan dia menegaskan bahwa tidak ada signifikansi bagi Prabowo untuk memarahinya atas asumsi bahwa Prabowo bukan atasannya, sejatinya ini merupakan kesalahan persepsi dan paradigma berfikir serta pengingkaran jati diri dari seorang kader partai terhadap pimpinan partai.

Secara etika, sikap LNM merupakan bentuk mekanisme self defanse atau pertahanan diri akibat nuansa dimarahi yang dialaminya. Secara psikolinguistik, nuansa tekanan subjektif yang dialami oleh LNM dapat membuat set up pemikirannya untuk menguliti atau membuka ketidaknyamanannya terhadap teguran ala seorang Bapak kepada anaknya. Ekses dari kondisi ini adalah ketidaknyamanan secara personal terhadap Prabowo Subiyanto, dan akhirnya mereposisi masalah kecil menjadi besar, yakni perihal uang 40M yang dipersyaratkan Prabowo terhadapnya.

Kedua, bercermin dari luasnya wilayah Jatim, yang secara eskalatif memiliki 68.511 TPS, kebutuhan biaya untuk mengakomodasi aspek logistik para saksi, jumlah 40M sejatinya bukanlah angka yang begitu mahabesar untuk menchallenge keseriusan seorang LNM dalam mendapatkan mandat untuk menjadi calon gubernur Jatim.

Secara kalkulatif, partai pengusung kandidat Gubernur setidaknya akan mengirimkan 2 orang saksi di setiap TPS. Dengan asumsi per orang menerima 300 ribu, akumulasi dana yang dibutuhkan untuk pos ini adalah: 68.511 x 2 x 300.000 = Rp41.106.600 (Empat puluh satu miliar lebih). Ini belum termasuk biaya pelatihan untuk semua saksi agar mereka bisa menjalankan tugas di TPS nantinya.

Bagi seorang Prabowo Subiyanto, jumlah 40M yang ditetapkan untuk Layala bisa jadi merupakan sebagai satu bentuk treatment pendewasaan politis bagi kader yang hendak dipercayanya sebagai calon pemimpin di Jatim.

Seringai penuh dimensi emosi dari layala justru merupakan perilaku nirdewasa, atau dalam bahasa kekinian sebagai bentuk ngambek terhadap arahan orang tua yang juga sekaligus sebagai pemimpin Partai.

Figur LNM yang Notabene merupakan Pengusaha kenamaan di jawa timur, mungkin saja diasumsikan oleh partai politik yang akan mengusung memiliki kemampuan dan resorces untuk dapat mendanai saksi dimasa pemilihan yang akan datang. Selain itu mungkin pengalaman berorganisasi LNM menjadi salah satu bahan acuan dan pertimbangan awal bagi Prabowo untuk memilihnya sebagai calon gubernur Jatim.

Ironisnya, "ketika fakta muncul bahwa LNM tidak jadi dicalonkan sebagai kandidat gubernur pilihan Prabowo Subiyanto", LNM malah menyeruakkan sisi kelabilan dalam bertutur. Nukilannya antara lain: Memang siapa Prabowo???.. marah sama saya.. saya bukan anak buahnya.. Saya diminta 40M sama Prabowo langsung... Saya gak akan mendukung Gerindra lagi dan ekspresi kemarahan lainnya yang sepertinya menyerang pribadi seorang Prabowo Subiyanto.

Pembaca yang budiman pasti bisa mencerna makna tersirat dari ekspresi kemarahan LNM. Sederhananya, pembatalan pencalonannya memantik emosi dengan penuh labil, dan semua itu diungkapkannya ke khalayak ramai. Secara etika ketimuran, layakkah seorang anak menjelekkan sosok seorang bapak yang mendidik dan hendak mempercayakan kepadanya satu tugas besar terhadap dirinya??? "Sejenak pertanyaan ini seyogianya kiita jadikan sebagai kontemplasi nuraniah".

Ketiga, memasuki tahun politik di sepanjang 2018 dan 2019, segala bentuk pembentukan opini negatif dan pembunuhan karakter terhadap Prabowo Subiyanto akan terus bergulir secara intens dan masif. Mungkin bagi Prabowo Subiyanto pribadi, ini hal lumrah yang semakin hari akan makin membentuk dirinya sebagai pribadi yang teguh, besar hati, dan kuat. Seseorang yang semakin sering ditiup badai akan semakin tinggi iMunitas dan enduransinya dalam menuju destiny utama, yakni membawa negeri ini sebagai bangsa yang berdaulat, berwibawa, adil, dan makmur. Mungkin ini vaksin sekaligus vitamin yang baik buat Prabowo Subiyanto untuk berdedikasi buat negeri ini di masa mendatang.

Sebagai figur pemimpin yang di proses seperti menjadi mineral dengan kwalitas paling tinggi serta sudah punya coleteral dalam politik, kasus LNM tidak akan memiliki pengaruh yang besar terhadap Prabowo Subiyanto karena sosok PS tidak seperti politisi pada umumnya karena prabowo telah mengalami proses politik yang panjang untuk menjadi sosok negarawan sekaligus bapak bangsa di masa mendatang

Momentum statement politik LNM ini, sebaiknya juga bisa dijadikan oleh Prabowo Subiyanto untuk melakukan bersih-bersih kedalam tubuh partai dan meminta pertanggung jawaban seluruh pengurus partai Gerindra, menjelang dilaksanakannya pilkada serentak 2018 sekaligus melakukan konsolidasi sosial dari dalam tubuh partai politik untuk me jawab tantangan dimasa mendatang agar partai Gerindra bisa menjadi partai pemenang pemilu 2019.

Perenungan Bersama

Politik dinegeri kita ini adalah politik industri karena untuk maju sebagai calon kepala daerah sangatlah membutuhkan modal politik yang cukup besar karena negara sepertinya abai dan melakukan pembiaran, karena saksi partai politik itu didanai oleh Parpol ataupun kandidat yang akan bertarung dalam kontestasi politik dinegeri ini, "karena pada akhirnya ditiap kontestasi politik kita hanya akan menghasilkan politisi yang menjadi hamba uang, yang hanya akan menjadi penjual aset negara".

Dunia kontemporer dengan industrialisasi media massa sebagai pusarannya dalam kasus Baper'nya LNM, secara langsung maupun tidak langsung diarahkan untuk terwujudnya dehumanisasi dan destruksi terhadap nama baik Prabowo Subiyanto, dan itikad baiknya untuk mengabdi bagi negeri.

Munculnya Pro dan Kontra terhadap kasus LNM ini menunjukan bahwa masyarakat memiliki sense of critisism, dan pada akhirnya mereka bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi di sepanjang tahun ini, termasuk di dalamnya kemampuan untuk menyikapi intrik-intrik politik yang tidak santun dan beretika.

Hakikatnya, sesuatu yang baik dalam politik, belum tentu benar menurut sebagian orang. Sesuatu yang benar dalam berpolitik, belum tentu baik bagi sebagian orang. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga atau berguna, belum tentu bagus dalam perspektif sebagian orang. "Mengapa demikian?? Karena semuanya tergantung dari perspektif mana kita melihatnya".

Sebagai pesan penutup, membalas kebaikan dengan kejahatan adalah perangai yang serendah-rendahnya dalam diri kita sebagai seorang manusia. Namun, membalas sebuah kejahatan dengan kejahatan, bukanlah perikemanusiaan. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah hal yang lumrah dan biasa. Membalas kejahatan dengan kebaikan adalah cita-cita kemanusiaan yang setinggi-tingginya.

Dan, pada akhirnya, dalam menyikapi hingar bingar kontestasi pilkada, para calon pemimpin seyogianya sanggup hidup untuk memberi manfaat bagi banyak orang, dan memberikan atmosfer yang kondusif bagi masyarakat yang bakal dipimpinnya untuk meraih cita-cita menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

Wauwlahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassalamuallaikum Wr, Wb.

Category: 
loading...

Related Terms