16 December 2019

Menganalisis Cerpen "Macan Lapar" - Karya Danarto

Oleh: Sukarti

 

 Analisis Cerpen "Macan Lapar"

Bab I
Pendahuluan
1.      Latar Belakang Masalah
Berbicara tentang sastra Indonesia berarti kita tidak lepas dari pembicaraan para pengarang beserta karya-karyanya yang lahir saat itu. Danarto adalah  seorang pengarang yang namanya sering disebut-sebut hampir di setiap pembahasan sastra Indonesia modern. Karya-karya Danarto bersifat rohani, mistik, abstrak tetapi sekaligus konkret. Dalam setiap cerpen-cerpen Danarto terdapat keanehan-keanehan dan penyimpangan-penyimpangan dibanding dengan cerpen-cerpen pengarang lain.
Beberapa cerpen Danarto sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Belanda. Kumpulan cerpen, Adam Ma'rifat, memenangi Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982. Tentang cerpen-cerpen Danarto, Y.B. Mangunwijaya menulis, “Cerpen-cerpen Danarto adalah parabel- parabel religius, cerita-cerita kiasan kaum kebatinan, yang luar biasa dinamikanya dan daya imajinasinya. Tradisional, tetapi sekaligus kontemporer.” Kiprahnya di dunia seni memang sudah mendarah-daging. Bekas anggota inti Sanggarbambu ini pernah menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta selama 11 tahun, dan wartawan majalah Zaman, 6 tahun. Pada 1983, ia menunaikan ibadat haji, dan menghasilkan sebuah laporan perjalanan yang kemudian diterbitkan PT Pustaka Grafitipers, Jakarta, Orang Jawa Naik Haji.    (http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/posts/default?orderby=updated)
Masih menurut blog ini  , Danarto  memang betul-betul orang Jawa. Danarto  yang merasa cuma mengenal rasa bahasa Jawa. Terkadang Danarto marasa  aneh dengan bahasa Indonesia. Pemahaman Danarto terhadap bahasa Jawa itu merasuk, sehingga mengetahui keindahan dari bahasa Jawa..
          Berdasarkan latar belakang di atas tampaknya cerpen Macan Lapar adalah satu dari sekian banyak karya Danarto yang mencerminkan adat jawa Danarto yang masih terlihat . Dalam cerpen ini yang dimaksud macan adalah gaya berjalan wanita jawa (Solo)  yang dideskripsikan dengan gaya berjalannya Macan Lapar (harimau lapar).
              Analisis berikut akan mencoba menelaah unsur struktural yang di dalamnya terdapat unsur budaya wanita jawa. Hal itu bertolak dari judul cerpen yang dipilh berbahasa Jawa Macan yang bahasa Indonesianya adalah harimau. Cerpen-cerpen Danarto memang banyak yang menggunakan istilah-istilah berbahasa Jawa. Hal ini menunjukkan sudah mendarahdagingnya budaya Jawa dalam keluarga dan hidupnya. Walaupun demikian karya Danarto sudah banyak  diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Hal inilah yang menjadikan karya-karya Danarto banyak mendapat perhatian dan tanggapan dari dalam dan luar negeri. Cerpen-cerpen Danarto memberikan gambaran memesona tentang eksistensi manusia dari sudut pandang Jawa. Oleh sebab itukupasan berikut akan  mencoba menganalisis beberapa unsur ke- Jawa-an  yang dituangkan dalam  cerpen Macan Lapar.


2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas masalah yang dibahas dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
a)      Bagaimanakah pandangan  Danarto tentang wanita Jawa dalam cerpen Macan Lapar?
b)      Bagaimanakah unsur pembangun  dalam cerpen Macan Lapar karya Danarto?
3.      Tujuan Pembahasan
Pembahasan masalah dalam makalah ini bertujuan untuk:
a)  Mengetahui pandangan Danarto tentang wanita Jawa dalam cerpen
       Macan Lapar karya Danarto.
c)      Mengetahui unsur pembangun dalam cerpen Macan Lapar karya
 Danarto.


         

 

 


Bab II
Pembahasan

1.      Pandangan Danarto Tentang Wanita Jawa dalam cerpen Macan Lapar.
Wanita Jawa bagi Danarto adalah sosok wanita yang harus dihormati, tidak boleh dibuat main-main. Jiwa mencintai tanah kelahirannya tercermin kuat pada penghormatannya terhadap wanita Jawa, khususnya Putri Solo. Bagi Danarto, siapapun yang akan membuat main-main putri Solo akan dibelanya walaupun harus menghadap Presiden Obama, walaupun dia harus pergi ke AS. Hal itu terlihat pada ungkapannya dalam kalimat  cerpen yang berbunyi sebagai berikut :  saya mengancam, jika ia main-main saja dengan Putri Solo, misalnya mengajaknya kumpul kebo, saya akan melaporkannya ke Presiden Obama (paragraf kedua ) . Kalimat itu dilontarkan oleh tokoh  “saya”  kepada John sahabatnya yang sangat menginginkan menikah dengan putri Solo. Menurut analisis strukturalisme penggunaannya nama tokoh “saya” itu berarti sudut pandang yang dipilih adalah sudut pandang orang pertama.  Akhirnya dapat disimpulkan pula bahwa tokoh “saya” yang dimaksud adalah pengarang sendiri yaitu Danarto.
Danarto juga mempunyai pandangan bahwa  Putri Solo adalah sosok wanita mulia yang kelak akan menurunkan keturunan yang sangat mulia pula. Hal itu tercermin dalam cerpen tentang ungkapan tokoh “John” yang berjanji dengan setulus hati tentang Putri Solo. Hal itu terungkap dalam dialog berikut:
“John berani bersumpah bahwa ia serius akan menikahi Putri Solo yang Macan Lapar itu dan memboyongnya ke Amerika. Anak keturunannya kelak, janji John, merupakan masyarakat baru Amerika yang akan mendatangkan berkah. Saya menyambutnya dengan mengucap amin, amin, amin. Okey, jawab saya. Insya Allah, John, saya akan membantumu untuk menemukan Putri Solo si Macan Lapar itu.” (Macan Lapar, paragraf kedua).
Pandangan Danarto tentang Putri Solo yang demikian ini menunjukkan bahwa unsur  fisafat Jawa masih kuat tercermin. Danarto sangat meyakini  bahwa baik buruk yang mempengaruhi perilaku manusia dihubungkan dengan eksistensi manusia yang terjelma dalam berbagai keinginan yang dikaitkan dengan empat nafsu : mutmainah (baik), amarah (kemarahan),  lauwamah  (tingkah laku), dan supi’an(keburukan)(Ciptoprawiro, 1987: 8).
            Berdasarkan kutipan di atas Danarto berharap ciri khas, kelakuan, gaya hidup, dan penampilan Putri Solo dapat berkembang di negara sahabatnya itu, si John, yang hidup di AS.  Danarto sangat mencintai tanah Jawa dengan segala budaya dan isinya.
2.      Unsur Pembangun dalam cerpen Macan Lapar
Menurut Herman J. Waluyo, (2011:6) bahwa  unsur-unsur pembangun cerita fiksi meliputi : tema cerita, plot atau kerangka cerita, penokohan, setting, sudut pandang pengarang atau point of view, latar belakang atau back-ground, dialog atau percakapan, gaya bahasa/gaya bercerita, waktu cerita dan waktu penceritaan, dan amanat. Demikian pula cerpen Macan Lapar karya Danarto dibangun atas unsur-unsur tersebut.
            Unsur yang dimaksudkan oleh Herman J. Waluyo tersebut dalam Renne Wellek dan Austi Warren sering disebut dengan unsure instrinsik. Yaitu unsure pembangun yang dapat ditemukan  dalam karya sastra tersebut. Unsur instrinsik yang dapat ditemukan dalam cerpen Macan Lapar  cukup unik. Seperti yang dikatakan bahwa Danarto memang seorang pengarang yang unik, nyleneh , sering keluar dari kebiasaan penulis-penulis lain. Keunikan Danarto terutama dijumpai pada gaya bahasa, diksi, serta tema-tema yang diangkat. Sering dijumpai karya Danarto menyimpang dari aturan . karya-karya Danarto terkenal karena muatan mistiknya yang menonjol yang dituangkan dengan cara-cara yang inkonvensional. Untuk memahami karya sastra terutama cerpen-cerpen Danarto tidaklah semudah memahami karya sastra pengarang lain. Kita perlu mengembalikan pemikiran kita pada dunia sastra sebagai realitas imajiner yang berarti bahwa kenyataan itu hanya ada dalam angan-angan.Segala bentuk penciptaannya tidak harus tunduk pada realitas formal. Hal ini dapat terlihat jelas terutama pada struktur cerita yang dijalin Danarto sering penuh dadakan, kejadian-kejadian yang disusun di luar dugaan pembacanya.
Cerpen Macan Lapar  dicipta dengan  gaya penceritaan Danarto yang khas  metafora, personifikasi,  figurisasi atau setidak-tidaknya renungan-renungan.  Gaya metafora  ditemukan sangat menonjol  dalam cerpen Macan Lapar ini. Dideskripsikan gaya seekor Macan Lapar sedang berjalan kemudian dimetaforakan dengan gaya berjalannya putri Solo. Menurutnya gaya berjalan seperti itu sangat anggun, sangat menunjukkan keelokan seorang putri. Bahkan gaya metafora ini ditunjukkannya dengan judul cerpen. Sekilas membaca judul yang terbayang di benak pembaca adalah tokoh yang buas, ganas, siap menerkam siapapun yang ingin dimangsanya. Sama seperti seekor macan yang sedang lapar yang siap menerkam mangsanya. Tapi kenyataan ditemukan setelah  membaca cerpen ini. Yang ditemukan adalah kebalikannya, Macan Lapar dideskripsikan seorang gadis cantik yang sedang berjalan lemah gemulai.  Hal itu ditemukan dalam cuplikan kalimat yang terdapat dalam paragraf ketujuh yang berbunyi sebagai berikut:
Menurut Fafa, gaya berjalan Macan Lapar adalah gaya berjalan yang bertumpu pada pinggul dan pundak. Jika melangkah, sebagaimana orang berjalan, pinggul kanan berkelok muncul keluar dari garis tubuh, maka pundak kiri lunglai ke depan. Begitu bergantian, pinggul kiri mencuat, pundak kanan lunglai ke depan. Irama ini dalam paduan langkah yang pelan. Gaya berjalan begini akhirnya diadopsi oleh para art director fashion show menjadi gaya berjalan yang kita kenal sekarang oleh para peragawati di seluruh dunia di atas cat-walk. Megal-megol-nya para peragawati Eropa, Amerika, maupun Asia, menurut Fafa sangat teknis. Hal itu tampak ketika para peragawati sudah tidak di atas cat-walk lagi, mereka ternyata berjalan biasa saja, sebagaimana orang-orang biasa berjalan. Artinya, megal-megol mereka di atas cat-walk belum merupakan kekayaan budaya fashion show. Padahal macan laparnya putri Solo itu tulen, alamiah, menyatu dengan tubuh yang hidup dalam budaya tradisinya. Meski cuma berjalan di dalam rumahnya, gaya berjalan Putri Solo tetap persis macan lapar. Sehingga Putri Solo jauh lebih gandes, luwes, kewes, dan sensuous.
            Metafora yang dipilih oleh Danarto itu menunjukkan bahwa Danarto adalah pengarang besar. Karena menurut Damono (1979:14) dikatakan bahwa pengarang besar mengemban tugas untuk memainkan tokoh-tokoh ciptaannya dalam situasi rekaan agar mencari nasib mereka sendiri untuk selanjutnya menemukan nilai dan makna dalam dunia sosial. Pembaca diajak untuk bisa membayangkan tokoh yang dimaksudkan oleh pengarang, untuk selajutnya menafsirkan apakah yang dimaksudkan oleh Danarto benar. Hal itu bergantung pada kejelian pembaca untuk menangkap fenomena social yang ditangkapnya dari masyarakat dan menghubungkannya dengan cerpan tersebut. Hasil selanjutnya diserahkan kembali pada pembaca. Inilah yang membuktikan bahwa karya Danarto ini juga termasuk multiintepretable.
            Dalam cerpen Macan Lapar Danarto melukiskan bahwa betapa akrabnya dia dengan teman-temannya. Bagaimana dia bergaul dalam dunianya tercermin sedikit dalam cerpen ini, khususnya dengan orang-orang yang setidaknya setara dengan dia, baik usia maupun dunia kehidupannya. hal ini mampu diangkat Danarto sangat menarik dalam cerpen Macan Lapar ini. Fenomena sosial memang sering mengilhami pengarang dalam karya tulisnya. Hal itu sejalan dengan pendapat Umar Yunus (1985:84) bahwa sastra merupakan penumpukkan perhatian pada hubungan antara sastra dan latar belakang sosial penulisnya. Sastra terkait erat dengan masyarakat sebagai objek yang terdeskripsikan dalam teks. Dalam Macan Lapar dikisahkan Danarto hubungannya dengan John sebagai sahabat, demikian pula Fafa dan tokoh-tokoh lain. Hubungan sosiologis antara John dan Saya serta teman-temannya yang akhirnya saling membantu untuk menemukan sang gadis dengan gaya berjalan seperti Macan Lapar untuk John. Inilah cerminan persahabatan yang akrab, akan tetapi tetap mempertahankan budaya dan prinsip tanah kelahiran yang mampu dituangkan Danarto dalam cerpen Macan Lapar ini. Dideskripsikan juga betapa bersatu dan gembiranya mereka setelah yang mereka cari ditemukan. Luapan kegembiraan itupun dibagi bersam-sama dalam sebuah warung makan.  Hal itu terungkap pada kutipan cerpen dalam kalimat berikut:
 tiba-tiba menghambur John di sela kerumunan orang yang antre tengkleng, sambil berkata mantap:
”Saya sudah dapat si Macan Lapar.”
”Alhamdulillah,” sahut saya.
Lepas ashar di gerbang Keraton Susuhunan, sejumlah orang berkumpul: John, Fafa, mas Rahayu Supanggah (komponis), mas Modrik Sangidu (aktivis), Sadra (komponis), Slamet Gundono (dalang), Suprapto Suryodarmo (guru spiritual), dan pak Jokowi (wali kota Solo) sedang berharap-harap cemas sambil mencereng menatap jalanan. Kami semua diundang John untuk menerima kejutan.
Mendadak muncul seorang gadis yang berpakaian lengkap mengesankan seorang penari. Kami terperangah melihat gaya jalannya yang Macan Lapar. (Macan Lapar paragraf 8-9).
Uraian di atas sangatlah dapat digunakan untuk mendukung pendapat Sariban dalam bukunya Teori dan Penerapan Penelitian Sastra (2009:11) bahwa Masyarakat sebagai bahan mentah sastra oleh pengarang diolah dengan pertimbangan unsur artistik dan kemungkinan-kenmungkinan baru. Fenomena sosial dapat menyusup pada tema, tokoh, setting, alur, sehingga membentuk paduan yang artistik. Bagaimana Danarto mendeskripsikan arti persahabatan, bagaimana pula ia tetap harus mempertahankan kecintaannya pada putri Solo, tertuang sangat pas dan artistik dalam cerpen Macan Lapar ini. Walaupun pilihan kata yang dipakainya terkesan sederhana, namun keindahan pesan tetap enak dinikmati pembacanya.

 

 

Bab III
Penutup
Danarto memang betul-betul satu dari sekian penulis karya fiksi yang unik. Keunikan Danarto terlihat juga dalam cerpen Macan Lapar. Gaya penceritaan dan pemilihan nama tokohnya unik. Namun keunikan itu tetap menambah indah dan enaknya cerpen Macan Lapar untuk dinikmati pembacanya.
Pandangan Danarto tentang wanita Jawa (putri Solo) adalah   sosok wanita yang harus dihormati, tidak boleh dibuat main-main. Jiwa mencintai tanah kelahirannya tercermin kuat pada penghormatannya terhadap wanita Jawa, khususnya Putri Solo. Bagi Danarto, siapapun yang akan membuat main-main putri Solo akan dibelanya. Hal ini mencerminkan kecintaannya pada budaya Jawa.
Unsur pembangun dalam cerpen Macan Lapar dicipta Danarto terkesan sederhana, . Unsur instrinsik yang dapat ditemukan dalam cerpen Macan Lapar  cukup unik. Seperti yang dikatakan bahwa Danarto memang seorang pengarang yang unik, nyleneh , sering keluar dari kebiasaan penulis-penulis lain. Keunikan Danarto terutama dijumpai pada gaya bahasa, diksi, serta tema-tema yang diangkat. Gaya Metafora menonjol dalam cerpen Macan Lapar.  Tema yang dipilih dalam cerpen Macan Lapar adalah keunikan gaya berjalan putri Solo yang seperti Macan Lapar.
.


Daftar Pustaka

Abdullah Ciptoprawiro. 1987. Filsafat Jawa:Manusia dalam Tiga Dimensi
Herman J. Waluyo. 2011. Pengkajian dan Apresiasi Prosa Fiksi. Surakarta:UPT
 UNS Press.
Rene wellek dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (diindonesiakan oleh
 Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia.
Sariban. 2009. Teori dan Penerapan Penelitian Sastra. Surabaya:Lentera Cendia.
Lingkungan Hidup. Yogyakarta:Proyek Javanologi.
Umar Junus. 1985. Resepsi sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta : Gramedia.
__________ .  2012. Pedoman Penulisan Tesis Program Studi Strata 2 (S2)
            Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Madiun:IKIP PGRI.(Juft/Geniee)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...