19 March 2019

Komitmen Indonesia Untuk Al Quds

Oleh Chusnatul Jannah
Lingkar Studi Perempuan Peradaban

Membahas Palestina memang tak ada habisnya. Selama Palestina dijajah oleh Israel, selama itu pula penderitaan rakyat Palestina tak pernah berakhir. Sebagai sesama negeri muslim, Indonesia memiliki solidaritas yang sangat kuat kepada rakyat Palestina. Ketika dunia diam terhadap pembantaian keji Israel, Indonesia merespon cepat dengan dukungan moril maupun materiil. Dukungan moril seringkali terwujud dalam bentuk aksi dan tuntutan umat untuk membebaskan Palestina dari kekejian Israel. Tak cukup disitu, dukungan materiil juga kerap dilakukan. Hadirnya relawan Indonesia, bantuan kemanusiaan, pembangunan rumah sakit Indonesia untuk Palestina menjadi bukti bahwa ikatan persaudaraan umat islam Indonesia dengan Palestina begitu kuat. Setelah Donald Trump mengeluarkan resolusi Yerussalem sebagai ibukota bagi Isarel, umat islam bereaksi keras, tak terkecuali Indonesia.

Langkah politik dukungan Indonesia untuk Palestina pun sudah dilakukan. Diantaranya, KTT OKI yang digelar pada tahun 2017 lalu bahwa dunia islam mendukung penuh kemerdekaan rakyat Palestina. Berbagai konferensi dunia dengan fokus pembahasan untuk Palestina juga beberapa kali telah digelar. Diantaranya Konferensi Perdamaian Internasional di Paris yang dihadiri oleh 70 negara dengan mengusung tiga agenda utama, yaitu menciptakan insentif untuk perdamaian bagi kedua pihak, peningkatan kapasitas bagi negara Palestina, dan mempromosikan dialog antara warga sipil Israel dan Palestina. Konferensi tersebut merupakan kelanjutan dari Pertemuan Tingkat Menteri di Paris pada 3 Juni 2016 yang dihadiri Menlu RI Retno Marsudi. Konferensi ini berhasil mengesahkan Deklarasi Bersama (Joint Declaration), yang pada intinya menyatakan kesiapan negara-negara untuk mengambil langkah-langkah mencapai solusi dua-negara di mana Palestina dan Israel hidup berdampingan secara damai., seperti dilansir dari tirto.id.

Pada tahun 2018, kesepakatan solusi dua negara untuk Israel – Palestina juga kembali menjadi solusi andalan. Tepatnya, pada 26 Maret 2018 di Jenewa, Swiss , Indonesia yang diwakili oleh Bara Krishna Hasibuan menyampaikan usulan Indonesia dalam Drafting Committee on Emergency Item atau Panitia Penyusun Hal-Hal Darurat. Diantara usulan yang direkomendasikan Indonesia adalah kesepakatan perdamaian antara Palestina – Israel dan mendorong tercapainya solusi dua negara atau two-state solution berdasarkan batas – batas wilayah yang berlaku sebelum terjadinya perang antara Israel dan negara arab pada tahun 1967.

Hal yang wajar bila Indonesia berhubungan sangat dekat dengan Palestina. Selain ikatan iman yang menjadi landasan, faktor sejarah juga menjadi alasan kuat mengapa Indonesia mendukung Palestina. Sebelum Indonesia merdeka, Palestinalah yang menjadi pendukung pertama kemerdekaan Indonesia sekaligus mengakui Indonesia sebagai negara merdeka. Ikatan ukhuwah islamiyah menjadi dorongan kuat bagi umat muslim Indonesia untuk terus membela bumi Al Quds.

Bila dukungan politik, moral, material, dan doa sudah dilakukan, lalu apalagi yang bisa kita lakukan untuk membela Al Quds dari cengkeraman zionis Israel? Israel senantiasa memborbardir tanah Palestina dengan militer mereka. Di sisi lain, Palestina begitu lemah persenjataannya. Terlebih dunia hanya bisa melihat dan memberi solusi di atas kertas dengan berbagai konferensi dan deklarasi yang perannya belum terasa. Maka, sudah sepatutnya Indonesia memainkan peran lebih. Dukungan militer sangat dibutuhkan bagi rakyat Palestina. Bisa dibayangkan, ketika para pemimpin negeri-negeri musim mengerahkan pasukan militernya untuk menyerang Israel, pastilah Israel kalah, sekalipun militer mereka yang terkuat.

Persatuan kaum muslim membebaskan Palestina inilah yang belum dilakukan oleh pemimpin negeri-negeri muslim. Langkah militer untuk Palestina belum dijadikan acuan sebagai solusi praktis kemerdekaan Palestina. Tersekat oleh kepentingan nasional negara bangsa masing-masing. Bisa jadi posisi Indonesia sebagai negara berkembang menjadi hambatan menolong secara militer. Sebab, tak semudah itu mengerahkan militer ke Palestina. Ada banyak hal yang dipertimbangkan sekalipun Indonesia memiliki potensi sebagai pioner terdepan membela Palestina.

Ya, sekat bangsa-bangsa menjadi polemik tatkala ingin menyelamatkan negeri muslim lainnya. Kepentingan nasional dan internasional akan turut mempengaruhi bila dipaksakan membantu secara militer. Sungguh dilema. Setiap muslim adalah saudara. Ketika satu terluka, maka yang lainnya ikut merasakan juga. Keadaan kaum muslim saat ini persis sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw yang berbunyi, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Kita begitu lemah dan tak berdaya ketika islam terpecah menjadi banyak negara. Tengoklah bagaimana kondisi umat islam dunia, hampir semua dirundung duka. Entah akibat perang saudara, penjajahan dan penjarahan SDA, ataupun serangan militer dari musuh-musuh islam. Disinilah pentingnya membangun ikatan aqidah yang kokoh sebagai pemersatu umat. Bukan sebuah utopia bila umat islam memiliki junnah yang melindungi mereka di seluruh dunia. Mengembalikan masa keemasan yang dulu pernah ada dan berjaya.[]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...