27 March 2019

Jokowi-Rizal Ramli: Solidarity Maker & Problem Solver

OBAMA mengapresiasi Joe Biden di akhir jabatannya dengan mengatakan Biden adalah wakil presiden yang banyak berjasa dan berperan penting dalam menjalankan pemerintahan, sehingga pemerintahannya melahirkan sejumlah legacy.

‘’Biden memberitahu saya hal-hal yang orang lain tidak bisa memberitahu,’’ kata Obama.

Obama & Biden dikenang memiliki sejumlah legacy, antara lain Obamacare (jaminan kesehatan untuk warga dan akses layanan medis bagi orang miskin), hingga normalisasi hubungan AS dengan Kuba setelah bermusuhan selama lebih dari 50 tahun.

Franklin Delano Roosevelt (FDR) presiden dengan visi yang tidak kalah besar tapi memiliki keterbatasan fisik akibat polio --juga ditopang oleh seorang wakil presiden yang hebat, Harry S Truman.

Truman adalah seorang yang sederhana. Mula-mula ia adalah seorang pengusaha kecil yang bertani, jumlah total kekayaannya setelah menjabat hanya sekitar US$ 1 juta dolar atau setara kurang dari 13 miliar rupiah.

Roosevelt & Truman melalui masa-masa yang sangat sulit dimana Amerika berada dalam arus besar dari akhir Perang Dunia Kedua, awal Perang Dingin, hingga Perang Korea.
Bersama Roosevelt ia menumbuhkan kepercayaan dan harga diri rakyat Amerika untuk memasuki kancah perang dan memenangkannya, meski Amerika berada dalam kondisi perekonomian yang sulit.

Sepenggal cerita lain waktu akhirnya Truman naik jadi presiden setelah FDR wafat Truman punya kontribusi internasional untuk republik ini, yakni memaksa Belanda untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.

Sukartno-Hatta dilukiskan sebagai dwitunggal. 
Sukarno direpresentasikan sebagai solidarity maker, sedang Hatta administrator yang handal. 
Kedua-duanya adalah orang-orang pergerakan dan merupakan pejuang yang terhormat. 

Soeharto-Sultan HB IX-Adam Malik disebut sebagai Triumvirat bagi pembentukan Orde Baru. 
Soeharto dikatakan sebagai a man of quick action 
Sultan sebagai a man of deliberation
dan Adam Malik sebagai a man of instant solution.

Soeharto menyunting Sultan yang merupakan Raja Jawa untuk melegitimasi kekuasaan. 
Namun suatu hari kepada bekas menteri penerangan, Mashuri, Sultan berkeluh kesah mengenai posisinya sebagai wapres. Waktu itu beredar kabar Soeharto akan meminta kembali Sultan untuk jadi wakil presiden.
‘’Tapi saat itu Sultan menolak, karena takut akan berlumuran darah dan kotoran,’’. kata Mashuri. 

Sultan sendiri dalam pernyataan resmi selalu mengemukakan alasan kesehatan yang menyebabkannya menolak jabatan wapres untuk kedua kali. Soeharto perlu Sultan juga karena intelektualitasnya. Sultan yang alumni Leiden memahami ekonomi, pertahanan, dan kebudayaan.

Adam Malik sang pengganti Sultan hanya bersekolah rendah, Sekolah Rakyat, sama dengan pendidikan Soeharto.
Adam yang selalu bangga dengan menyebut diri Putra Andalas itu orang pergerakan yang jadi diplomat secara otodidak. Soeharto memberikan kepercayaan kepadanya sebelas tahun jadi Menlu, Ketua DPR/MPR, hingga akhirnya dijadikan wapres. 
Adam pandai menimbulkan citra sebagai pendamping presiden yang dekat dengan rakyat. Ia juru bicara yang lincah, gesit gaul, bersemangat, dan punya antusiasme yang tinggi terhadap banyak persoalan lantaran nalurinya wartawan. Jasanya di lapangan internasional sangat besar: --menghidupkan kartu Soeharto di kancah pergaulan dunia.

Waktu JK jadi wapresnya SBY banyak sekali gunjingan, sehingga dikatakan the real president sesungguhnya adalah Jusuf Kalla. Banyak bumbu cerita tak sedap dan bau gosong menyengat, mulai dari KKN sang saudagar JK, kontrasnya sifat SBY yang peragu dengan pragmatisme JK yang bernaluri pedagang, dan seterusnya.

Nyatanya semua itu pengalaman berharga di lipatan lusuh sejarah kepemimpinan nasional, sehingga ke depan Presiden Jokowi diharapkan oleh rakyat dapat bersanding dengan figur wakil presiden yang tepat.

Siapakah orangnya?

Kriteria cawapres Jokowi di 2019 nanti haruslah figur dengan ciri karakter problem solver, bersih & lurus, berani, punya keberpihakan kepada rakyat, dan memiliki kemampuan yang telah teruji dan terbukti untuk mewujudkan legacy bagi Jokowi, sesuai dengan visi Jokowi sendiri antara lain Poros Maritim, Membangun Indonesia Dari Pinggiran, Nawa Cita, hingga Tri Sakti yang salah satu pointnya adalah perekonomian yang pro kepada kepentingan rakyat, bukan neoliberalisme yang menghamba kepada daulat asing dan daulat para aseng. 

Cawapres pendamping Jokowi harus merupakan figur yang memahami ekonomi yang benar-benar sejalan dengan Tri Sakti, sehingga kalau ditanya siapa orangnya, siapa figurnya? sebenarnya rakyat pada umumnya sudah sangat mengetahui dan hanya partai-partai politik saja yang belaga pilon pura-pura tuli dan tutup mata, karena nama atau figur tersebut mengerucut dan tertuju pada pada satu nama saja, yaitu Dr Rizal Ramli.

Inilah figur cawapres kids zaman now, dwitunggal yang sepatutnya, mengimbangi dan memperkuat Jokowi yang berciri solidarity maker, sedang Dr Rizal Ramli dikenal merupakan problem solver, dimana kedua-duanya adalah pemimpin berciri operational leadership. 

Kita sendiri mungkin telah melihat dan mendengar betapa ibadah sosial yang dibikin oleh Dr Rizal Ramli selama ini, di setiap tempat, di setiap daerah yang dikunjunginya, dibalas oleh rakyat dengan doa-doa, dengan penghormatan yang takzim, dengan harapan-harapan, dan keinginan-keinginan agar Dr Rizal Ramli bersandingan dengan Presiden Joko Widodo sebagai wakil presiden.

Inilah gairah baru harapan rakyat yang bakal nampak sesaat lagi di cakrawala 2018. ***

_____________

Oleh: Arief Gunawan, Wartawan Senior

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...