16 October 2019

Lieus Sungkharisma dan Kebangkitan Nasional Kedua

Oleh:  Dr. Syahganda Nainggolan

 

 

  Alhamdulillah, April tanggal 9 tahun ini,  saya menyusul Hariman Siregar dan Lieus Sungkharisma ke Solo.

Tanggal 10-nya akan ada pidato Prabowo pada acara kampanye di lapangan Sriwedari. Katanya akan ada lautan massa.

Keterbatasan dana dan mahalnya harga tiket membuat saya bingung malam ketika tiba di Solo. Saya akan tidur di mana? Hotel mahal sudah tidak terjangkau lagi dengan bengkaknya kartu kreditku. Galau, namun saya mendampingi saja Hariman, Lieus dan Modrick meninjau lapangan di malam hari.

Sekembali ke hotel mereka, Sahid, di ruang lobi, kami masih mengobrol satu jam. Lieus bilang ke saya, kamu di kamar saya aja tidur. Kita bisa berdua. Hariman biar sendiri.

Itulah Alhamdulillah maksudku. Bukan saja saya sudah kesulitan uang selama lima tahun melawan  rezim Jokowi, tiba-tiba masih bisa nginap di hotel nyaman, tapi juga saya bisa bersama Koh Lieus,  tokoh Tionghoa yang saya kagumi.

Hubungan saya dengan Lieus mulai terbangun sejak dia mulai menantang Ahok di Jakarta, sekitar 2015. Lius mulai dengan gerakan "Kamsia Ahok". Namun, kala itu dia masih memuji Jokowi.

Saya dan dia berbeda di 2014. Saya tidak suka Jokowi, sedangkan Lieus adalah pendukung utama Jokowi, dan tadinya juga Ahok.

Dalam soal Ahok, kami mempunyai kesamaan menilai bahwa Ahok sok kuasa semena-mena,  khususnya dalam penggusuran-penggusuran rakyat kecil demi kepentingan kaum bisnis properti. Dalam menentang Ahok, Lieus sering bersama tokoh Tionghoa lainnya, Jaya Suprana  juga ada Zeng Wie Jian.

Sedang saya bersama Bursah Zarnubi (Bursah akhirnya jadi pendukung Jokowi) membangun posko "Lawan Ahok".

Namun, pada masa itu ketika saya mengatakan pada Lieus bahwa Ahok dan Jokowi satu paket alias Jokowi yang selalu me-back up Ahok. Lieus masih terus membela Jokowi.

Pergeseran politik Lieus terhadap Jokowi mungkin terjadi pada saat Pilgub DKI. Dukungan Jokowi yang membabi buta terhadap Ahok saat itu membuat Lieus semakin meninggalkan rezim Jokowi.

Di samping itu,  Lius semakin dekat dengan kelompok Islam militan. Di mana Lieus mempersepsikan kelompok Islam ini mengalami alienasi dan penyingkiran politik oleh rezim Jokowi.

Untuk yang terakhir ini, kelihatannya menjadi ciri khas Lieus, yang selalu ingin dekat dengan masyarakat yang ditindas.

Tanggal 10 April pagi, saya dan Lieus berjalan berdua memutari lapangan Sriwedari. Ribuan massa yang duduk-duduk di pinggir lapangan berteriak-teriak dan mengejar Lieus minta berfoto, ada juga yang selfie.

Hampir satu jam lebih saya harus menemani Lieus yang memang sudah menjadi apek-apek (kakek-kakek) dengan sabar melayani semua orang. Orang-orang Jawa itu ada yang dari Solo dan ada dari luar Solo. Segala pose dan selfie dilayani dari satu kelompok ke kelompok lain.

Ada juga seorang perempuan luar Solo, yang terpisah dari rombongannya menyempatkan diri selfie. Namun, beberapa hal yang saya catat benar adalah pernyataan mereka bangga lihat Lieus yang orang Tionghoa mau berjuang.

Fenomena Lieus dalam perjuangan saat ini adalah kehadiran Lieus ketika masyarakat, khususnya masyarakat Islam dan lebih khusus lagi kelompok Prabowo, sudah menjadikan tema anti Asing dan Aseng sebagai kata-kata perjuangan.

Tema anti asing jelas arahnya, namun tema anti-aseng dapat bermakna ganda, yakni RRC dan China-Indonesia. Terhadap China-Indonesia, pimpinan 212 mengarah pada istilah 9 Naga.

Dengan kehadiran Lieus Sungkharisma, yang menjadi bagian inti gerakan anti Jokowi, persepsi anti-Aseng tentu akan mendapatkan diskursus yang tepat.

Pertama, sentimen anti-Aseng tidak menjadi bias pada persoalan ras, melainkan akan menjadi persoalan kecemburuan sosial dan ketimpangan.

Kedua, anti-Aseng akan bersifat lokal apabila China-Indonesia tidak mempunyai konspirasi politik dengan RRC melalui program OBOR (Belt and Road Initiative).

Sekali lagi, karena ketokohannya dan sejarah perjuangannya, kehadiran Lieus dalam perjuangan kelompok-kelompok Islam militan dan #2019GantiPresiden, tentunya dapat membangun sebuah konstruksi Kebangkitan Nasional kedua.

Kebangkitan Nasional di masa lalu adalah klaim kebangkitan pribumi mengusir penjajahan. Sampai 73 tahun Indonesia Merdeka, segregasi masyarakat pribumi versus nonpribumi keturunan Tionghoa dirasakan semakin jauh. Sebab, misalnya kehadiran orang-orang Tionghoa dalam berpolitik tidak dimasukkan dalam agenda affirmative policy bagi kesejahteraaan pribumi.

Misalnya, seperti sedang terjadi di Afrika Selatan dan Malaysia. Melainkan, tetap saja mempertahankan status quo oligarki ekonomi dan kesenjangan sosial. Situasi sosial yang selalu dipertahankan kekuatan anti kebaikan.

Penutup

Sejarah bangsa kita adalah sejarah pengkhianatan demi pengkhianatan. Berkuasanya negara kecil Belanda selama 350 tahun di bumi ini bukan karena mereka hebat,  tapi kitalah yang lemah. Kelemahan itu bersumber dari masalah keberanian dan pengkhianatan.

Di antara perebutan pengaruh dunia, Barat vs RRC di kawasan Pasifik, khususnya Indonesia.

Indonesia hanya bisa dihargai jika kekuatan bersama rakyat dibangun. Hal itu hanya bisa maksimal jika semua unsur rakyat saling memperkuat. Dan keadilan, khususnya ekonomi dijalankan.

Fenomena Lieus Sungkharisma mewakili kalangan Tionghoa dalam perjuangan keadilan dan demokrasi, semoga menjadi jalan Tuhan agar bangsa kita ke depan menemukan kekuatan besarnya sebagai bangsa kuat, solid dan mampu disegani.

 

Teriring doa, semoga Koh Lieus sabar dan tabah di penjara dalam menghadapi tudingan makar. Semoga Allah bersamamu...

*Penulis: Dr. Syahganda Nainggolan, Ketua Sabang - Merauke Circle

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...