28 March 2020

KPU dan Pemilu Gagal, Anggapan Prematur 'Logika Murahan'

Oleh: Gunadya Devan

Ah, hati ini makin panas saja mendengar celotehan Ketua Komisioner KPU, Arief Budiman, kemarin sore. Kata dia, belum ada indikator kuat pemilu serentak di Indonesia gagal dan penuh kecurangan. 

Alih-alih mundur dari jabatannya Arief Budiman kok melontarkan pernyataan ngawur. Dia meminta semua pihak menunggu hasil sebelum menyebut pemilu gagal. Lah, hasil apa?
 
Ini seperti 'permainan logika' murahan yang coba diutarakan Arief Budiman. Pertama mari kita telaah soal pernyataan Arief yang menyebut kegagalan pemilu hanyalah 'anggapan prematur' segelintir pihak.

Faktanya, Arief memang meminta semua pihak menunggu hasil. Ya, hasil penghitungan yang saat ini terus digeber KPU. Pertanyaannya, apakah hasil pemilu menggambarkan gagal atau berhasilnya proses demokrasi ini? 

Gagal atau tidaknya KPU menyelenggarakan pemilu sudah tampak di pelupuk mata bahkan beberapa jam setelah penghitungan suara. Indikatornya jelas!

Contoh, kotak suara dari kardus yang menuai polemik di masyarakat. Banyak yang tak setuju dengan langkah 'aneh' KPU menggunakan kotak suara berbahan kardus. Harusnya itu sudah jadi satu indikator kegagalan. Ya, kegagalan KPU meyakinkan masyarakat soal penggunaan dana pemilu yang mencapai Rp25 triliun lebih! 

Contoh lain soal logistik yang datang terlambat di beberapa daerah dalam dan luar negeri. Dua provinsi Papua dan Maluku yang paling terkena imbas kasus ini. 

Di Kota Jayapura, sampai 10.15 waktu setempat logistik tak kunjung tiba di TPS. Alhasil, Gubernur Papua Lukas Enembe urung menggunakan hak pilihnya di TPS 043, Kelurahan Argapura, Distrik Jayapura Selatan. Apa ini nggak memalukan?

Di Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, sampai siang hari pemungutan suara belum juga dilakukan lantaran logistik belum tiba. Di kecamatan Tanimbar Selatan, ada 90 TPS yang tersebar di 9 desa. 

Belum cukup indikator KPU gagal mengelat pemilu mari bicara soal surat suara tercoblos. Di TPS 42 Desa Jenetalasa, Pallangga, Kabupaten Gowa, pemilihan terpaksa dihentikan. Penyebabnya, ada surat suara yang sudah tercoblos untuk capres nomor urut 1, Jokowi-Ma'ruf. 

Belum cukup bagaimana soal salah input data C1? Arief selalu beralibi hal tersebut karena Human Error. Kata dia, petugas penginput data kelelahan! Yaelaaaaah, apa dengan dana besar dari pemerintah KPU nggak sanggup bayar banyak orang yang teliti. Apa yang nginput data itu begadang seharian?

Sudahlah, kegaduhan di negeri ini makin menjadi-jadi saja. Bahkan situasi tak malah mendingin ketika Ketua KPU bicara di sana-sini. Atau mungkin dan bisa jadi pilihan bijak saat ini, adalah mundurnya Arief Budiman dari kursi Ketua Komisioner KPU. 

Tapi ebelum mundur akui dulu dia telah gagal menghelat pesta demokrasi. Mungkin dengan begitu, hati masyarakat Indonesia yang kecewa bisa sedikit terobati.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...