17 November 2018

Kemenangan Oposisi Malaysia dan Efeknya Bagi Politik Indonesia

Oleh: Ali Mansur, Muhammad Hafil

Mahathir Mohamad mengejutkan dunia setelah koalisinya menang pemilu dan terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) Malaysia. Usia bukan menjadi persoalan bagi rakyat Malaysia yang sudah begitu jengah dengan penguasa lama untuk memilih Mahathir, 92 tahun.

Dinamika perubahan di negeri jiran ini pun berhembus kencang ke Indonesia. Ada yang berpendapat yang terjadi di Malaysia memiliki dampak ke Indonesia, sebaliknya ada yang menilai politik di Malaysia tidak memberikan pengaruh terhadap politik di Indonesia.

 Inspirasinya, kata dia, rakyat Malaysia ingin negaranya berdaulat penuh, khususnya di bidang ekonomi.

"Kekhawatiran intervensi asing itu menjadi pemicu yang memenangkan oposisi," kata Zulkifli, Kamis (10/5).

Zulkifli menyebut salah satu perjuangan Koalisi Pakatan Harapan (PH) pimpinan Mahathir adalah kedaulatan dan kemandirian rakyat di negerinya sendiri. Kemenangan Mahathir Muhammad adalah buah perjuangan kedaulatan, bersih dari korupsi sekaligus menjadi bangsa yang mandiri.

Kemenangan Mahathir, jelas Zulkifli, menjadi inspirasi agar Indonesia menegakkan kedaulatan bangsa di atas segalanya. Jika pengangguran masih tinggi, maka utamakan tenaga kerja dalam negeri bukan tenaga kerja asing.

Hasil Pemilu di Malaysia juga memiliki arti penting bahwa kerja politik meski berusia tua ternyata ampuh. "Isu soal TKA ternyata ampuh," kata Zulkifli.

Malaysia baru saja melantik PM baru Mahatir Muhammad menggantikan Najib Razak. Kelompok Mahatir memenangkan pemilu secara telak dengan 122 kursi di parlemen menggusur Barisan Nasional dari tampuk kekuasaan.

Mahatir dalam usia 92 tahun kini menjabat PM kembali. Kemenangan ini mengejutkankan karena semua lembaga survei di Malaysia mengatakan partai penguasa saat itu yakni Barisan Nasional yang akan memenangkan pemilu.

Sulit terjadi di Indonesia

Politikus PDIP Charles Honoris menyatakan kekalahan PM Najib Razak di Malaysia oleh Mahathir tidak bisa dibawa ke Indonesia. Menurut Charles, kemenangan oposisi Malaysia yang dipimpin Mahathir Mohamad adalah dampak evaluasi kinerja pemerintahan PM Najib Razak yang dinilai kurang memuaskan oleh mayoritas masyakarat negeri jiran.

Apalagi, PM yang memerintah sejak 2009 tersebut diduga terlibat skandal korupsi 1MDB yang merugikan negara hingga jutaan dolar AS. Charles menegaskan, insentif elektoral cenderung didapat kelompok oposisi manakala (koalisi) partai penguasa tidak becus menjalankan pemerintahan.

“Rumus politik rasional selalu begitu. Semakin baik kinerja pemerintah, oposisi semakin tidak laku. Sebaliknya, semakin pemerintah tidak becus dan korup, oposisi semakin mendapat angin surga untuk menumbangkannya,” kata Charles, Jumat (11/5).

Rumus tersebut, kata Charles, juga bisa dibawa ke Indonesia. Namun, dengan melihat kepuasaan rakyat yang makin tinggi terhadap kinerja Presiden Jokowi, seperti ditunjukkan sejumlah hasil survei, kejadian di Malaysia sulit terjadi di Indonesia.

“Hasil survei salah satu lembaga menunjukkan 72,2 persen rakyat puas dengan kinerja pemerintahan ini,” kata Charles.

Oleh karena itu, kata Charles, pernyataan sejumlah politikus oposisi dalam negeri, bahwa peristiwa politik di Malaysia akan merembet ke Indonesia, jelas sulit terjadi selama kinerja pemerintahan Jokowi berjalan baik. Ia mengatakan politik itu tidak bekerja di ruang hampa.

"Masa apa yang terjadi di negara tetangga disebut bisa merembet begitu saja, tanpa melihat faktor-faktor yang terjadi di belakangnya, seperti kinerja pemerintahan, efektivitas oposisi, dan sebagainya,” kata Charles.

PDI Perjuangan bisa memenangkan pemilu lalu juga karena mendapat kepercayaan rakyat setelah pemerintahan sebelumnya berjalan tidak sesuai harapan. Apalagi, ujar dia, sejumlah petinggi partai penguasa sebelumnya banyak yang terjerat korupsi.

Jadi inspirasi Indonesia

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan kemenangan Mahathir menjadi inspirasi bagi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di pemilihan presiden (pilpres) 2019 mendatang. Menurut dia, hal tersebut menandakan bahwa di dalam politik apa pun bisa terjadi.

"Saya kira inspirasi (bagi Prabowo) juga. Artinya persisten, satu determinasi dan perjuangan untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat itu membuahkan hasil," kata Fadli, Jumat (11/5).

Ia menganggap yang terjadi di Malaysia juga akan terjadi di Indonesia. Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa oposisi juga mempunyai peluang yang besar untuk berkuasa.

"Ini juga menunjukan usia tidak menjadi hambatan di dalam berpolitik, yang paling penting adalah kapasitas dan kapabilitasnya," kata Fadli.

Pria yang kini menjabat sebagai wakil ketua DPR tersebut membandingkan kondisi Malaysia yang serupa dengan kondisi Indonesia saat ini. Bahkan, ia menilai permasalahan yang ada di Indonesia lebih banyak.

Fadli memerinci sejumlah isu seperti korupsi, tenaga kerja asing, dan janji-janji yang tidak ditepati. Maka, tidak heran jika banyak masyarakat yang tidak puas dengan pemerintahan saat ini dan menghendaki pergantian presiden di 2019. Hal itu ia buktikan ketika dirinya datang ke daerah-daerah.

Pengamat Hubungan Internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah, Eva Mushoffa melihat, hasil pemilu di Malaysia tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi politik di Indonesia.

Figur Mahathir yang sempat memimpin Malaysia pada 1981 hingga 2003 tidak bisa ditemui di Indonesia. Eva mengatakan, menyamakan Mahathir dengan sosok Prabowo sebagai sesama oposisi pun tidak bisa dilakukan. "Keduanya termasuk tidak setara untuk dibandingkan," kata Eva.

Perbedaan kedua figur nasional ini terletak pada pencapaian. Apabila Mahatahir berhasil memajukan ekonomi Malaysia melalui Malaysia Vision 2020, Prabowo belum sampai pada tahap tersebut. Ketua umum Partai Gerindra ini belum memilik rekam jejak nyata untuk bisa meraih pencapaian seperti Mahathir sekarang.

Perbedaan isu dominan antara Malaysia dan Indonesia turut menjadi penyebab minimnya pengaruh kemenangan Mahathir di sini. Dinamika politik Indonesia masih didominasi isu agama, terutama Islam, sementara bidang ekonomi masih menjadi isu sekunder.  "Di Malaysia kebalikannya. Ekonomi menjadi fokus perhatian, isu agama berada di posisi kedua," ujar Eva.(KONF/REP)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...