13 December 2019

Kapitalis Penebar Islamophobia

Oleh: Ita Mumtaz
Komunitas Peduli Generasi

Suasana kota Surabaya mencekam pada tanggal 13 dan 14 Mei 2018. Sekolah-sekolah diliburkan pada dua hari itu. Dan seluruh penjuru negeri pun berduka dilanda tragedi bom berdarah. Serentetan peledakan bom terjadi di 3 gereja. Kemudian menyusul di sebuah rusunawa Wonocolo dan di depan Mapolrestabes Surabaya. Menelan 25 orang korban jiwa termasuk tersangka pelaku. Siapapun mengutuk perbuatan keji itu. Tidak ada dalam ajaran agama manapun yang membolehkan untuk berbuat teror, membunuh jiwa-jiwa tak berdosa.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa’adi, menyatakan bahwa teror bom yang merenggut banyak jiwa tak bersalah itu merupakan tindakan di luar nalar akal sehat yang sudah melampaui batas nilai kemanusiaan.

Sementara, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menilai bahwa pelaku teror bom tidak mempunyai agama. Agama mereka adalah kejahatan.

Islamophobia

Beberapa hari setelah peristiwa itu, beredar video viral di media sosial yang menyudutkan kaum muslimin beserta atributnya. Nampak di tayangan adanya penurunan paksa seorang perempuan bercadar di bus. Ada pula santri dari pondok pesantren yang dipaksa membongkar isi tasnya dihadapan moncong senjata beberapa orang kepolisian. Tak ketinggalan berseliweran anekdot yang tidak lucu dari dan ke group-group media sosial. Yang isinya mencitra burukkan seorang muslim yang memelihara jenggotnya dan rajin mendatangi majelis kajian Islam.

Setiap ada aksi teror bom, maka yang paling merasa rugi dan selalu dijadikan kambing hitam adalah umat Islam. Dalam hitungan jam, aparat telah menemukan pelaku dari tragedi mengenaskan di Surabaya. Pelaku digambarkan seorang muslim baik-baik, dari keluarga yang bertakwa dan rajin ke Masjid. Dilengkapi dengan sosok istri yang berbusana muslimah. Sungguh keji dan jahat opini yang diciptakan, bahwa seolah dari profil keluarga yang seperti itulah bibit terorisme berasal. Hal ini sejalan seirama dengan apa yang dilontarkan oleh ketua organisasi Islam di negeri ini. Bahwa cikal bakal teroris adalah seorang pemuda yang rajin shalat malam, rajin puasa dan hafal Alquran.

Sehingga yang ada dalam benak masyarakat saat ini adalah kecurigaan dan ketakutan terhadap muslim yang taat berpegang teguh kepada agamanya. Mereka lebih memilih menjadi orang awam yang tidak berilmu dari pada menjadi muslim yang kaaffah, apalagi menjadi pejuang syariatNya. Orangtua pun saat ini cenderung melarang anaknya belajar Islam lebih mendalam. Akibat dari berita serampangan yang tersebar bahwa ROHIS di Sekolah Menengah adalah sarang teroris, kegiatan mahasiswa di masjid kampus pun harus diawasi. Demikian pula para dosen yang taat syariat, meski profesional, bisa terkena persekusi. Ulama yang nota bene adalah pewaris para Nabi tak ragu-ragu dikriminalisasi. Ormas Islam yang banyak memberi edukasi dan pencerahan ke umat, mencoba untuk difitnah dan diberangus. Para aktivisnya dipersekusi, di beri stigma anti Pancasila tanpa ada bukti- bukti revelan.

Sebagaimana yang pernah dinyatakan Presiden Joko Widodo bahwa ideologi terorisme sudah masuk ke sekolah-sekolah. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, Perguruan Tinggi, dan ruang-ruang publik, mimbar-mimbar umum. Ternyata yang menebar rasa ketakutan dan kecurigaan diantara rakyat dan masyarakat adalah penguasa sendiri. Hal ini membuktikan bahwa rezim saat ini sedang menderita penyakit Islamophobia akut.

Islam Taat Membawa Rahmat

Ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari akar hingga daun. Dari Aqidah sampai dakwah. Ketika terterap dalam kehidupan individu, masyarakat dan negara, akan tercipta harmonisasi dan keindahan. Individu muslim berhias akhlak karimah. Santun kepada yang lain, sayang kepada yang muda, hormat kepada yang tua. Baik terhadap sesama muslim atau non muslim. Jangankan dalam kondisi damai, di medan perang pun ada aturan fiqihnya bagaimana memperlakukan musuh. Yakni ada larangan menyerang tempat ibadah, merusak fasilitas publik, merusak kebun, pepohonan dan membunuh hewan. Tidak boleh melukai dan membunuh anak-anak, perempuan, orang tua renta atau mereka yang tidak ikut perang.

Bagaimana dengan melakukan teror atau bahkan meledakkan bom yang mengakibatkan terbunuhnya individu muslim maupun non muslim? Sungguh ajaran Islam nan agung dengan tegas melarang yang demikian. Ada penjagaan Negara kepada individu, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw dalam haditsnya.

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.

Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim. (HR an-Nasâ`i)

Walhasil, apabila seorang muslim atau muslimah rajin sholat malam, terbiasa beribadah puasa, hafal Alquran, rajin sholat berjamaah ke masjid, berbusana muslimah rapi atau mungkin bercadar, suka datang ke majelis ilmu, aktif berdakwah dalam kegiatan ormas Islam, maka itulah tanda-tanda muslim taat. Bukan ciri seorang teroris atau cikal bakal teroris. Semakin rajin mencari ilmu dan berdakwah, bisa dipastikan seorang muslim semakin memahami ajaran Islam dan kian bertambah ketaqwaannya. Ternasuk tidak akan pernah melakukan hal keji semisal membunuh, mengebom di tempat umum dan tempat ibadah yang mengakibatkan korban jiwa berjatuhan.

Biangkerok Terorisme adalah Kapitalis

Kasus bom dan terorisme adalah salah satu problematika yang ditimbulkan dari keserakahan kapitaliame. Bagaimana bisa?Seandainya pelaku adalah orang yang kurang ilmu dalam pengamalan Islam, maka hal ini tidak akan terjadi di negara Khilafah. Karena negara akan senantiasa memberikan edukasi, pencerahan dan pengarahan tentang ajaran Islam yang benar. Di negara kapitalis, negara berlepas tangan terhadap pemahanan Islam warganya. Bahkan terkesan membiarkan dan memberi ruang kebebasan. Wajar jika kemudian negara kecolongan tragedi bom semacam ini.

Jika pengeboman itu murni kejahatan, maka ini hanya akan terjadi dalam suasana kapitalis. Karena faham kapitalis jelas berazas manfaat, menghalalkan segala cara serta menuhankan materi.

Sejatinya faham Kapitalismelah yang menciptakan terorisme. Hegemoni Kapitalis selalu menjalankan metode khasnya demi mengokohkan ambisinya menjajah Islam dan menjauhkan kaum muslim dari agamanya. Dalam dunia kapitalis, sesuatu yang wajar manakala menjadikan kawan sebagai lawan, dan saudara menjadi mangsa. Tragedi keji bom kemarin dijadikan bahan untuk memfitnah ajaran Islam, dakwah Islam dan pengembannya. Upaya adu domba digencarkan. Sebagian aktivis Islam diinjak-injak, sebagaian lagi dielukan dan ditawari materi yang menggiurkan para pemujanya. Sehingga dalam zaman fitnah ini, tugas ulama, ustadz dan pengemban dakwah semakin berat dan mulia. Karena harus menghadapi rezim yang dholim sekaligus bersabar terhadap saudara sesama muslim yang berfihak pada negara kapitalis.

Langkah strategis dakwah harus segera digencarkan. Umat Islam membutuhkan keteladanan yang baik dan suasana yang mendukung keimanannya. Umat harus memahami bahwa Islam bukan terorisme dan terorisme bukanlah Islam. Jika ada pengkaitan antar keduanya, maka sesungguhnya itu adalah tuduhan keji dari pemuja kapitalis untuk menutupi kebobrokannya sekaligus menjauhkan umat Islam dari agamanya. Umat harus dibukakan mata hatinya agar terlihat jelas kerusakan yang ditimbulkan sistem kapitalis. Problematika besar yang tengah melanda negeri ini justru berasal dari penerapannya. Hutang negara yang melonjak tinggi, kerusakan budaya yang mengarah pada pergaulan bebas, maraknya pornografi pornoaksi, biaya kebutuhan dasar membumbung tinggi, beban hidup masyarakat semakin mencekik, biaya pendidikan, kesehatan yang kian tak terjangkau. Jangan sampai kondisi terpuruk ini diperparah dengan menjauhnya kaum muslimin dari agamanya. Dan hilangnya generasi yang memiliki keimanan yang kuat, pribadi Islam tangguh dan daya juang tinggi tersebab Islamophobia yang sengaja dihembuskan musuh-musuh Islam.

Karena sebuah negara akan mampu bangkit dari ketidakberdayaannya dengan cara berpegang teguh pada agama sekaligus ideologinya yang shahih. Terbukti, negara yang menjadikan Islam sebagai ideologinya mampu menjadi mercusuar peradaban selama lebih dari 1400 tahun. Adalah Daulah Khilafah Islamiyah. Institusi penerap syariat yang unggul di segala bidang kehidupan.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...