17 November 2019

Logika Santri

Oleh: Taufik Sentana

 

Kata logika merujuk pada makna penggunaan nalar dan perspektif dalam melihat masalah dan kemungkinan penyelesaiannya. Saya sebut kemungkinan karena kepastian hanya milik Yang Maha Mutlak (Al-Haq). Begitulah salah satu model berpikir keseharian kaum santri, yang kemudian menjadi budaya logika mereka.

Sedangkan dari sudut tingkatan berpikir, seni dan orientasinya, kaum santri pun memiliki proses nalar tersendiri. Mungkin ini sebab dari pengaruh lingkungan (termasuk ustaz/kyai) dan apa yang mereka lahap dan cerna dari kitab-kitab. Maka sejak awal Risalah Islam masa Rasul dan sahabat hingga tersebarnya Islam di Nusantara, tak terlepas dari peran kaum "santri".

Antara tafaqquh dan angkat senjata

Merekalah kaum yang diharapkan dapat menjadi pencerah di tengah umat, menjadi perekat dan penerus estafet risalah. Pada kondisi ideal kaum santri memang tidak mengambil jalan angkat senjata dan lebih fokus pada tafaqquh fiddin. Akan tetapi, dahsyatnya, mereka bisa angkat senjata kapan saja. Kenapa? Karena yang mereka tahu dan pelajari, semua makhluk "menjadi" tentara Allah, bisa menjadi senjata, tameng dan penakluk musuh: itulah logika mereka.

Bila ada di antara kaum santri yang tidak menunjukkan perilaku ideal kesantrian, maka jawab mereka pula: para santri berbeda level atau maqam dalam menapaki ilmu santrinya. Bisa karena beda guru, lokasi nyantri dan kultur, termasuk beda dalam kitab tertentu yang dipelajari. Sehingga berbeda pula karekter santri yang terbentuk.

Misalnya, sebagian pesantren secara murni mempelajari kitab-kitab bermazhab Syafi'i. Sebagian lagi mempelajari semua kitab mazhab secara bertahap, atau mempelajari seni bermazhabnya. Adapun di lain pesantren, hanya murni mempelajari satu mazhab tertentu. Dari sinilah logika-logika itu dikonstruksi menjadi kebudayaan yang lebih tinggi lalu membuahkan peradaban Islam kontemporer. Dengan catatan, tetap berpegang pada salafussalih, era tiga ratusan tahun sejak wafatnya nabi kita. Inilah era imam mazhab yang masyhur. Dengan alur ini, keautentikan Islam akan selalu relevan dan segar serta menumbuhkan daya berpikir, kreativitas dan perbaikan masyarakat, termasuk toleransi dan sikap rahmat terhadap penjuru alam.

Merawat logika dalam pergeseran nilai

Sungguh, ini hanyalah pengantar bagaimana kaum santri membangun logika sendiri dalam memaknai lingkungan dan kehidupan secara umum. Demikian pula halnya saat para santri berinteraksi dengan sekitar mereka dalam keseharian, semua bermuara dari "logika" yang kita maksud dalam pembahasan di atas.

Ketika terjadi debat perihal shalat dan hukum-hukumnya, seseorang bisa saja datang menghentikan debat itu hanya dengan berucap: "Apakah kalian sudah shalat?"

Untuk meredam rasa duka yang berat karena jauh dari keluarga tercinta, kaum santri senang menyebut diri mereka sedang berada di "penjara suci". Kepada santri yang tinggal kelas, sang ustaz hanya berkata, "mau pilih kelas atau ilmu?" Maka si santri pun akan rela tinggal kelas, hingga tak jarang ada yang berulang kali tinggal kelas, tapi tetap bertahan juga.

Dari yang penulis alami dan amati, logika tersebut tumbuh secara murni berdasarkan kognisi dan cara mencerdasi peristiwa yang tidak melanggar rambu syariat. Beberapa peristiwa tersebut biasanya menjadi hiburan antarsantri saja: untuk perkara mandi,  karena mereka selalu mandi bersama pada waktu yang bersama pula, maka teknik menghemat sabun adalah dengan "memotongnya" menjadi beberapa bagian kecil (ada yang sekecil dadu) untuk dipakai sekali mandi dan ditinggal hingga habis. Sebab rawan juga bila berbagi sabun, bisa berbagi kemungkinan penyakit kulit.

Adapun di bagian puncaknya adalah bahwa logika santri tersebut akan sangat potensial berbenturan dengan arus modernitas, teknologi, gaya hidup global. Kerancuan dalam hal ini, bisa berakibat pada pupusnya peran santri sebagai pencerah umat, penerus risalah pada profesi apapun yang mereka geluti dalam masyarakat.

Selamat menyambut Hari Santri Nasional.[]

*Taufik Sentara

Khatam dari pesantren Darul Arafah Medan, 1996. Penulis dalam buku antologi khas santri "Berani Hidup tak Takut Mati" dan "Logika Kearifan Hidup: Menerobos Modernitas" (Ikatan Keluarga Alumni Darul Arafah). Komentator pada buku "Bangga Jadi Santri" Yayasan Misbahululum Lhokseumawe, Aceh.
Dedikasi untuk ayah dan mak, keluarga, asatiz dan sahabat sekalian.(jft/Pojoksatu)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...