16 December 2017

Indonesia Itu Bangsa Ksatria

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Awal bulan ini saya mendapat kesempatan untuk pulang kampung. Kepulangan saya tentu untuk sebuah misi mulia. Yaitu mensosialisasikan rencana saya membuka pesantren pertama di Amerika Serikat. Sebuah cita-cita mulia yang barangkali di benak sebagian orang adalah mimpi. Tapi justeru bagi saya mimpi itulah awal dari terbangunnya sebuah peradaban besar.

Kepulangan saya kali ini juga membuka jalan silaturrahim yang luar biasa. Saya dipertemukan dengan orang-orang mulia tanpa janji lebih awal. Semua terjadi begitu saja. Saya yakin semua bisa terjadi karena intervensi langit, yang mengetuk hati-hati manusia.

Pertemuan demi pertemuan semuanya memberikan dukungan penuh, baik moril maupun material, untuk terwujudnya pesantren ini. Sehingga tujuan kepulangan kali ini sejujurnya melampui ekspektasi saya sendiri. Kata orang Amerika: it is simply amazing!

Salah satu orang penting dan hebat yang saya temui adalah Panglima TNI Republik Indonesia, Bapak Jenderal Gatot Nurmantyo. Pertemuan yang terjadi begitu saja, tanpa protokol, tanpa aturan ketat, dan apa adanya. Persis seperti diri beliau sendiri. Sangat bersahaja, sederhana, tidak neko-neko, apa adanya dalam kata dan sikap. Saya bersama beberapa teman dari Parfi (persatuan artis film Indonesia), sang ketua Mba Marcella, dan wakil ketua Bung Ray Sahetapy, dijamu makan siang yang lezat oleh beliau. Hadir juga Bung Erros Jarot, seniman dan budayawan senior.

Diskusi santai pun terjadi. Diselingi gelak tawa dalam kenikmatan santap siang yang barokah itu, banyak hal yang dibicarakan. Dari konsep kesatuan nasional, kontribusi umat dalam perjuangan kemerdekaan, antara kata Indonesia dan Nusantara, hingga kepada relasi antara loyalitas kepada Tuhan dan negara.

Tapi saya sendiri sangat tertarik atau tepatnya kagum dengan penjelasan pak Jenderal tentang Indonesia yang ksatria. Bagi saya, kata yang telah lama saya sering dengarkan ini ternyata dari beliau mendapat pemahaman yang lebih dalam dan sangat relevan.

Ksatria itu adalah keberanian mengorbankan kepentingan sempit demi kepentingan bersama. Satu contoh yang beliau sampaikan adalah kesepakatan bangsa ini untuk mengambil bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia (bahasa nasional). Pengorbanan mayoritas suku Jawa menerima bahasa ini menunjukkan jiwa ksatria. Demikian pula penerimaan umat mayoritas Muslim dengan konsep Pancasila sekarang ini. Perumus Pancasila itu hampir semuanya adalah para ulama dan kyai. Tapi jiwa ksatrialah yang menjadikan mereka rela menanggalkan tujuh kata di sila pertama, demi merangkul saudara-saudara sebangsa dari agama lain.

Ksatria juga bermakna kesiapan melakukan secara bersama-sama tanpa ada kepentingan apa-apa. Semuanya dilakukan karena dorongan hati yang manis untuk mencapai tujuan bersama. Sikap ksatria inilah yang membangun semangat gotong royong bangsa ini. Semangat yang terbangun bersama untuk memberikan yang terbaik kepada sesama tanpa pamrih.

Menurut sang Jenderal, ternyata kata gotong royong itu tidak ditemukan dalam bahasa apapun. Tidak dalam bahasa China, Inggris, Jerman, bahkan tidak dalam bahasa Arab. Walau saya teringat sebuah kata dalam Al-Qur’an “ta’aawun” (saling menolong). Tapi setelah saya pikirkan lagi, saya berkesimpulan bahwa barang kali kata “gotong royong” itu lebih cenderung bermakna gabungan antara “ta’awun “ dan “iitsaar” (melebihkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri senriri). Sehingga boleh benar jika kata gotong royong memang unik pada dirinya sendiri. Wallahu a’lam.

Yang pasti adalah dari perjuangan merebut kemerdekaan, hingga sekarang ini memperjuangkan pembangunan bangsa, semangat gotong royong yang terlahir dari sikap ksatria tadi menjadi tulang punggung kemenangan. Rakyat, santri, kyai dan ulama, semuanya bergerak secara bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan, mempertahankan dan membangun bangsa dan negara ini.

Ksatria juga terlihat dalam berbagai budaya bangsa. Ambillah sebagai misal di mana setiap suku di Nusantara ini memiliki senjata dan tarian peperangan masing-masing. Aceh dengan rencong, Jawa dengan keris, Makassar dengan badik, hingga ke Papua, semuanya memiliki senjata kedaerahan.

Senjata dan tarian perang ini menggambarkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang ksatria dalam arti pemberani. Bangsa yang walaupun berkarakter santun, sopan dan rendah hati tapi memiliki karakter kemuliaan dan kehormatan. Bangsa yang tidak rela dan tidak akan menerima direndahkan dan dihinakan oleh orang lain.

Sikap ksatria seperti inilah yang menjadikan bangsa ini mampu merebut kemerdekaannya sendiri dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bermodalkan semboyan “Merdeka atau Mati” dan dilaksanakan dengan gotong royong, percaya pada kemampuan sendiri dan berperang dengan persenjataan apa adanya, berhasil mengalahkan dan mengusir penjajah Belanda yang menggunakan senjata modern. Kemerdekaan Indonesia tidak diberikan atau dihadiahkan olehe siapa-siapa. Tapi kemerdekaan yang diraih karena semangat ksatria di atas.

Intinya sikap ksatria adalah sikap yang tidak takut mati demi sebuah mencapai tujuan mulia. Sebuah konsep mulia yang diakui sebagai konsep baku dalam Islam. Konsep membela kebenaran dan hak serta harga diri melalui perjuangan hingga ke titik darah yang terakhir. Itulah konsep jihad di jalan Allah.

Nampaknya sikap ksatria ini pulalah, sebagai panglima dan prajurit yang profesional, beliau tetap memperlihatkan loyalitas tinggi kepada atasannya. Dengan segala godaan politik yang ada beliau tetap pada pendirian bahwa dalam tugas hanya ada satu kepentingan, kepentingan bangsa dan negara. Beliau tidak hanyut dengan godaan itu, apalagi hanya untuk kepentingan-kepentingan sesaat dan pribadi semata.

Sikap lurus dan apa adanya beliau ini juga boleh jadi menjadi bulan-bulanan dan gandengan bagi mereka yang memiliki kepentingan. Media sudah mulai membenturkan beliau dengan pihak-pihak tertentu sehingga nama dan integritas dipaksa untuk dinodai. Sebelumnya beliau ditampilkan oleh media dekat dengan kelompok yang dianggap punya karakter yang kurang bersahabat dengan pemerintah.

Saya melihat semua itu adalah percobaan (testing the water) kira-kira bagaimana masyarakat akan menilainya di satu sisi. Dan bagaimana pula beliau menyikapinya di sisi lain.

Sepertinya sikap ksatria ini pula yang menjadikan lima perwira TNI menolak promosi kenaikan jabatan setela berhasil membebaskan sandera di Papua. Sebuah sikap mulia dari prajurit, yang sangat mungkin karena ketauladanan sang panglima.

Yang pasti pertemuan dengan Panglima hari itu menjadi sangat istimewa karena beliau baru saja mengalami “insiden” lucu dan menggelikan. Beliau yang diundang oleh Panglima tentara Amerika untuk hadir dalam sebuah seminar di Washington DC tiba-tiba tidak diperkenankan masuk Amerika tanpa alasan yang jelas.

Saya katakan “lucu dan menggelikan” karena apapun alasannya apa yang terjadi adalah sebuah kesalahan fatal. Inilah yang menjadikan Amerika meminta maaf dalam berbagai jenjang. Dari Dubesnya hingga ke Panglimanya sendiri telah langsung meminta maaf kepada beliau.

Anehnya, permintaan maaf Amerika ini justeru didiamkan oleh media massa di Indonesia. Entah kenapa. Tapi tiba-tiba saja pikiran negatif saya berkata jangan-jangan memang ada yang bermain di belakang layar untuk membangun persepsi bahwa Jenderal Gatot Nurmantyo memang tidak disukai oleh Amerika. Dan karenanya dunia internasional akan tidak menyukai calon pemimpin bangsa masa depan ini.

Entah praduga ini benar. Tapi let’s wait and see!

New York, 18 Nopember 2017

* Presiden Nusantara Foundation

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...