11 December 2017

Mengalirnya Merah Putih dari Bengawan Solo

Oleh: Nirmal Ilham

Silang sengkurat perdebatan antara kaum merah yang menekankan kearifan lokal dengan kaum putih yang berorientasi pada islam kaffah semakin menegang pada era joko widodo. Meskipun Sri Sultan Hamengkubuwono X telah menegaskan bahwa sejak abad keenambelas, ottoman turki menganugerahkan demak sebagai "khalifatullah ingkang tanah jawi" dengan bukti bendera berlafadzkan syahadat yang masih tersimpan di kraton.

Statement sultan bersebrangan dengan beredarnya buku runtuhnya majapahit versi damar shasangka. Damar menyebut dwarawati sebagai sosok yang mempengaruhi prabu brawijaya untuk membuang tan eng hwat (putri kerajaan tiongkok) yang nantinya melahirkan raden patah yang disebut bernama asli jin bun. Bahkan disebut pula, dalam tradisi reog yang merupakan kiasan adipati wengker menyindir prabu brawijaya tunduk di selangkangan dwarawati.

Anomali dan dualisme muncul pula dalam karya dhamar yang mengutip sabdo palon enggan memeluk ajaran islam dari arab. Dalam serat darmogandul, akan nagih janji lima ratus tahun untuk mengembalikan agama budhi jawa dengan bekerjasama dengan mata satu.

Dualisme menguat di Tuban dengan jumlah imigran cina melimpah, yang acapkali resisten terhadap islam putih dari giri kedaton. Walaupun sama sama pelabuhan penting, Tuban dianggap sekutu, sedangkan gresik dianggap sebagai musuh majapahit. Termasuk Didalam majelis walisongo, terjadi perdebatan sunan bonang dengan sunan giri yang merupakan penasehat demak.

Lalu mana yang benar, demak sebagai titisan turki (versi sultan) atau titisan cina (versi damar)?. Bahkan Cerita lain muncul dalam buku "arus balik" pram menyebut adanya kerjasama demak dan portugis di pelabuhan tuban toak city.

Mari kita lihat, Gus dur semasa hidup pernah menemukan makam Syech Jumadil kubro yang tak lain adalah ayah dari syech maulana malik ibrahim dan syech maulana ishaq di troloyo mojokerto. Jika benar, maka makam leluhur walisongo adalah bukti islam telah berkembang jauh sebelum dwarawati, jauh sebelum sirna ilang kertaning bumi 1400 saka.

Sebagai Sungai terpanjang di tanah jawa, Aliran air bengawan solo yang berasal dari gunung lawu kemudian Bermuara di kota santri gresik (giri kedaton). Tersirat sebuah makna bahwa bengawan solo bukan hanya mengantarkan barang serta manusia, melainkan bertemunya dua entitas yang diantagonismekan, kubu merah dan kubu putih.

Dengan kata lain, bengawan solo telah menunjukkan ikatan erat merah putih melalui sosok panembahan senopati yang merupakan muara darah prabu brawijaya melalui ki ageng pamanahan dan sunan giri dalam sosok nyai sabinah. Jadi, apakah sekutu sabdo palon akan berhasil membelah pulau jawa kedua kali? Benarkah wong jowo kari separo, wong cino sejodo"? kita lihat apakah merah dan putih akan bersatu.[***]

 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...