22 November 2017

Menolak Ahok: Siapa yang '' Goblok'', “Bajingan” dan Munafik?

KONFRONTASI-Dalam wawancara live di Kompas TV, Ahok mengungkapkan alasannya menggunakan “bahasa toilet” karena Aiman Wicaksono ngeyel ingin membongkar “nepotisme” kepemimpinan Ahok yang melibatkan istri dan adiknya dalam mengelola pemerintahan DKI Jakarta. Dalam wawancara tersebut, selain menggunakan “bahasa toilet”, AHok juga menggunakan “bahasa preman”. Bahkan jauh sebelum menjadi gubernur, AHok sudah menggunakan “bahasa provokator” dengan menuduh warga Jakarta sebagai “bajingan” dan komunis.

Dalam ajaran Islam ada 3 ciri orang munafik yaitu jika bicara suka berdusta, suka mengingkari janji dan mengkhianati amanah. Jika melihat rekaman percakapan AHok di media dan tindakannya sudah sangat gambling ketiga cirri tersebut melekat pada diri AHok.

Sebagai contoh, ketika wawancara di tv di depan sorotan kamera, AHok selalu bilang niatnya terjun ke politik karena ingin menggunakan APBD untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sayangnya, selama AHok memimpin APBD justru lebih banyak dihambur-hamburkan untuk kesejahteraan PNS Pemprov DKI Jakarta. APBD DKI dihabiskan untuk SPPD, rapat, tunjangan dan gaji yang mencapai 35 triliun lebih.

Maka menjadi hal yang wajar ketika BPS merilis hail surveynya yang menunjukkan selama AHok memimpin Jakarta tingkat persentase warga miskin terus mengalami peningkatan. Belum lagi jika bicara tentang banjir dan kemacetan yang makin parah. Korupsi juga makin merajalela. Terungkapnya korupsi Bus Transjakarta dan UPS hanyalah awal dari kebusukan kepemimpinan AHok, karena selama ini AHok melakukan pembiaran terhadap hasil audit BPK yang menemukan adanya dana siluman bernilai triliunan rupiah.

Hanya orang Goblok yang percaya AHok bahwa APBD untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Jika sejak awal AHok berkoar bahwa APBD digunakan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan PNS Pemprov DKI Jakarta, saya masih bisa menerima karena faktanya memang demikian. Sejak AHok memimpin, PNS Pemprov DKI Jakarta semakin sejahtera.

Lebih Goblok lagi orang percaya dengan pencitraan AHok yang teriak-teriak menuduh dana siluman DPRD. AHok tidak sadar bahwa rakyat sudah cerdas karena informasi mudah didapatkan dari berbagai sumber. AHok boleh saja menggunakan media mainstream untuk mengerek pencitraannya. Tapi mata dan telinga rakyat yang rasional ada dimana-mana dan mereka bisa langsung melaporkannya melalui media social dan blog pribadinya.

AHok harus jujur mengakui bahwa bergulirnya hak angket DPRD telah membuatnya panik. Apalagi kasus lengsernya Aceng Fikri karena pelanggaran etika selalu menghantuinya.

Semakin mendekati akhir penyelidikan panitia angket, AHok terlihat semakin terpojok. Pernyataan-pernyataannya mulai labil dan tidak konsisten. Pagi bilang lebih suka Pergub dibandingkan Perda, eh begitu disetujui Pergub mencak-mencak lapor Presiden dan Wakil Presiden.

Malam bilang Pergub sangat berbahaya karena mengindikasikan tidak ada kemajuan dalam pembangunan Jakarta, paginya bilang lebih suka Pergub karena tidak melibatkan DPRD lagi.

Sekali lagi, hanya orang Goblok yang percaya omongan AHok. Kalo saya jelas menolak Goblok.

Prestasi fenomenal AHok yang akan selalu dikenang oleh warga Jakarta adalah melesatnya jumlah masyarakat miskin di Jakarta.

Membandingkan AHok dengan Risma Triharini bagaikan membandingkan isi toilet dan kilauan mutiara. AHok sukses membuat rakyat Jakarta makin miskin, sedangkan Risma sukses menurunkan masyarakat miskin Surabaya AHok sukses membuat banjir dan macet Jakarta makin parah, sedangkan Risma sukses mengurai kemacetan Surabaya dan menihilkan titik-titik banjir. Risma bekerja keras dalam diam, sementara AHok rajian berkoar-koar tanpa kerja.

Risma sukses menutup tempat-tempat lokalisasi di Surabaya, AHok sukses memberi ijin beredarnya miras dan membiarkan prostitusi semakin menjamur.

Sekali lagi, hanya orang Goblok yang percaya omongan AHok. Kalo saya jelas menolak Goblok.(Bejo Al Bantani, jurnalis warga)

Tags: 
Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...