21 November 2017

Jasmerah dan Pedoman Strategis Sebuah Bangsa Menghadapi Spektrum Ancaman dan Tantangan Bentuk Baru

Oleh: Haris Rusly
Petisi 28 dan Kepala Pusat Pengkajian Nusantara Pasifik


Kami akan memulai tulisan ini dengan mengambil ilustrasi dari sebuah film romantis yang berjaya di bioskop, film The Vow, untuk menjelaskan tentang pentingnya apa yang menjadi pesan Bung Karno untuk tidak meninggalkan atau melupakan sejarah. “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” (Jasmerah), dont leave history, kata Bung Karno.

Kepribadian Lumpuh Akibat Amnesia

Kisah film The Vow sengaja kami angkat sebagai ilustrasi di dalam tulisan ini, karena setiap kita tentu tidak punya pengalaman hidup menderita amnesia atau hilang ingatan. Karena itu, kadang kita mengganggap sejarah sebagai sesuatu yang tidak penting-penting amat. Kita hanya memahami sejarah semata dari pendekatan teori ilmu sosial atau sebuah mata pelajaran yang menceritakan tentang kejadian-kejadian herois di masa lalu.

The Vow adalah sebuah film drama percintaan tahun 2012 yang disutradarai Michael Sucsy dan dibintangi Channing Tatum dan Rachel McAdams. Film The Vow sendiri diangkat dari kisah nyata pasangan suami istri dari Kim dan Krickitt Carpenter, yang menulis sebuah buku tentang kisah pernikahan mereka, yang juga berjudul The Vow.

Film The Vow mengisahkan pasangan muda suami istri, Leo dan Paige, yang terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil yang serius. Paige, sang istri, terplanting keluar melalui kaca depan mobilnya. Kepala Paige mengalami benturan keras yang menyebabkan Paige menderita amnesia, yaitu kondisi terganggunya daya ingatan, yang menghapus sebagian besar dari ingatannya tentang kisah percintaannya dengan suaminya, juga ingatan tentang pernikahan mereka.

Menderita amnesia atau hilang sebagian besar ingatannya mengakibatkan Paige, sang istri, lupa akan siapa suaminya, lupa bila dirinya telah menikah, lupa siapa orang tuanya. Bahkan, dalam bepergian si istri harus dituntun, karena rekaman memori terkait peta di kota tempat dia menetap juga hilang dari ingatannya. Lebih parah lagi, sang istri lupa selera makannya, bahkan lupa tipe spisifik laki-laki yang membangkitkan hasrat cintanya.

Kepribadian si istri mengalami kelumpuhan. Tak ada lagi pegangan nilai-nilai yang selama ini dibentuk oleh sejarah hidupnya, yang menjadi landasan dan panduannya dalam menjalani kehidupan. Ia masih punya kelengkapan panca indra yang berfungsi sehat, namun ia bagaikan orang yang buta dan tuli yang harus dituntun.

Tak ada lagi memori sejarah yang menuntunnya untuk membuat putusan dalam melangkah. Kehidupannya menjadi gelap gulita di dalam suasana terang. Paige yang dibantu oleh suaminya, Leo, harus berjuang keras menemukan kembali dirinya yang hilang, melakukan terapi untuk mengembalikan sebagian dari ingatannya yang hilang.

Demkianlah kisah nyata tentang penderitaan seorang yang mengalami amnesia yang diangkat menjadi cerita di dalam film tersebut.

*Memori Sejarah sebagai "Google Map" Kehidupan*

Untuk memudahkan pemahaman kita terkait amnesia, berikut kami kutip pengertiannya yang dimuat di dalam Wikipedia. “Secara teori amnesia adalah kondisi terganggunya daya ingatan. Salah satu dampak dari amnesia adalah ketidakmampuan membayangkan masa depan”.

“Penelitian terakhir yang dipublikasikan dalam jaringan di Procceding  of the National Academy of Sciences menunjukan bahwa amnesia dengaan kerusakan pada hipokampus tidak dapat membayangkan masa depan. Hal ini terjadi karena bila seseorang dalam kondisi normal, ia selalu menggunakan memori masa lalu untuk mengkonstruksi skenario yang mungkin dihadapi di masa depan” (Wikipedia).

Betapa pentingnya memori ingatan masa lalu, sehingga Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa menghadirkan dan menancapkan ke dalam memori umat manusia tentang berbagai kisah atau pengalaman sejarah melalui kitab-kitab yang diturunkannya kepada umat manusia, baik kitab Zabur, Taurat, Injil hingga Qur’an.

Bisa dibayangkan jika umat manusia dibiarkan untuk menciptakan sendiri persepsi tentang sejarah dirinya sebagai manusia, tidak dibimbing oleh sejarah penciptaannya sebagai manusia yang membedakan dirinya dengan binatang, syaitan dan malaikat yang ditulis dalam kitab-kitab itu. Maka, mungkin saja kita tak mengenali nilai-nilai luhur yang membedakan asal usul penciptaan dan perilaku kita sebagai manusia dengan syaitan dan binatang.

Demikian juga dalam sastra Weda dan Bhagawadghita, Tuhan juga hadir menjelaskan nilai-nilai luhur melalui sejarah perang saudara, Bharatayudha, antara Pandawa dengan Kurawa, yang merepresentasikan pertarungan abadi antara kejahatan, kemunafikan dan keserakahan melawan kebenaran, kejujuran dan kebaikan.

Melalui kisah baratayudha, dan juga sejarah pertarungan antara para nabi dan rasul melawan raja yang dzalim, Tuhan hadir menjelaskan kepada kita tentang salah satu hukum nya, yaitu hukum sebab akibat (kausalitas) dalam medan kehidupan sosial dan politik. Orang bijak mengatakan, “siapa menabur angin, maka dia akan menuai badai. Apa yang kita tanam hari kemarin dan hari ini, itu yang akan kita tuai di hari esok”.

Oleh karena itu, kisah-kisah sejarah yang ditulis di dalam setiap kitab Tuhan tersebut adalah semacam "google map" atau "waze" atau peta panduan arah yang diinstal oleh Tuhan kedalam memori umat manusia. Makanya, kita sering mendengar kata-kata dari ustadz, pastor atau pendeta yang sering mengulang ngulang khutbahnya, bahwa al-Quran itu adalah pedoman hidup atau Injil itu diturunkan Tuhan sebagai jalan yang bersinar yang menuntun umat manusia agar tidak tersesat di belantara dunia.

Agar tiap tiap umat manusia, ibarat memasuki hutan rimba (kehidupan), tidak mesti bernasib tersesat berulang kali, atau teperosok berulang kali ke dalam lubang yang sama, lantaran sebelumnya kita tidak pernah punya referensi atau pengalaman sejarah memasuki dan melewati wilayah tersebut.

Jika kita belajar pada pengalaman pribadi kita, maka kita akan dapat merasakan pentingnya memori sejarah dalam kehidupan kita. Setiap hari kita sebagai pribadi pasti membuat putusan putusan kehidupan, putusan untuk memilih bermitra dengan siapa, mengenali siapa yang menjadi musuh kita, hingga menentukan untuk makan apa, tanpa sadar semua putusan tersebut kita ambil berdasarkan sejarah yang terekam di dalam memori kita. Bahkan selera terhadap makanan yang membedakan satu satu dengan suka yang lain juga dibentuk oleh sejarah dan lingkungan.

Tiap perusahaan yang profesional, dalam membuat putusan untuk bermitra, agar tepat dalam menentukan mitra bisnis, tidak tertipu, pasti terlebih dahulu menyewa intelijen swasta (private intelligence) untuk melakukan "background check"  terhadap sejarah dan latar belakang calon mitranya, termasuk kesehatan keuangan dari calon mitranya.

Demikian juga dalam pengangkatan seorang pejabat negara, pasti melewati "fase fit and proper test" untuk mengecek track record kemampuan dan perilaku masa lalu dari si calon pejabat.

Baik background chek dan fit and proper test adalah pengecekan asal usul atau sejarah, yang menjadi landasan, pedoman dan penunjuk arah setiap negara atau setiap perusahaan dalam membuat putusan.

Sejarah Yang Membentuk Kepribadian Bangsa

Sampai di sini, kita sudah dapat menarik kesimpulan bahwa sejarah atau memori kolektif sebuah bangsa, baik sejarah jatuh bangunnya atau susah senangnya, adalah faktor terpenting yang membentuk kepribadian bangsa tersebut.

Sejarah adalah pedoman strategis sebuah bangsa dalam membuat keputusan dan menentukan langkahnya dalam menghadapi situasi dunia yang senantiasa berubah dan sering hadir dalam bentuk yang baru dan berbeda.

Karena itu, jika sebuah bangsa meninggalkan atau melupakan sejarahnya, mengidap amnesia, maka hancurlah kepribadian bangsa tersebut. Akibatnya bangsa tersebut pasti tersesat, kehilangan kemampuannya dalam membayangkan, merencanakan dan merumuskan langkah-langkah masa depannya.

Jika sebuah bangsa meninggalkan sejarahnya maka bangsa tersebut juga pasti tak bisa membedakan siapa yang menjadi kawan dan lawannya.

Karena itu jika sebuah bangsa akan dihancurkan, maka pasti dimulai dari menghancurkan sejarah atau memori kolektif masa lalu dari bangsa tersebut.

Jasmerah Berbeda dengan Trauma

Namun, perlu menjadi catat kita, filosofi Jasmerah berbeda dengan sikap traumatik. Seorang individu atau sebuah bangsa yang menderita trauma pasti selalu gagal dalam melakukan resolusi kehidupan. Menderita trauma menyebabkan setiap orang atau sebuah bangsa pasti selalu gagal dalam melangkah, melakukan resolusi kehidupan dan mengambil hikmah dari "up and down" nya kehidupan.

Bangsa yang menempatkan sejarah sebagai panduan strategis, pasti tidak traumatik, tapi selalu mengambil hikmah dari "up and down" nya kehidupan, untuk tidak terperosok berulangkali di lubang sama.

Masalahnya yang sedang terjadi pada bangsa kita saat ini arahnya cenderung menularkan penderitaan traumatik, terutama terhadap dua periode kelam di masa lalu, trauma terhadap Orde Lama dan trauma terhadap Orde Baru.

Tapi, sungguh aneh, kedua pihak, baik pihak yang trauma terhadap Orde Lama maupun pihak yang trauma terhadap Orde Baru, justru dibuat amnesia dan tidak traumatik terhadap sebuah periode paling kelam dan gelap dalam sejarah bangsa kita, yaitu periode kolonialisme dan imperialisme, yang menjajah bangsa kita hingga 300-an tahun lamanya.

Menutup tulisan ini, mari kita kembalikan ingatan sejarah, Jasmerah, terkait penjajahan kolonialialisme dan imperialisme. Di dalam petuah leluhur di Jawa, Jasmerah mempunyai padanan pengertian dengan "eling lan waspodo", yaitu eling pada sejarah untuk menjadi dasar bagi perumusan kewaspadaan atau antisipasi ancaman dan tantangan di masa depan, yang sering berubah bentuk dan berganti wajah.

Terkait sejarah yang membentuk Pancasila sebagai strategi dan kepribadian bangsa menghadapi spektrum ancaman bentuk baru akan dijelaskan dalam seri berikutnya.[***]

 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...