17 September 2019

Kisah Satire dari Negeri Antahberanta: Posisi Togog Dalam Konflik Nenek Sihir vs Opunk Jarajiri

Oleh: Buyung Tanjung

Presiden Repubilk cebong (RRc) Togog Takada Otake, sedang dalam tekanan yang berat. Dia terjepit diantara kepentingan tarik menarik dua tokoh penting yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Kedua tokoh itu itu adalah Nenek Sihir dan Opunk Jarajiri. 

Nenek Sihir ini berjasa besar pada Togog karena dialah menjelmakan Togog dari sebuah boneka kayu menjadi manusia. Artinya eksistensinya sebagai manusia sepenuhnya tergantung pada nenek sihir. Bila dia macam2 sang nenek bisa mengembalikannya kepada asalnya semula -- jadi boneka kayu.

Sementara peran Opunk Jarajiri pun tidak kalah  pentingnya. Oppung penggemar saksang dan tuak ini berjasa besar mengantarkan dia jadi presidien di RRc. Berkat bakat “panggaronnya”, melalui kemampuan lobi2nya, dia sukses mengumpulkan dana dari pengusaha cina untuk membiayai kampanyenya.
Apa rahasia sang Opung berhasil menyakinkan pengusaha2 Cina mencapreskan Togog ? akan kita bahas pada bagian penutup tulisan ini.
 
Disinilah awalnya perseteruan itu. Kedua pihak merasa paling berjasa atas Togog. Karena merasa paling berejasa muncullah pamrih. Masing-masing pihak ingin mendapatkan porsi kekuasaan lebih banyak. Nenek Sihir yang merasa berjasa karena menjadikan Togog dari sebuah boneka kayu menjadi manusia – merasa diperlakukan tidak adil. 

Porsi kekuasaan yang dia dapatkan tidak sepada dengan yang didapatkan Opunk Jarajiri.
Nenek Sihir cemburu pada pihak Opunk Jarajiri. Nenek Sihir melihat  Togog sepenuhnya dalam kendali Opunk Jarajiri. Sangkin dominannya pengaruh Opunk Jarajiri atas Togog, sampai-sampai rakyat mengatai bahwa dialah  presiden sesungguhnya. The Riel Presdien. Semua urusan kenegaraan dicampurinya.   

Sementara dipihak lain Opunk Jarajiri merasa pantas mendapatkan semua itu, mengingat tanpa dia Togog hanya seorang penjual kayu bakar di desanya. Opunk Jarajirilah yang mengangkat karirnya menjadi kepala daerah di sebuah kota kecil kemudian  jadi Kepala Daerah di sebuah propinsi hingga jadi presiden. 

 Pasca “dimenangkan” dalam pilpres  periode kedua – perseteruan ini makin besar dan terbuka. Nenek Sihir mengancam Togog akan mengembalikan ujud awalnya sebagai boneka kayu bila Togog tidak memberinya porsi kekuasaan lebih besar. Dalam sebuah Musyawarah Besar ancaman itu dipertegasnya lagi dengan mengatakan bahwa partai asuhan nenek sihir itu adalah partai pemenang, karena itu wajib bagi Togog memberi kader2nya jatah menteri lbh banyak.

 Tapi bukan itu sesungguhnya yang membuat Togog pusing dan mumet. Yang membuat Togog pusing tujuh keliling ialah  --  diam2 melalui orang kepercayaannya Nenek Sihir menyampaikan ultimatum agar mendepak Opunk Jarajiri dari lingkaran kekuasaan. 
Ultimatum itu kelihatannya serius. Ultimatum itu diikuti dengan kebijakan Nenek Sihir “bermesraan” dengan seteru Togog yakni Mr. Bowo. Capres yang dikalahkannya dengan cara curang.
 Sebagai pengganti Opunk Jarajiri, Nenek Sihir menawarkan Mr, Bowo. 

Togog memahami bila ultimatum itu diabaikannya dia akan mendapatkan kosekwensi yang mengerikan. 
Nenek Sihir akan menggalang kekuatan dengan kelompok Mr. Bowo mncampakkannya dari kursi kepresidenan, mengingat bila kedua kelompok itu bersatu, mereka akan menjadi kekuatan besar di parlemen. Dosa2 politiknya akan digunakan Nenek Sihir menyeretnya ke pengadilan dan berakhir dengan kejatuhannya. Atau yang paling soft, Nenek Sihir dan kelompok Mr. Bowo menggalang mosi menggagalkan pelantikannya jadi presiden atas tuduhan kecurangan.

Mengetahui, ada konspirasi politik antara Nenek Sihir dan Mr. Bowo ingin mendepaknya dari lingkaran kekuasan – Opunk Jarajiri tidak tinggal diam. Pesan2 politik disampaikannya melalui serangkai aksi. Mulai dari mensetting hurahara di ujung negeri. Pemadaman massal alat komunikasi dan penerangan – hingga upaya mengadudomba antar umat beragama, memanfaatkan ceramah seorang tokoh umat di Negara tsb.

Wajar saja  Opunk Jarajiri tidak terima diperlakukan seperti itu. Kalau bukan karena dia Togog bukan siapa2. Dia bukan cuma berhasil menghimpun dana dari pengusaha2 Cina itu membiayai operasi politik Togog,  dia juga berkeringat berdarah mempertaruhkan reputasinya – membalikkan kekalahan Togog  agar bisa duduk dua periode – dengan berbagai kecurangan.

Tapi bukan itu sebenarnya yang memantik perlawanan  Opunk Jarajiri. Dia butuh  posisi the real president  untuk beberapa hal. Pertama, menyelesaikan misi ideology dan kedua untuk kejayaan kerajaan bisnisnya.   
Untuk merealisasikan kedua misi itu dia telah mengikat perjanjian dengan penguasa negeri Tirai Bambu. Pertanyaannya ialah mengapa harus dengan Negeri Tirai Bambu ?
Opunk Jarajiri berpikir, saat ini hanya negeri Tirai Bambu inilah yang bersedia diajak merealisasikan  mimpi ideologis dan bisnisnya. Sebaliknya para penguasa Negeri Tirai Bambu juga percaya hanya tipe manusia seperti Opung inilah yang tepat digunakan untuk mengujudkan obsesi negeri Bambu tersebut – mengujudkan mimpi  Cina Raya. Jalan untuk mengkoloni RRc telah dibuka Opunk Jarajiri  bagi Negera Tirai Bambu ini.Ketemu botol dengan tutupnya. Gayung bersambut.    .

 
Lalu, apa mimpi ideologis Opunk Jarajiri ? Ternyata Opung Jarajiri terserang wabah virus E-bola. Virus ini bersumber dari Cebong, karena itu disingkat jadi E-bola, cebong gila. Siapapun yang terserang wabah ini akan dijangkiti penyakit Islamphobia. 
Mereka  yang terserang penyakit Islamphobia ini dirasuki kebencian terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam. 

Opung Jarajiri terobsesi menyingkirkan umat Islam dari pusat-pusat kekuasaan. Dalam rangka menyingkirkan umat Islam tsb, dari konspirasi dimaksud tsb Opunk Jarajiri mendapat dua keuntungan.

 Pertama, dana operasional politik yang tak terbatas. Dana ini disamarkan dalam wajah investasi infrastruktur. Tujuannya ialah untuk mengukuhkan hegomini ekonomi mereka atas RRc.
Kedua, mengubah komposisi populasi penduduk. Opung Jarajiri memfasilitasi  berbagai regulasi untuk membenarkan mobilisasi masuknya orang-orang Cina ke Indonesia. Tujuan menengahnya ialah menyeimbangkan komposisi penduduk pribumi muslim dengan pribumi kafir dan non pribumi.

 Kelak bila posisi mayoritas yang selama ini didominasi umat Islam terimbangi, itu akan member jalan bagi kelompok Islamphobia yang dimotori Opunk menggusur politisi pribumi muslim dari pusat2 kekuasaan. 
Prinsip ahistoris  yang berbau pengkhianatan ini seakan mengingatkan saya pada sebuah falsapah berbau sampah dari Tapanuli : Dang di ho dang di ahu. Tagon ma tu begui. 
Obsesi Ideologis para Islamphobia tersebut pada akhirnya lebih memilih bekerjasama dengan Cina untuk menyingkirkan umat Islam ketimbang membangun Indonesia dalam keanekaragaman secara bersama-sama dalam ikatan tali kebangsaan.  

Mari sama-sama kita lihat apa yang akan dilakukan Togog untuk menyelematkan Republik Rakyat cebong (RRc) dari siatuasi sulit ini ?

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 16 Sep 2019 - 20:09
Senin, 16 Sep 2019 - 20:05
Senin, 16 Sep 2019 - 19:59
Senin, 16 Sep 2019 - 19:57
Senin, 16 Sep 2019 - 19:53
Senin, 16 Sep 2019 - 19:46
Senin, 16 Sep 2019 - 19:44
Senin, 16 Sep 2019 - 19:41
Senin, 16 Sep 2019 - 19:39
Senin, 16 Sep 2019 - 19:37
Senin, 16 Sep 2019 - 19:35
Senin, 16 Sep 2019 - 19:32