21 November 2018

Jamuan Ribawi Di Atas Derita Rakyat

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Pengasuh Grup Online BROWNIS

PERTEMUAN Tahunan Dewan Gubernur Dana Moneter Internasional (IMF) - Bank Dunia (World Bank) yang digelar di Bali mulai dari tanggal 8-14 Oktober 2018 lalu menghabiskan dana sebesar Rp 1 triliun. Hal tersebut dianggap sebagai pemborosan anggaran di tengah sejumlah bencana yang melanda Indonesia. Dimana seharusnya  pemerintah lebih mendahulukan penanganan bencana alam di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Penilaian itu disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief lewat akun twitternya. Andi Arief menyebut pertemuan tersebut menghamburkan uang. Terlebih, pemerintahan Joko Widodo justru menyebut jika anggaran pelaksanaan Pertemuan Tahunan Dewan Gubernur IMF - World Bank justru telah diajukan lama, yakni sejak era pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY pada tahun 2014 silam. "Menghamburkan uang negara hampir trilyunan buat pertemuan para rentenir, lalu berlindung dibalik ini diajukan para menteri jaman SBY adalah dagelan," tulis Andi Arief (wartakota.tribunnews.com/2018/10/08)

Tak bisa dipungkiri, hingga hari ini wilayah yang terkena bencana memang belum pulih benar, meskipun beberapa mentri bahkan presiden sendiri sudah menjanjikan dalam waktu yang singkat( hingga sebulan) akan sudah tercover semuanya. Inilah bukti nyata  pemerintah salah prioritas dalam menyelesaikan masalah. Seakan tak peduli bahwa pesta pora menyambut rentenir telah  menyobek hati rakyat, tak jelas kapan berakhir. Menjadikan peribahasa  yang pas bagi keadaan ini adalah sudah jatuh tertimpa  tangga pula. Padahal negara besar karena rakyat, penguasa yang hari ini duduk di tampuk pimpinanpun dipilih oleh rakyat.

Lebih ironis lagi  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat mempersilakan korban gempa bumi berutang di bank untuk membiayai pembangunan kembali rumah yang rusak sambil menunggu proses pencairan dana bantuan dari pemerintah. "Pinjam di bank sangat boleh. Nanti setelah uang bantuan dari pemerintah sebesar Rp50 juta cair dipakai untuk mengembalikan pinjaman," kata Kepala BPBD NTB, Mohammad Rum, di Mataram, Rabu (Teropong Senayan/24/10/2018). Padahal ini adalah jalan termudah bagi negara pemberi hutang, dalam hal ini barat mendikte bahkan menguasai aset-aset berharga Indonesia. Sungguh dzalim! untuk recovery di paksa berhutang. Yang semuanya berefek pada pelegalan riba. Padahal Indonesia adalah negara kaya. Namun kekayaan itu tak mampu dinikmati oleh rakyat, karena kembali sistem ekonomi kapitalis  mencengkeram kita sehingga kita  tunduk pada perjanjian-perjanjian yang  dibuat oleh investor asing, yang mereka hanya ingin menguasai ladang-ladang minyak kita, gunung emas kita, lembah batubara kita dan lain sebagainya. Hingga kita tak mandiri dalam ekonomi, sektor impor menjadi primadona para kapitalis tamak itu. Bagaimana kita bisa menakutkan bagi musuh, menggentarkan musuh  yang mengancam  kitapun tak mampu.

Hanya satu yang hari ini menjadi jawaban terbaik, yaitu Islam yang mampu menyelesaikan masalah dengan prioritas yg jelas. Salah satu tujuan ditegakkannya pemerintahan  adalah menyejahterakan rakyat. Seorang waliyul amri bertanggung jawab atas kesejahteraaan rakyat melalui kebijaksanaan yang diambil dari apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah swt. Dalam masalah ini peran waliyul amri sangat besar, tanggung jawab ini berada di pundaknya. Kelak ia akan ditanya tentangnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam (waliyul amri) yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya.”

Sebagai contoh, Amîrul Mukminîn Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu ,ia rela pada masa paceklik hanya makan roti kering hingga kulitnya menghitam. Atau bagaimana ketika ia memanggul sendiri sekarung gandung dari baitul maal untuk memberi makan seorang janda dan anak-anaknya yang kelaparan karena batu yang dimasak. Kalimat yang melegenda darinya adalah , “Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan." Wallahu a' lam biashowab.

 

 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...