23 February 2017

Kecewa, Warga Geruduk Rumah Ahok Tengah Malam

KONFRONTASI- Jadi pejabat musti tebel muka tebel kuping. Tauk bener tau nggak pasti ada yang ngatain. Kebetulan kebanyakan sih terbukti gak bener, buktinya bejibun berjamaah masuk bui.

Kalo Ahok lain lagi, mulutnya pedes tapi berani. Tapi seberani-beraninya, kalau rumah kita digeruduk ribuan orang tengah malam, pagarnya mau dirobohin. Ngumpul pada di sana tengah malam tadi. Mereka ini para warga bantaran Kali Ciliwung yang tinggal di kawasan Pinangsia, Jakarta Barat dan Penjaringan, Jakarta Utara pada naik motor ke depan rumah Ahok demo pingin ketemu. Yah gak ditemuin, lagian nemuin malem-malem konyol tar kalo ngamuk tak terkendali, namanya juga massa. Polisi ngejagain, akhirnya pada pulang soalnya gak ketemu ma Ahoknya.

Sebelum meninggalkan kompleks kediaman Ahok yang terletak tak jauh dari Waduk Pluit ini, para pendemo kembali berorasi. Mereka menuntut agar Pemprov DKI tidak menggusur kediaman mereka.

“Kami menolak penggusuran yang akan dilakukan pagi ini. Karena tidak ada tempat untuk relokasi,” ujar perwakilan warga, Gugun.

Para warga ini berasal dari 4 RW dan 13 RT. Mereka mengaku terpaksa melakukan aksi pada malam hari karena kediaman mereka sudah hendak dimusnahkan.

Beberapa alat berat untuk menggusur kediaman para warga itu sudah tiba di lokasi. Hal itu membuat mereka semakin cemas karena Akan segera kehilangan tempat tinggal.

Saya ini bukan gak miris lihat rakyat kecil, tapi ya jangan seenaknya gitu. Kalau tinggal di tanah negara, itu kan gratis dan namanya menduduki, pas mau digusur ngamuk, katanya orang susah, lah kalo semua orang begini bagaimana tata kota mau ngatur, tanahnya didudukin, mau diambil marah ngamuk-ngamuk. Inilah gak adanya kesadaran antara hak dan bukan. Kalau bukan hak kita jangan kita ini merasa memiliki, musti tahu diri, bahwa bukan milik kita. Hal ini tak bisa disamakan dengan Lapindo, kalau itu tanahnya emang milik warga, yang dialirin lumpur baik sengaja atau tidak sama si Pak Boss yang satu tuh, wajar kalau ini warga ngamuk minta ganti. Kalau kitanya ngedudukin tanah negara, maap-maap ya, disuruh pegi koq ngamuk sih?

Mau protes, kalau gak punya bukti kepemilikan (karena jelas-jelas memang bukan pemilik) ya gak bisa, pemilik yang sah yang berhak.

Hal ini banyak terjadi, dulu oma saya punya tanah di Puncak, didudukin ma tukang jagung bakar, sate dll. Oma saya mau jual, mereka ngamuk. Sama oma saya dideketin, dibilang, “Kalian ini kan orang beragama, kalau bukan hak jangan diambil,” malah tambah ngamuk minta duit ganti. Daripada pusing ya dikasi saja, biar keluar, tapi tetep pake aparat ngeluarinnya.

Ini kan ceritanya sama, di tanah orang, gak diundang, gak make ijin yang punya, menduduki, disuruh pegi gak mau. Alasannya: kami orang susah. Ya susah dan gak susah kan tetap saja kalau bermental baik, gak dudukin dan mengklaim tanah orang donk, dibaikin gak mau, digalakin galakan dia.

Dari kecil mustinya lebih penting dari segala pendidikan lain itu adalah penerapan indoktrinasi pada anak-anak kita “Jangan ambil yang bukan punyamu”.

Kalau ini sudah masuk ke otak anak-anak, bahwa hal itu tidak benar dan tidak baik, ya mudah-mudahan dalam keadaan kepepet seperti apa tak akan dilakukannya.

Belasan tahun yang lalu, saya ngontrak rumah petak, ayah saya berkunjung nginep beberapa hari. Ada air di rumah itu yang ngalir meluluk, gak taulah gak mati-mati diselangin ke bak rumah saya dan rumah tetangga.

Ayah saya nanya ma yang punya kontrakan itu, kenapa air itu siang-malem gak mati-mati biar udah penuh melimpah baknya, paling ke selokan ngalirnya kebuang. Kata yang punya, “Tenang aja gak bayar ini motong pipa PAM depan rumah, jadi gratis.”

Ayah saya sejak itu ke mushola sebelah rumah meluluk, gak rela berwudhu dengan air hasil maling itu, gegara itu pindah pula saya dari sana, karena beliau ngotot jangan makan barang haram. Lah sapa yang makan cuma mandi doang kata saya, dipelototin ma beliau, katanya jangan main-main, ini masalah dosa dan tidak dalam hidup ini. Iyalah pikir saya, daripada disumpahin saya tar wkwkwk pindahlah saya.

Memang perih kalau digusur, tapi ingatlah itu bukan punya kita. Kalau mau protes mintalah kebijaksanaan dan bantuan dengan baik kirim perwakilan baik-baik ke balai kota. Atau lewat media protesnya, dengan apa saja, bukannya dengan ngerobohin pagar rumah orang (Ahok dalam hal ini). Ahok itu pelaksananya, yang punya itu negara tanahnya.

Kalau kita di dunia ini miskin harta, masih aja miskin iman dengan mengambil tanah orang, apa yang mau kita banggakan di akhirat nanti. Kemiskinan itu pun suatu tantangan dan berkah, agar iman kita tetap kuat, jadilah orang miskin bermartabat, beriman dan pekerja keras, karena hanya dengan demikian hidup kita bisa tenang.

Pak Ahok juga, baik berdialog dan jangan terlalu pedes Pak, dah miris hidup susah jangan ditambahin lagi sama kata-kata yang kadang terdengar sebagai penghinaan pada nasib sebagian orang yang kurang beruntung.

Pendekatan adalah kunci segalannya, kecuali kalo ada provokatornya, sikat aja kalau itu sih.

Jangan ambil hak orang, baik anda kaya maupun miskin, eh pejabat yang ngerasa, catet nih! Situ kan yang sering ngambil…(Irfani/KCM)

Tags: 
Category: 

Berita Terkait

Baca juga


Loading...