25 November 2017

Membandingkan Sri Mulyani dan Amangkurat II

SRI Mulyani dengan Amangkurat II ternyata seperti punya kemiripan. 

Amangkurat II raja yang lemah hati yang berpihak kepada VOC dan karenanya dia naik takhta jadi raja dengan barter pelunasan utang, menggadaikan pelabuhan seperti Semarang, dan memberikan berbagai macam konsesi kepada asing untuk menguasai sumber daya alam ketika itu.

Dalam konteks sekarang Amangkurat II menyukai pencitraan. 

Untuk menyenangkan tuan-tuan asing dan tuan-tuan aseng Amangkurat II kerap memakai baju-baju dinas ala Eropa dan menyebut dirinya Admiral. Tetapi lidah rakyatnya yang lugu mengejanya Sunan Amral.

Sri Mulyani belum lama ini mengatakan; ‘’Kenapa takut mengutang? Harta kita masih banyak...’’ (Kompas.com, 11/8/2017). 

Seperti diketahui, utang pemerintah kini semakin menggunung, gunung utang yang telah menembus ketinggian yang sangat mencemaskan, mencapai Rp 3.667 triliun per 30 April 2017. Naik Rp 201 triliun dibandingkan posisi Desember 2016.

Perkataan Sri di atas bukan cuma memperlihatkan mindset yang menggampangkan persoalan, tetapi juga menunjukkan ciri karakter yang mirip Amangkurat II, mengobral harta negara yang merupakan kepunyaan rakyat kepada asing. Ciri lain yang terlihat dari pernyataan Sri adalah kesan ingin lari dari tanggungjawab karena tidak punya cara lain atau terobosan untuk dijadikan solusi.

Bung Karno punya istilah untuk pejabat dengan ciri karakter seperti ini yaitu alap-alap asing. Antek-antek asing yang bagaikan‘’paper tissues which one uses once and then throws away’’, dipakai cuma sekali, terus dibuang seperti sampah...

Sri yang pernah jadi pejabat World Bank di tengah meriahnya Skandal Century, yang coraknya American Style, NEOLIBERAL TULEN, dan yang dipuja sampai ke dalam mimpi oleh media-media yang menobatkannya dengan berbagai gelar ternyata feodal belaka. Di zaman feodal raja dan para pejabat menganggap harta kekayaan negara adalah harta pribadi, dan kalau utang menumpuk maka bebannya ditimpakan kepada rakyat. Aset negara dijual seenaknya persis seperti menjual harta pribadi.

Sri juga menganalogikan utang ibarat kartu kredit. Intinya dia mengumpamakan utang seperti seseorang saat mengajukan kartu kredit, disesuaikan dengan limit maksimal, dengan kemampuan membayar.

Dalam realitas sehari-hari kartu kredit bagi masyarakat kelas menengah ke bawah ternyata sangat berisiko. Bunga kartu kredit sangat tinggi, sekitar 30 persenan. Analogi yang dipakai Sri bahwa utang seperti kartu kredit sama artinya Indonesia di bawah dia sebagai Menkeu selama ini‘’seperti karyawan pas-pasan dengan kartu kredit limit tinggi...’’

Banyak yang mengatakan Sri Mulyani sebagai Menkeu sebenarnya sudah limbung, sudah sempoyongan dan tidak sanggup mengatasi berbagai persoalan perekonomian nasional saat ini, karena itu sekarang dia senang bertamsil-tamsil, beribarat-ibaratan, main pencitraan hingga ikut dalam berbagai press conference kasus-kasus penangkapan narkoba dan penyelundupan yang sebenarnya bukan merupakan fokus dia.

Durasi pemerintahan Presiden Jokowi dalam periode pertama ini yang hanya sekitar dua tahun lagi kemungkinan tidak akan terisi oleh perbaikan perekonomian nasional dengan reputasi yang signifikan dan memuaskan rakyat kalau masih tetap mempertahankan Sri Mulyani di kabinet. Presiden Jokowi diharapkan supaya segera melakukan retooling kabinet.

Istilah retooling kabinet adalah istilah Presiden Sukarno, sebagai kata lain dari reshuffle kabinet. Maknanya dalam dan bersungguh-sungguh. Retooling berarti mengganti menteri-menteri atau aparatur-aparatur yang sudah tidak sesuai dengan amanat penderitaan rakyat, terutama menteri di bidang ekonomi.

Untuk mencapai kejayaan dan kemakmuran dalam bidang ekonomi dan politik Bung Karno juga mengingatkan bahwa rakyat senantiasa dihalangi oleh ‘’12 jenis setan’’. 

Dua di antaranya adalah SETAN EKONOMI LIBERAL/NEOLIBERAL dan setan korupsi. Setan-setan inilah yang akan menerkam kita di dalam Inferno, yang membawa kebangkrutan dan kemunduran bagi Indonesia Raya. 

Hendaknya hembusan kabar akan dilakukannya reshuffle kabinet dalam beberapa hari ke depan dapat menghasilkan kenyataan berupa perbaikan bagi harkat kehidupan rakyat secara keseluruhan, semoga Tuhan menuntun Presiden Jokowi, dijauhi dari segala ‘’jenis setan’’ sebagaimana yang telah diingatkan oleh Bung Karno. ***
____________________
Oleh: Arief Gunawan, Wartawan Senior 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...