21 November 2018

Konsistensi, Kebohongan dan Propaganda Jahat

Oleh: Dina Wachid

Heboh jagad maya dan nyata ketika beredar video pembakaran bendera berlafadzkan tauhid pada peringatan Hari Santri Nasional oleh beberapa oknum Banser. Menimbulkan gejolak di tengah masyarakat, khususnya umat Islam. Mayoritas umat mengecam, sangat menyesalkan dan tidak terima atas perbuatan para pelaku tersebut. Para pelaku mengaku melakukan aksinya karena ingin memurnikan tauhid pada bendera yang mereka klaim sebagai bendera HTI. GP Ansor sebagai organisasi induk banser sudah pasti membela anak buahnya. Sang pimpinan ngotot bahwa bendera yang dibakar adalah bendera HTI, sambil mengklaim bahwa ormas ini sudah dibubarkan dan menjadi organisasi terlarang. Oleh karena itu segala atributnya juga harus dilarang dan dimusnahkan.

Pemerintah tak ketinggalan menyampaikan hal yang senada. Bahkan dimunculkan narasi bahwa tidak akan ada pembakaran bendera jika tidak ada yang membawa dan mengibarkannya di acara tersebut. Dengan menyebutkan bahwa bendera tersebut adalah bendera HTI. Juga meminta masyarakat untuk tidak terpengaruh oleh HTI yang akan mempolitisasi peristiwa ini.

Pernyataan bahwa bendera tersebut adalah milik kelompok terlarang, terus disampaikan oleh para pembela pembakaran bendera tersebut. Media yang pro dengan mereka juga terus-menerus menggoreng cerita menurut versi mereka. Tentu seraya terus mengkambing hitamkan HTI.

Ada banyak kebohongan yang terlontar. Nampak sekali dengan kebohongan itu, mereka mengelak dari tuduhan dan kecaman. Plus melakukan propaganda jahat terhadap HTI. Seperti ungkapan sekali mengayuh dayung, 2-3 pulau terlampaui. Mereka selamat dari kebencian masyarakat mayoritas (muslim) yang anti pembakaran, sekaligus berhasil menjadikan HTI sebagai  musuh bersama.

Kebohongan dan Propaganda 

Propaganda bermakna penerangan (paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu. Propaganda dirancang secara sengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan mempengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda.

Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk mempengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya. Tujuan dari propaganda adalah mengubah pikiran seseorang atau masyarakat untuk kepentingan tertentu.

Melakukan sebuah propaganda jahat, mengharuskan kelompok ini terus melakukan kebohongan besar. Setidaknya ada tiga yaitu Pertama, bahwa HTI sudah dibubarkan. Pada faktanya, HTI tidak dibubarkan, hanya dicabut badan hukumnya. Meski demikian, anggotanya masih bisa melakukan setiap kegiatan apapun, masih memiliki hak seperti warga Negara yang lainnya seperti berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat. Selain itu mereka juga berhak mendapat perlindungan hukum, jaminan keamanan dan rasa aman, sebagaimana dijamin konstitusi.

Satu-satunya hak HTI yang sementara hilang adalah hak sebagai subjek hukum selaku badan hukum perkumpulan Ormas, artinya setiap kegiatannya tidak bisa lagi atas nama HTI.

Kedua, HTI adalah ormas terlarang karena sudah dibubarkan oleh pemerintah. Ini juga menunjukkan ketidakpahaman akan hukum. Legalitas badan hukum HTI dicabut bukan berarti organisasi ini bubar dan tidak bisa berkegiatan, apalagi distigma sebagai ormas terlarang. Lebih parah lagi disamakan dengan PKI!

PKI memang dilarang menurut hukum dan undang-undang Negara ini. Menyamakan HTI dengan PKI sungguh suatu pemikiran yang keji dan tidak paham sejarah. PKI sudah jelas dilarang karena sudah berkali-kali melakukan pemberontakan yang disertai pembunuhan. Yang tidak mengakui adanya Tuhan dan menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya. Selain itu ajarannya bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Komunisme, Leninisme, dan Marxisme dilarang di negeri ini.

Sementara HTI adalah organisasi dakwah yang mengajak kepada kebaikan, yang menyeru kepada ajaran Islam secara kaffah. Dalam setiap aktivitasnya selalu terbuka diikuti oleh banyak massa. Siapapun boleh ikut, tidak dipungut biaya. Tidak pernah sekalipun anarkis dan melanggar hukum. Walaupun begitu, justru sering diganggu agendanya dan dipersekusi para aktivisnya.

Ketiga, bahwa HTI memiliki bendera. Tidak pernah sekalipun HTI menyatakan bahwa mereka memiliki bendera. Bisa dicek pada AD/ART mereka yang ada di Kemenkumham. Memang di setiap kegiatan yang mereka lakukan selalu ada bendera hitam dan putih, bertuliskan kalimat tauhid. Itu adalah Ar royah dan Al liwa’. Sebagai cara untuk mengenalkan kepada umat tentang bendera dan panji Rasulullah. Ar royah yang berwarna hitam dan al liwa’ yang berwarna putih. Ada dalilnya. Ada haditsnya. Bukan karangan sendiri. Keduanya berlafadzkan tauhid. Keduanya adalah milik umat Islam seluruhnya. Bukan monopoli kelompok tertentu. Itulah panji Rasulullah yang menjadi lambang persatuan umat Islam sedunia.

Konsisten Berbohong dan Konsisten Berdakwah

Konsistensi adalah ketetapan dan kemantapan dalam bertindak. Konsistensi berasal dari kata dasar konsisten yaitu kata sifat yang bermakna tidak berubah-ubah, taat asas, teguh pendirian atau juga bisa bermakna sesuatu yang selaras.

Konsistensi sebenarnya memiliki maknya yang netral. Namun akan menjadi negatif atau positif, tergantung pada konteksnya. Misalnya, “konsisten berbuat baik”; maka arti yang dikandung menjadi baik pula. Sebaliknya jika”konsisten berbuat buruk”; maka makna yang dihasilkan akan berubah menjadi negatif.

Kalau kita terpakan pada kasus ini, kelompok yang sedang disudutkan itu terus konsisten dengan apa yang mereka sampaikan pada umat dalam banyak kesempatan. Tak pernah sekalipun menyatakan bahwa mereka membuat atau memiliki bendera khusus. Yang selalu mereka pakai dan bawa pada setiap kegiatan adalah bendera dan panji Rasulullah. Tidak pernah juga mereka mengklaim bahwa ar royah dan al liwa’ sebagai bendera kelompok mereka.

Mereka terus konsisten melakukan Dakwah pemikiran, yangmenjadi ciri khas mereka. Merubah pemikiran umat yang terkungkung sekulerisme dan kapitalisme beralih kepada pemikiran yang berlandaskan akidah Islam. Membangkitkan umat yang mengalami kemunduran dengan mengajak berfikir secara cemerlang. Memahamkan akar masalah yang menjadi sumber segala problematika umat dan bagaimana meraih kehidupan yang mulia dalam segala aspek. Berfikir secara kritis menyikapi permasalahan yang tengah dihadapi umat di jaman sekarang ini. Sekaligus menemukan solusinya. Bahwa dengan kembali kepada Islam adalah jalan satu-satunya umat untuk bisa terlepas dari jeratan sistem rusak yang menghinakan mereka sampai pada titik terendah. Semua itu menjadi keunikan yang nampak pada setiap anggotanya.

Sedangkan pihak-pihak pembela pembakaran bendera tersebut ngotot dan konsisten menuduh bahwa HTI punya bendera dan yang dibakar di Garut pada peringatan hari santri nasional itu adalah bendera HTI. Sambil terus mengulang-ulang kebohongan bahwa HTI adalah organisasi terlarang.

Padahal kebohongan yang diulang-ulang akan bisa menjadi suatu kebenaran. Adalah Joseph Goebbels, seorang menteri propaganda nazi yang mencetuskan teknik propaganda modern yang disebut Big Lie (kebohongan besar). Prinsip dari tekniknya itu adalah menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak mungkin dan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Sederhana namun mematikan. Nampaknya inilah yang hendak dilakukan oleh mereka para pembela pembakaran bendera tersebut.

Melalui kebohongan-kebohongan ini ditambah yang lainnya, mereka berupaya melakukan propaganda jahat terhadap HTI. Mem-framing kelompok dakwah ini sedemikian rupa agar dianggap sebagai sumber kericuhan di tengah masyarakat. Sebagai kelompok yang membahayakan kesatuan Negara. Namun berhasilkah upaya ini?

Dari peristiwa pembakaran bendera di Garut tersebut tidak hanya menampakkan propaganda busuk mereka yang terancam dengan dakwah syariah kaffah, tetapi juga sekaligus membuktikan konsistensi HTI dalam mendakwahkan bendera dan panji Rasulullah. Umat semakin paham dengan bendera yang menjadi milik kaum muslimin seluruh dunia. Umat dari berbagai lapisan strata kompak menyatakan pembelaannya terhadap bendera tauhid, sekaligus juga membantah klaim bahwa bendera itu adalah milik kelompok tertentu. Umat tak ragu dan takut lagi terhadap ar royah dan al liwa’. Bahkan dengan rasa bangga mengangkatnya tinggi-tinggi di angkasa. Menunjukkan rasa persatuan umat seluruhnya. Harapan untuk bisa berada dalam naungan yang satu, yang akan menyelamatkan umat dari sistem yang rusak ini.

Tak perlu repot-repot membantah bahwa bendera yang dibakar tersebut adalah milik salah satu kelompok. Yang ada justru umat sendiri yang mengakui bahwa para pembakar tersebut telah menghinakan bendera tauhid yang menjadi milik seluruh umat Islam.

Banyak bukti yang memperlihatkan siapa yang menyampaikan kebenaran dan siapa yang berbohong. Mulai dari pengakuan pelaku, rekaman video pembakaran itu sendiri sampai pernyataan para tokoh umat, sudah lebih dari cukup untuk mematahkan dalih mereka yang membela pembakaran tersebut. Bahkan dari pemerintah sendiri juga turut memperkuat fakta yang sebenarnya. Bendera HTI, menurut versi pemerintah adalah yang ada tulisan HTI-nya, bukan bendera hitam yang berlafadzkan tauhid, seperti yang dibakar pada peringatan hari santri beberapa waktu lalu. Jadi, jelas siapa yang berkata benar, siapa yang berdusta.

Dan umat juga semakin cerdas menyikapi fakta yang ada. Tak mudah terhasut oleh propaganda jahat yang dihembuskan oleh para pembenci dakwah syariah kaffah. Mereka bisa membedakan mana yang benar-benar ikhlas berjuang untuk umat dan mana yang menjerumuskan.

Konsistensi, inilah salah satu kunci keberhasilan dalam dakwah. Konsistensi pada dakwah dan syariah adalah suatu keharusan bagi setiap kelompok dakwah dan aktivisnya. Dalam segala kondisi konsistensi dan keteguhan dalam melakukan aktivitas dakwah harus senantiasa menyertai para pengembannya.

Penyadaran dan pembinaan umat yang terus berkesinambungan sesuai dengan metode yang ditetapkan, sesuai dengan metode dakwah Rasul. Kini mulai menampakkan hasilnya. Sedikit demi sedikit pintu kebangkitan umat mulai terbuka. Ini adalah keberhasilan seluruh kelompok dakwah yang semakin bersinergi untuk tujuan yang sama, yaitu menerapkan syariah secara total. Melanjutkan kembali kehidupan Islam yang pernah menjadi peradaban gemilang selama berabad-abad lamanya. Insha Allah. Seolah seperti yang digambarkan dalam QS. Ali Imran: 54,

“ Mereka membuat makar, dan Allah membalas makar mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya / makar.”

Wallahu a'lam bish-shawab[]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...