22 July 2019

Ketika Human Trafficking Menjadi Trending

Oleh: Susiyanti, SE
Pemerhati Sosial Asal Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara

Kasus perdagangan manusia nampaknya masih menghantui negeri ini. Tak terkecuali para wanita pun ikut diperdagangkan layaknya barang dagangan. Bahkan, kasus perdagangan wanita melibatkan hubungan antar negara.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sekjen SBMI Bobi Anwar Maarif bahwa ada 29 perempuan jadi korban pengantin pesanan di China selama 2016-2019. Para perempuan ini dibawa ke China, dinikahkan dengan lelaki di negara tersebut, dengan iming-iming diberi nafkah besar. Namun, perempuan ini malah ‘dieksploitasi’ dengan bekerja di pabrik tanpa upah.

Para perempuan ini pun dipesan dengan harga 400 juta Rupiah. Dari angka itu, 20 juta diberikan kepada keluarga pengantin perempuan sementara sisanya kepada para perekrut lapangan (Voaindonesia.com, 24/06/2019).

Tidak hanya itu, ternyata kasus penjualan wanita yang diungkap oleh Kasubdit Jatanras AKBP Leonard Sinambela menyatakan bahwa lantaran terlilit hutang sebesar Rp 8 juta, seorang pria asal Tuban yang bernama Nur Hidayat ini nekat menjual isteri sahnya (Beritajatim.com, 03/07/2019).

Sungguh suatu hal yang sangat miris dengan adanya fakta di atas. Mengingat permasalahan perdagangan wanita ini seperti fenomena gunung es, yang hingga kini belum mampu terselesaikan. Gambaran ini pun membuktikan bahwa kebijakan dalam negeri dan luar negeri masih minus dalam menyelesaikan permasalahan perdagangan ataupun penjualan wanita hingga ke akarnya.

Alasan ekonomi juga menjadi faktor  utama yang menjadi pemicunya. Bagaimana tidak, biaya hidup yang tinggi dan susahnya mencari lapangan kerja, diperparah dengan harga-harga kebutuhan pokok dan sekunder yang harganya makin meroket. Sehingga tak sedikit sulit dijangkau oleh sebagian mereka yang berpenghasilan rendah. Apalagi bagi mereka yang minim memiliki pekerjaan ataupun keahlian tertentu. Inilah salah satu yang mengakibatkan mereka  rela menjual anak ataupun istrinya guna memenuhi kebutuhan hidupnya, walau dengan dalih terpaksa.

Selain itu, dampak dari sistem kapitalisme yang menjadikan manusia mendewakan materi dan kesenangan hidup di dunia di atas segala-galanya. Sehingga suatu hal yang wajar bila pengemban sistem tersebut gagal mewujudkan kesejahteraan. Pun minim dalam membina keluarga agar memiliki tanggung jawab mendidik dan melindungi anak-anak dari bahaya.

Lebih dari itu, kesenangan hidup dipandang amat penting. Sebab yang menjadi tolak ukurnya adalah materi (uang). Terkadang pun manusia dipandang sebelah mata bahkan tidak ada harganya, apabila tidak memiliki materi. Karena materi dianggap mampu memberikan segalanya.  Padahal bahagia tidak hanya dari sisi materi, tetapi sesungguhnya materi mendukung kesejahteraan dan kebahagiaan

Sementara dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab penuh, bukan malah berlepas tangan atas kesejahteraan rakyatnya. Apabila dalam hal ini wali dari perempuan sudah tidak ada lagi atau jika dia masih mempunyai wali atau keluarga, namun tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka negara mengambil alih dan bertanggung jawab atas warga negaranya tersebut.

Di samping itu, negara juga mampu menjadi penjaga akidah dan keimanan rakyatnya. Di mana hal tersebut akan tertera dalam aturan negara. Sehingga tidak mungkin lagi ada kasus perdagangan ataupun jual beli perempuan.

Jika masih ada yang melakukan praktik penjualan atau perdagangan manusia/wanita. Maka, hal ini jelas bertentangan dengan hukum Islam. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul saw yang artinya, “Dan seorang pemimpin adalah pemelihara kemaslahatan masyarakat dan dia bertanggung jawab atas mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Hal Ini pun ternyata pernah dicontohkan oleh Umar bin Khattab ra. saat dia menjadi seorang pemimpin. Di mana beliau saat berkeliling kota kemudian mengetahui ada salah satu keluarga yang kelaparan sampai-sampai ibu tersebut memasak batu untuk menenagkan anaknya. Hingga akhirnya beliau sendiri yang membawakan gandum dan memasak untuk keluarga tersebut dan menungguinya sampai beliau yakin benar bahwa keluarga tersebut merasa kenyang.

Dengan demikian, semua itu hanya dapat terlaksana apabila diterapkan aturan-Nya. Sementara dalam sistem saat ini, hal yang mustahil dapat terealisasi. Sebab, sekulerisme dan liberalisme menjadi asas yang dipegang negara pengembannya. Untuk itu sudah saatnya kita kembali pada aturan-Nya. Karena dengannya, rahmat bagi semua insan akan dirasakan. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...