16 December 2017

Kekuatan Semu Ulama NU dan Pembelahan Suara Warga NU terhadap Prabowo maupun Jokowi

KONFRONTASI- Nahdlatul Ulama netral dalam pilpres, dan warganya terbelah ke sini sana. Jangan heran bila belakangan capres/cawapres ramai-ramai mengunjungi kediaman kiai ataupun tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Sowan politik itu berharap mendapat dukungan dari kiai dan pengikutnya. Apakah demikian hasilnya?

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia selalu menjadi daya pikat di momentum politik pilihan langsung seperti Pilkada maupun Pilpres. Tak terkecuali dalam Pilpres kali ini, tak segan, para capres/cawapres meminta restu. Bahkan, menasbihkan diri sebagai kader NU, tak segan dilakukan. Itu yang terjadi pada diri Jusuf Kalla.

Berjalin kelindan, Jusuf Kalla Jumat (23/5/2014) menemui mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi ke Pondok Pesantren Al Hikam, di Depok, Jawa Barat. Tanpa tedeng aling-aling, kehadiran JK dalam rangka meminta dukungan kepada Hasyim MUzadi. "Oh iya, tentu meminta dukungan dan semua mendoakan," kata JK seraya mengatakan dirinya sebagai warga NU semestinya melapor kepada kiai NU.

Setelah dari Hasyim Muzadi, JK secara marathon mengunjugi kediaman pribadi pengasuh pondok pesantren Tebu Ireng Jombang, KH Salahuddin Wahid di Jalan Bangka, Jakarta Selatan. Sama dengan kunjungan di kediaman Hasyim Muzadi, JK juga meminta restu pada adik kandung Gus Dur itu.

Langkah JK yang mendampingi Jokowi dalam kontestasi pemilihan presiden ini juga dilakukan oleh pasangan capres/cawapres lainnya. Pasangan Prabowo-Hatta juga melakukan hal serupa. Tak selang lama kunjungan JK di kediaman Gus Sholah, pasangan Prabowo-Hatta juga mengunjungi kediaman Gus Sholah. Sehari sebelumnya, Cawapres Hatta Rajasa juga berkunjung ke kediaman Yenny Wahid, putri almarhum KH Abdurrahman Wahid.

Tim pemenangan Prabowo-Hatta berharap agar Yenny Wahid dapat bergabung dalam barisan Prabowo-Hatta. Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani mengharapkan bergabungnya Yenny Wahid bakal memperkuat barisan dukungan dari NU dan Gusdurian. "Diharapkan bisa memperokokoh dukungan dari NU dan Gusdurian," harap Muzani di sela-sela pemeriksaan tes kesehatan pasangan Prabowo-Hatta di RSPAD, Jakarta, Jumat (23/5/2014).

Selain aksi mengunjungi para tokoh NU dan berharap restu, tim pasangan capres/cawapres juga ramai-ramai memasang tokoh NU di jajaran tim pemenangan. Seperti di pasangan Prabowo-Hatta memasang tokoh NU yang juga Ketua MK Mahfud MD sebagai Ketua Tim Pemenangan Nasional pasangan Prabowo-Hatta.

Sedangkan di Tim Pemenangan Jokowi-JK, memasang istri Ketua Umum PBNU Nurhayati Said Aqil Siradj masuk di daftar Dewan Pengarah. Tidak hanya itu, pasangan Jokowi-JK juga menempatkan sejumlah kiai NU di jajaran dewan pengarah seperti KH Hasyim Muzadi, As'ad Said Ali (Waketum PBNU) dan KH Dimyati Rois.

Apakah efektif langkah yang dilakukan para capres/cawapres mendekati kiai NU itu? Bila melihat dua kali pemilu presiden secara langsung di 2004 dan 2009 lalu semestinya dapat menjadi pelajaran bagi para capres/cawapres.

Sebagaimana ditulis SBY dalam buku Selalu Ada Pilihan di halaman 427-430, memberi panduan yang cukup penting bagi capres/cawapres terkait memosisikan kiai atau pimpinan ormas.

SBY menilai kendati para pemimpin informal telah dipegang oleh kandidat capres/cawapres belum tentu para pengikutnya otomatis mengikutinya. "Hal ini dibuktikan dari hasil exit poll yang dilaksanakan segera setelah pemungutan suara dilaksanakan. Bagian terbesar dari mereka yang mengaku menjadi anggota NU maupun Muhammadiyah memberikan suaranya kepada saya," tulis SBY.

Pengalaman langsung SBY ini memang terkonfirmasi melalui perolehan hasil Pilpres 2004 dan 2009 lalu. Kendati tidak mendapat dukungan dari ormas NU dan Muhammadiyah, justru SBY mendapat dukungan maksimal dari kader NU dan Muhammadiyah. Pemilu 2004, SBY bersama JK melawan pasangan Megawati-Hasyim Muzadi dan Wiranto-Salahuddin Wahid. Dua nama terakhir yakni Hasyim Muzadi dan Salahudin Wahid merupakan tokoh NU.

Begitu juga dalam Pilpres 2009 lalu, ada dukungan terbuka NU melalui Hasyim Muzadi dengan menjadi bintang iklan pasangan JK-Wiranto termasuk dukungan Mantan Ketua PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif kepada pasangan yang sama nyatanya tak mampu mengatrol pasangan JK-Wiranto.

Yang terjadi, justru suara SBY-Boediono mendulang dukungan maksimal dari warga NU dan Muhamamdiyah. Exit poll saat itu mengungkapkan 60 persen warga NU memilih SBY-Boediono. Justru di kantong suara NU, pasangan JK-Wiranto babak belur.

Dalam konteks itu, ada baiknya pasangan capres/cawapres dan tim suksesnya membaca saran SBY. Menurut Ketua Umum Partai Demokrat itu, para capres/cawapres disarankan tetap menjalin komunikasi dengan baik kepada para pemimpin informal tersebut. Ia mengingatkan agar tidak menjaga jarak.

Tapi SBY mengingatkan, "Janganlah amat bergantung dengan kedekatan anda dengan para tokoh informal tersebut. Ingat yang akan memilih Anda adalah 150 juta orang lebih. Tidak semua di bawah kendali pemimpin mana pun," tulis SBY .

Kesimpulannya, bagi para capres/cawapres yang kebetulan tidak memiliki pasangan capres/cawapres dari kalangan NU janganlah gusar. Dalam praktiknya, dua kali pilpres secara langsung, menjual figur dan nama NU tidaklah linier dengan dukungan dari para santri dan warga NU.

Pemilih NU dan pemilih pada umumnya akan memilih figur dan program kerja sang kandidat. Fenomena saat ini seolah mengonfirmasi tentang pendeknya memori kita. Kekuatan kiai terkonfirmasi dalam dua kali pilpres memang semu. [mdr]adrid

  •  

 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...