21 April 2018

Menteri Susi Menggebrak, Melawan Asing dan Ketidakadilan

Populer, nyentrik, dan ceplas ceplos memang menjadi keseharian menteri perikanan dan kelautan. Popularitasnya kian melejit sejak pertama diumumkan akan menjabat sebagai menteri kelautan dan perikanan. Serbuan media seakan tak pernah lepas dari gerak geriknya sehari-hari baik dalam acara formal maupun non formal. Banyak orang meragukan kemampuannya karena pendidikan yang hanya setengah tiang. Beberapa pengamat malah mencibirnya tak berkualitas, salah pilih, dan lain-lain.

Menjawab Keraguan

Kini keragu-raguan akan kualitas menteri perikanan dan kelautan terjawab sudah. Kemampuan Menteri Susi dalam menguasai masalah baik permasalahan kebijakan dan lapangan membuat semua orang terpana. Belum lagi ketertarikan Negara-negara lain untuk bekerjasama seiring dengan komitmen ibu menteri untuk benar-benar menghidupkan ekonomi kelautan.

Beberapa kemarahan menteri susi sempat terekspos media beberapa waktu yang lalu. Diantara kemarahannya adalah permasalahan pendapatan Negara yang jauh dari potensi yang seharusnya didapat dari laut, pencurian ikan, pengelolaan kelangsungan biota laut yang salah, hingga permasalahan BBM untuk nelayan.

Beberapa minggu setelah kemarahannya, kini satu persatu dari apa yang disampaikan menteri nyentrik ini terbukti. Kemarin sore misalnya menteri susi berhasil menangkap kapal asing yang mencuri menagkap ikan diperairan Indonesia, hari ini mencuat penangkapan lebih dari 200 orang pencuri ikan asal Malaysia. Ini baru sedikit yang akan dilakukan Ibu Susi untuk ekonomi kelautan. Dengan semangat nasionalisme dan komitmennya pada rakyat kecil mungkin menteri ini dapat melakukan lebih banyak, tentu dengan dukungan semua pihak.

Pelajaran dari Menteri susi

Pendidikan memang dapat menjadi dasar seseorang untuk menempatkan sebuah posisi, namun bukan berarti orang yang tidak berpendidikan sederajat tidak mampu. Pendidikan hanyalah media untuk mengembangkan pola piker yang lebih baik, sistematis, dan mampu memecah persoalan secara logis dan lebih bijak. Namun orang-orang yang tidak berpendidikan juga bias melakukannya. Terlebih mereka terdidik secara langsung menghadapi persoalan riil dilapangan. Dengan demikian orang-orang berpendidikan atau tidak pada dasarnya kualitas kembali pada pengalaman yang bersangkutan dalam menghadapi masalah dan praktik di lapangan.

Beda Pengamat dan Praktisi

Pengamat selalu benar, mungkin ini yang selalu kita dengar. Padahal faktanya tidaklah demikian karena secara teoritis mungkin apa yang terjadi bias didefiniskan secara empiris, namun kenyataan dilapangan tidak selalu demikian. Walaupun seharunya lapangan bergerak sama dengan teori, tetapi lapangan selalu memiliki kurva pergerakan tersendiri untuk menjelaskan persoalan. Disinilah yang harus sama-sama kita pahami bahwa bagaimanapun orang yang bekera dengan pengalaman x tahun dilapangan akan memiliki pandangan lebih luas dan cara berpikir yang lebih praktis dalam menyelesaikan masalah. Menteri Susi dan Dahlan Iskan  salah satu contoh nyata yang menunjukkan bagaimana praktisnya orang lapangan bekerja sehingga keberhasilan lebih dekat untuk dicapai.

Nasionalisme

Kata “Nasionalisme” mungkin masih sering kita dengar, namun praktik nasionalisme kita selama ini terlihat buram dilapangan. Bagaimana bisa kita mengatakan nasionalisme sementara para pejabat sibuk memikirkan untuk menumpuk kekayaan, membuat kebijakan yang menguntungkan golongan, dan kesan kita membeairkan daerah-daerah dan anak bangsa diujung sana memikirkan sendiri nasibnya. Nasionalisme kita selama ini hanya ada dalam pesta-pesta tujuh belasan.

Kehadiran Menteri Susi seakan membuka mata kita semua. Inilah praktik nasionalisme yang sesungguhnya. Nasionalisme yang menjunjung tinggi sumberdaya alam untuk kemakmuran masyarakat, untuk harga diri bangsa. Nasionalisme yang akan membangun kebersamaan, pemeraataan, dan nasionalisme untuk melindungi apa yang tidak seharunya dicuri, dijarah pelaut-pelaut asing. Semoga teriakan-teriakan menteri susi terus menggema sehingga semua tahu bagaimana berpikir untuk bangun dan maju.(azis nizar/KCM)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...