22 May 2018

Menyimak Cerita-cerita yang Nyaman

Judul                : Sabda Kerinduan
Penulis            : Muhari Aqil Salman
Penerbit         : Dahan Press (Sulur Pustaka Group)
Tebal               : vi+116 hlm; 14 x 20cm
ISBN                : 978-602-51089-0-7
Tahun Terbit : Desember 2017
Peresensi       : Toyu
 
Patut disyukuri lahirnya kumpulan cerpen karya Muhari Aqil Salman yang berjudul Sabda Kerinduan ini. Buku setebal 116 halaman ini seperti hendak mengajak kita pada realitas-realitas yang sangat anggun dan perjalanan sunyi. Sabda Kerinduan menghadirkan kisah-kisah hiperbolik dengan aneka macam metafor yang menghadirkan gelombang kesyahduan. Seperti dalam cerpen yang berjudul “Sabda Kerinduan” yang merupakan cerita pendek terpanjang dibandingkan dengan cerita-cerita lainnya dalam buku itu, menghadirkan cerita dengan penuh determinasi. Ada lonjakan-lonjakan imajinasi. Sebagai pembaca, saya merasa terseret keambiguan hidup, bahwa cinta dan selera hidup merupakan putik bunga yang terus membuai kehidupan manusia.
 
Selain itu, Sabda Kerinduan juga memberikan pencerahan dengan sabda-sabda kenabian kepada pembaca bahwa hari-hari adalah lembaran yang semestinya kita ukir dengan pahat-pahat metafor, ukiran-ukiran yang menjadi patung-patung di masa depan nanti. Cerita ini mengajak kita pada kehidupan yang penuh dengan etika profetik, sebuah laku kehidupan dengan lebih banyak mencontoh kehidupan nabi. Ya tentu saja tangis dan luka akan menjadi sindikat-sindikat kesunyian yang menyeret pembaca pada gelanggang kehidupan yang hakiki dan romantika cinta yang membuncah.
 
Sementara cerpen Surat Aisyah yang Tertinggal, menyuguhkan cerita yang cukup ciamik dengan akhir cerita yang sangat memukau dan bertanya-tanya. Cerpen ini menceritakan tentang Aisyah yang ingin melampaui waktu. Waktu seperti hendak ditembusnya lebih dari apa adanya.
 
Di halaman terakhir, penulis menghadirkan sebuah puisi berjudul Menulis itu Luka, di mana sebelum puisi itu ada cerita pendek yang berjudul Permata yang Hilang. Dua judul ini merupakan dua karya yang berbeda dari satu penulis. Permata yang Hilang bercerita tentang perjalanan ke masa lalu dengan pelabuhan cinta yang semakin tidak tampak. Semakin mereka mendekat, pelabuhan itu semakin tanpak bayang-bayang saja. nyaris sama dengan puisi terakhir itu yang berjudul “Menulis itu Luka”, semacam kenyataan yang harus dihadapi bahwa tinta yang menetes telah menuliskan jalan hidupnya sendiri.
 
Kita patut berbahagia dengan hadirnya antologi cerita pendek “Sabda Kerinduan” yang membuat kita terenyah dalam menghadapi kenyataan. Kita diajak waspada, sebab masa lalu bukan sekedar mengintip masa kini, tapi juga mengintervensi masa depan.
 


*Toyu/Peresensi lahir di Sumenep, Madura.

Category: 
Loading...