14 October 2019

Jokowi Memancing Makar?

Oleh: Ahmad Murtadlo Irama

Sejak dari awal aksi umat Islam tetap konsisten dan tegas pada satu tuntutan: tegakkan keadilan dan hukum untuk orang yg telah menghina ulama dan menistakan Alquran. Itu saja titik, tidak kurang, tidak lebih.

Tapi rezim Jokowi tampaknya pura-pura tidak paham apa yang menjadi tuntutan umat Islam dan selalu mengalihkan persolan. Di mata umat Islam, tindakan rezim Jokowi ini justru malah menambah keyakinan bahwa rezim Jokowi memang melindungi Ahok. Membenarkan rumor yang selama ini berkembang bahwa ada sebuah kepentingan besar dibelakang Ahok yang sedang berusaha dipertahankan dan dilindungi mati-matian oleh rezim Jokowi.

Berikut ini pola isu dan tindakan yang dikembangkan oleh rezim Jokowi untuk meredam aksi umat Islam, sejak mulai dari Aksi Bela Islam I, Aksi Damai II dan Aksi Super Damai III.


 
Sejak awal umat Islam sudah dengan jelas menyatakan mereka menuntut penegakkan hukum seadil-adilnya terhadap Ahok atas kasus penistaan agama. Namun rezim Jokowi menganggap angin lalu. Tidak ada tindakan apa pun terhadap Ahok. Sebaliknya, mereka justru berusaha meredam tuntutan umat Islam ini dengan mengembangkan wacana tafsir tandingan bahwa Ahok tidak salah. Mereka membentur-benturkan pendapat dan tafsir Surat Al Maidah 51 antar ulama dan memblow-up pendapat-pendapat ulama yang pro Ahok melalui berbagai media pendukungnya seperti media group (Metro TV, Metronews.com) dan grup Kompas.

Semua itu dilakukan dengan tujuan agar umat Islam bisa diredam dan pelan-pelan hilang ditelan waktu. Namun ternyata wacana yang dikembangkan rezim Jokowi tersebut tidak membuat umat Islam melemah. Umat Islam tetap bersatu mengadakan Aksi 14 Oktober 2016 di sepanjang jalan Thamrin.

Melihat aksi umat Islam I yang diikuti ribuan orang tersebut, rezim Jokowi dan pendukungnya masih tetap pura-pura tidak paham masalah. Bukannya mengakomodir tuntutan dan mencari solusi, mereka malah terus mencari berbagai alasan untuk terus meredam aksi umat Islam ini.

Melihat aksi umat Islam yang sudah tidak bisa dibendung dengan wacana tafsir tandingan, rezim Jokowi merubah arah serangan dengan mengembangkan stigma negatif kepada panitia dan peserta aksi dengan tujuan mendelegitimasi aksi umat Islam ini.

Rezim Jokowi dan para pendukung Ahok kompak ramai-ramai mengecilkan aksi umat Islam ini dengan menuduh aksi ini sebagai aksinya Front Pembela Islam (FPI). Langkah selanjutnya, mereka membully habis-habisan FPI sebagai kelompok preman bersorban, suka memeras, suka terima uang centeng dan lain sebagainya.

Intinya rezim Jokowi menggunakan teknik kill the massanger (bunuh si pembawa pesan) agar pesan atau tujuan aksi menjadi sumir, tidak jelas dan tidak bisa dipercaya.

Peserta aksi distigma dengan segerombolan orang yang bodoh, kriminal dan suka merusak (taman dan segala fasilitas umum). Peserta aksi disebut sebagai kelompok masyarakat intoleran, Islam radikal, dan disusupi paham teroris. Dan yang paling tidak masuk akal, mereka menuduh peserta aksi sebagai massa bayaran, dan ditunggangi untuk kepentingan Pilkada.

Pertahanan umat Islam tampaknya sangat kokoh. Mereka tetap bersatu dan konsisten dengan tuntutannya. Dan seolah sudah hafal dengan teknik dan strategi yang biasa dilakukan oleh rezim Jokowi. Berbagai isu dan tuduhan yang dilontarkan rezim Jokowi tampaknya seolah hanya melawan angin, dan semua yang dituduhkan tidak terbukti.

Di sisi lain rezim Jokowi terus membuat berbagai alasan untuk tidak menindak Ahok. Dan batas waktu yang diberikan umat Islam kepada Jokowi untuk menegakkan hukum sudah habis, ini semakin mengobarkan semangat dan mental umat Islam untuk menggelar aksi kedua pada 4 November 2016.

Rezim Jokowi tampaknya mulai tidak bisa menutup mata dengan aksi umat Islam II ini. Sebab peserta Aksi umat Islam II malah semakin besar dan mendapat dukungan yang meluas.....

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...