24 August 2019

Mendedah Kebengisan dan Kebiadaban PKI

Penulis bukanlah pelaku sejarah, tetapi untuk mengetahui peristiwa dimasa lalu, dari jalur periwayatan yang dapat dipercaya -serta setumpuk bukti dokumen sejarah- akhirnya Penulis dapat sampai pada keyakinan tentang sejarah kelam kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI). Beberapa bulan yang lalu, penulis juga berkesempatan keliling Jawa timur dalam agenda diskusi sosial dan politik, saat itu penulis hadir sebagai salah satu nara sumber Prof Aminudin Kasdi, sejarahwan yang paham betul rincian sejarah kebengisan PKI.

Malam ini, detik-detik pemutaran film tragedi G-30 S/PKI yang diputar di salah satu stasiun TV Nasional. Meski sempat urung diputar, alhamdulilah akhirnya akan tayang juga.

Dalam suasana kontemplasi dan perenungan terhadap kondisi keumatan dan kebangsaan, kondisi perseteruan politik yang makin tajam menjelang pemilu, maraknya bencana alam yang menimpa negeri ini, penulis mencoba mengingat kisah yang diceritakan dalam film tersebut. Film fenomenal, yang bagi siapapun yang pernah menontonnya setidaknya akan mampu memetik beberapa hikmah.

Pertama, film ini menggambarkan betapa sejarah perjalanan bangsa ini pernah dinodai oleh peristiwa kelam yang didalangi PKI. Ideologi sosialisme komunisme, dengan akidah materialisme historis dan perjuangan kelas, memberi legitimasi pembunuhan dan pembantaian atas dalih menyongsong fase revolusi menuju cita idealisme masyarakat komunis.

Sebuah tatanan masyarakat yang diimpikan sebagai masyarakat tanpa kelas, tanpa penindasan, tanpa eksploitasi, masyarakat sejahtera yang adil dan makmur. Anehnya, untuk mencapai cita idealita itu, sosialisme komunisme justru menghalalkan pembantaian dan penindasan 'kelas tertentu' yang dianggap sebagai kelas penindas.

Sebuah parade 'pembunuhan masyarakat  sipil dan pembantaian jenderal militer' yang dilakukan tanpa kenal ampun, tidak tersisa welas asih, tak tersisa sisi-sisi kemanusiaan, dilakukan secara biadab dan tidak terfikirkan oleh jiwa dan akal sehat manusia. Sisi ini adalah sisi utama, dari parade pembantaian yang menjadi epic utama film yang mudah dikenang bagi siapapun yang pernah menontonnya.

Kedua, kekuasaan politik menjadi sarana menuju apa yang mereka sebut 'masyarakat komunis'. Aneh, demi menuju tujuan masyarakat tanpa kelas, PKI mengambil kekuasaan politik yang dalam keyakinan mereka akan membelah kelas antara 'rakyat' dan kelas 'penguasa'. Sebenarnya, realitas ini menunjukan bahwa ide 'komunisme' itu utopis. 

Sebelum masyarakat bertransformasi menuju komunisme, mereka meyakini ada fase 'negara'. Itulah sebabnya, Uni Soviet dahulu menyebut dirinya sebagai negara Sosialis, bukan komunis. Komunisme meniscayakan 'penghancuran negara' sebelum akhirnya menuju masyarakat tanpa kelas. 

Celakanya, PKI dan negara sosialis komunis lainnya justru menjadikan negara sebagai sarana untuk menindas dan mengeksploitasi rakyat. Apa yang dilakukan PKI dengan dalih revolusi untuk menuju cita komunisme, memaksa dan memberontak mengambil alih negara dengan revolusi berdarah, justru menindas masyarakat atau kelas lainnya.

Ketiga, komunisme PKI identik dengan keyakinan atheisme. Karena itu, dalam sejarah sosialisme komunisme dibelahan bumi manapun, agama selalu menjadi musuh utama komunisme. Tak heran, korban keganasan PKI selain Jenderal militer, adalah tokoh agama yakni para ulama dan Kiyai.

Karena itu, penting untuk mengingatkan generasi anak bangsa ini atas bahaya kebangkitan Neo PKI. Kenapa demikian, karena ideologi tidak pernah mati. PKI telah dibubarkan, dinyatakan sebagai partai terlarang, ajarannya dinyatakan bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45 berdasarkan TAP MPRS No. XXV/1966.

Namun sebagai sebuah ideologi, sosialisme komunisme bisa bangkit dalam wadah baru, menempel pada wadah lain, atau menyiapkan diri melebur wadah lama dan wadah baru kedalam sebuah gerakan yang disebut 'Neo PKI'. Atribut PKI yang marak ditemukan, kebanggaan atas sejarah kelam PKI, peristiwa pembunuhan ustadz, kriminalisasi ulama, setidaknya dapat menjadi parameter deteksi dini atas potensi kebangkitan Neo PKI.

Penulis menduga kuat, militer telah memahami dan mengendus kuat aroma kebangkitan Neo PKI. Hanya saja, bagaimanapun kekuatan militer dibawah kendali kekuasaan politik. Apalagi, setelah kekuasaan militer 'dipreteli' pasca reformasi.

Jika kekuasaan politik itu tidak memiliki 'Visi dan Perspektif' yang sama terhadap isu ini, tidak memiliki frekuensi ysng sama melihat ancaman ini, maka satu-satunya kekuatan yang mampu menyelamatkan adalah kekuatan umat Islam. Kembali, peranan ulama memiliki andil besar dalam mengantisipasi persoalan ini.

Militer pada akhirnya juga akan melihat situasi politik -khususnya arah bandul kesetimbangan kekuasaan- antara rakyat dan penguasa. Jika penguasa ringkih dan rakyat semakin kuat, militer dapat secara terbuka mengambil opsi berdiri disamping rakyat untuk memerangi gejala kebangkitan neo PKI. [].

_________

Oleh: Ahmad Khozinudin, SH 

 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...