22 July 2019

Membedah Strategi Promosi ala PSI

Oleh: Tb Ardi Januar

Pemilu 2019 nanti ada partai baru, namanya Partai Solidaritas Indonesia alias PSI. Katanya sih partai anak muda, tapi rumor lain yang beredar operator partai ini tetap dikendalikan orang tua alias muka lama.

Slogan yang mereka usung tentang pluralisme, seakan negeri ini sedang darurat toleransi. Padahal setiap hari kita hidup berdampingan tanpa memandang suku dan agama. Agar terkesan gaul, mereka memanggil “Bro” dan “Sis” kepada sesama kader. Mirip sapaan pedagang di online shop.

Mereka memiliki cara unik untuk melakukan promosi dan mengendorse kader-kadernya. Salah satu caranya adalah menyerang pihak lain yang memiliki nama besar. Dengan terbangunnya polemik perdebatan, terangkat pula popularitas dan eksistensi mereka.

Mari kita bedah sepak terjangnya. Anda kenal Tsamara Amani? Momentum apa yang membuat dia terkenal? Yup, Tsamara muncul setelah muncul videonya menantang debat Fahri Hamzah soal Pansus KPK.

Sejak saat itu, perempuan yang pernah menikah seumur jagung ini mendadak terkenal. Follower-nya bertambah dan kerap muncul di media massa. Tsamara seolah satu-satunya anak muda yang melek politik. Padahal di luar sana begitu banyak srikandi yang berkeringat bersama rakyat.

Belakangan juga ada nama Rian Ernest yang tiba-tiba muncul karena menyerang Anies Badwedan perihal TGUPP di Pemprov DKI. Mantan staff ahli Ahok ini sudah kadung menyerang Anies tanpa mengkaji lebih dalam antara peran staf ahli dan TGUPP.

Anies tidak hirau. Dia tetap menjalankan rencananya dengan mengangkat sejumlah pakar dan ahli di bidangnya. Tidak ada satu pun aturan yang dia tabrak dan disalahgunakan. Sementara Rian Ernest tak lagi bersuara. Setidaknya lumayan dia sempat dapat panggung orasi dan mempromosikan PSI.

Dan semalam modus operandi yang sama kembali terulang. Kali ini pelakunya Sekjen PSI bernama Raja Juli. Dalam acara talk show ILC membahas MCA, dia yang diminta menyatakan pendapat dan gagasan malah lebih khusyuk menyerang pribadi Fadli Zon dan keberadaan partai oposisi.

Saat didebat Fadli, dia tidak menjawab hal esensi, malah berkata “siap dilaporkan ke polisi”. Sontak pria yang berparas mirip aktor pemeran Ucup di serial Bajaj Bajuri ini menjadi buah bibir di sosial media. Sayang, respons netizen cenderung negatif menilai kualitas isi kepalanya.

Sebagai partai pendatang baru, PSI membutuhkan eksistensi untuk meraih citra dan mendulang suara. Tapi, kebanyakan publik belum mengetahui action dan sepak terjang partai ini, selain menjadi die hard-nya Ahok di Pilgub DKI Jakarta lalu.

Berdasarkan hasil survei CSIS seperti yang dimuat Kompas beberapa waktu lalu, popularitas PSI masih menempati posisi paling buncit alias nomor 15. Kalah bersaing dengan Perindo sebagai sesama pendatang baru. Bahkan untuk urusan elektabilitas, PSI sama sekali tidak tercantum.

Dalam survei tersebut juga dikatakan, bahwa eksistensi PSI hanya masih sebatas di perkotaan belum menyentuh tingkat daerah. Statmen ini saya amini karena belum pernah melihat kantor partai ini selama berkunjung ke berbagai daerah.

Lantas akankah pada Pemilu 2019 nanti PSI mendapat tempat di masyarakat? Entahlah, untuk meraih ambang batas parlemen (parliamentary threshold) agar masuk Senayan saja rasanya kurang yakin.

Hanya sedikit saran buat Bro dan Sis, kalau PSI ingin terkenal dan mendapat tempat di hati rakyat, jadilah oposisi sejati. Himpunlah kalangan milenial untuk menjadi mulut dan telinga rakyat.

Berkeringat dan bersuaralah bersama rakyat yang tengah menjerit karena kondisi hidupnya kian terhimpit. Bukan malah menjadi humas kekuasaan yang bolak-balik masuk istana.[***]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...