16 December 2017

KAHMI adalah Keluarga, Bukan Partai Politik

Sebagai perkumpulan keluarga dan himpunan persaudaraan, KAHMI sepatutnya menjunjung tinggi nilai2 dan cara2 kekeluargaan, dan menjauhi praktek2 yang lazim dalam kehidupan partai politik dengan ciri pokok transaksional yang berbasis pada pertimbangan untung-rugi.

Nilai2 luhur itulah yang senantiasa ditanamkan oleh Ayahanda kita Prof. Lafran Pane dan para sesepuh HMI sejak kelahirannya 70 tahun silam.

Struktur kepemimpinannya pun dengan demikian hendaknya merupakan kelanjutan logis dari nilai2 tersebut, yang penuh persaudaraan dan berciri kolektif- kolegial.

Saat ini seluruh mata bangsa mengarah pada apa yang sedang kita lakukan dalam munas kita sebagai alumni HMI. Kita tentu sepakat bahwa kita semua bertekad untuk menyajikan pertunjukan yang baik dan menyejukkan di pentas nasional. Bukan pertunjukan yang buruk, penuh cacat, membosankan, tidak menarik dan hanya mengkonfirmasi gejala umum yang semakin dirasakan oleh publik bahwa lapisan elite bangsa ini benar2 tidak bisa diharap untuk jadi teladan perilaku.

Seandainya kita tidak sanggup menjauhi cara2 negatif yang biasa terjadi pada perhelatan serupa dalam munas/kongres parpol, hal itu mungkin hanya bisa kita sesalkan tanpa mampu kita hindari. Tetapi kita sebagai anggota keluarga besar KAHMI pasti mampu menghindari cara2 semacam itu di dalam rumah tangga kita sendiri.

Jangan jadikan semua arena kehidupan sebagai gelanggang parpol -- meski banyak di antara kita yang sehari-hari hidup dalam dinamika partai politik. Cukuplah kita bermanuver dan main transaksi di sana, bukan di sini, di rumah yang membesarkan kita. Kondisi durhaka bukan hanya bisa terjadi pada hubungan anak-orangtua biologis, tapi juga dalam hubungan anak-orangtua ideologis dan organisatoris.

Dengan sikap konsisten dan tawakal, marilah kita pilih anggota2 Presidium KAHMI yang pantas dan berkemampuan tinggi. Merekalah etalase KAHMI di mata publik dan negara. Buruk wajah mereka, buruk pula wajah seluruh keluarga besar KAHMI yang kita muliakan ini.

Cukup sekali kita mengalami pimpinan KAHMI ternista akibat perbuatannya sendiri. Kita tidak perlu mengalaminya lagi di masa mendatang. Satu kali menerima penghinaan semacam itu kita anggap sudah terlalu sering. Satu kali itu lebih dari cukup.[***]

Wassalam,
Semoga Allah Swt  senantiasa memberi kita kekuatan untuk memilih secara benar.

Tags: 
Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...