20 March 2019

Ini Para Taipan dan Pemilik Lahan sekeliling Jokowi sebanyak Ratusan Ribu Hektar

Dalam debat capres Minggu malam tadi pak Jae "menyerang" prabowo terkait bagi2 lahan (HGU) tambang dan Kebun sawit... dan mengaku di masa dia bersih dari semua itu,  benarkah??? Apa benar di rezim Jae/Mukidi tidak pernah melakukan itu?? Benarkah rezim Jae tidak memiliki kasus2 terkait lahan tambang??

Mari kita simak sebagian  laporan  (LSM) JATAM yg di posting tgl 11 Februari 2019 ini terkait sepak terjang  orang2 terdekat Jae.

Di kubu Jae – Ma’ruf Amin, terdapat nama yg terkait langsung dg bisnis pertambangan dan energi. Mereka adalah Luhut Binsar Panjaitan, Fachrul Razi, dan Suaidi Marasabessy yang tergabung dalam Tim Bravo 5, serta Hary Tanoesoedibjo, Surya Paloh, Sakti Wahyu Trenggono, Jusuf Kalla, Jusuf Hamka, Andi Syamsuddin Arsyad, Oesman Sapta Oedang, dan Aburizal Bakrie.

Sebanyak 86% dari total biaya kampanye mereka  yang dilaporkan kepada KPU, sumbernya berasal dari Perkumpulan Golfer TBIG yang diduga adalah PT Tower Bersama Infrastructure Group dan Perkumpulan Golfer TRG yg juga diduga adl PT Teknologi Riset Global Investama. Setelah ditelusuri, pendiri kedua perusahaan tersebut adalah Wahyu Sakti Trenggono yang dalam TKN Jokowi – Mar’uf memegang posisi bendahara...
Wahyu Sakti Trenggono, bersama Garibaldi Tohir, juga merupakan komisaris PT Merdeka Copper Gold, salah satu pemegang saham PT Bumi Suksesindo yang menambang emas di Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi..

(Apakah bisnis2 mereka pernah bermasalah??? Dimana saja???)

Dalam kasus tambang emas Tumpang Pitu, baik Luhut Binsar Pandjaitan, Wahyu Sakti Trenggono  sama-sama memiliki hubungan bisnis dalam jejaring kepemilikan tambang emas di Tumpang Pitu.
Contoh lain ihwal tumpulnya penegakan hukum dalam sektor tambang, bisa kita temukan dalam kasus yang melibatkan perusahaan milik Luhut Binsar Pandjaitan di Kalimantan Timur yang, tercatat terlibat dalam perampasan tanah-tanah kelompok tani di Desa Sungai Nangka, Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara. Selain itu, PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN), Kutai Energi, dan Trisensa Mineral Utama yang semuanya anak perusahaan Toba Bara Group tercatat meninggalkan 36 lubang tambang, bahkan PT ABN telah menyebabkan rumah-rumah amblas akibat aktivitas tambang yang terlampau dekat dengan pemukiman.
Sejumlah perusahaan ini tetap beraktivitas, bahkan oleh rezim Jae – Kalla, konsesi tambang milik PT BSI dan PT DSI di Tumpang Pitu malah menjadi kawasan objek vital nasional, polisi menjaga keamanannya 1 x 24 jam sehari.

Relasi bisnis dan politik antara elit politik dan pebisnis tambang ini, juga kita temukan dalam kasus tambang di pulau-pulau kecil. Keberadaan tambang di 55 pulau kecil di Indonesia, terutama Pulau Gebe, Pulau Gee, dan Pulau Wawoni di Maluku Utara tak terlepas dari sosok Fachrul Razi, yang tergabung dalam Tim Bravo 5. Fachrul Razi tercatat memegang posisi Presiden Komisaris di PT Central Proteina Prima dan Komisaris Utama PT Antam. Fachrul yang juga merupakan Komisaris PT Toba Bara Sejahtera, bahkan memiliki saham di PT Antam yang menambang pulau-pulau kecil di atas.

LNH ;Dari sebagian catatan LSM Jatam di atas menunjukkan lingkaran Jokowi pun melakukan hal2 yg dituduhkan Jae terhadap Prabowo...
Jadi kesimpulannya ketika Jae menunjuk Prabowo dg satu jari...maka empat jari mengarah kepada dirinya...

Ini tidak akan posting ini jika Jae tidak melakukan sikap emosional sprt itu kepada Prabowo disaat debat ke II  td malam..saya hanya ingin bersikap proporsional saja. Dan berharap tim Jae ( atau Mukidi) intropeksi.

Laila Nahwa Harun, netizen, seorang warga

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...