20 January 2020

Indonesia Dihancurkan Para Politisi?

KONFRONTASI- Indonesia beberapa waktu terakhir lebih tampak seperti sebuah kota yg gelisah dibalik tembok-tembok yg rapuh. bagaimana tidak? Para elit politik telah mempertontonkan kecendrungan pengkotak-kotakkan persatuan bangsa lewat jor-joran dan kompetisi yg tidak sehat. Dinamika ini semakin membuat era reformasi ini justru bukan menghasilkan bangsa yg dapat tumbuh bersatu dengan kuat, melainkan sebaliknya. Dan harus diakui bahwa semua ini akibat terusiknya nilai-nilai demokratisasi yg dilakukan oleh kelompok sakit hati - yang tidak rela menerima kekalahan dari proses pemilihan presiden beberapa waktu lalu. Memang, hanya sakit hati yg bisa menciptakan ketololan yg brutal dengan jubah kusutnya.

Kondisi ini membuat parpol lebih sibuk untuk jegal menjegal daripada bergotong royong membangun Negara yg masih compang camping akibat baru lepas dari dominasi rezim ORBA yg serba otoriter. Dari kondisi “serba tidak boleh” mereka lalu ingin menikmati dan menciptakan kondisi yg “serba boleh”, termasuk boleh saling jegal menjegal. Bahkan bagi kelompok tertentu; boleh melakukan tindakan anarkis dan meledakan bom.

Rupanya partai politik sekarang; meskipun dipimpin oleh pendekar-pendekar masa kini, tapi masih berorientasi pada warisan lama gaya pendekar yg berjaya di masa lalu. Jurus-jurusnya masih sama, bahkan senjata sakti yg dipakainya pun masih sama. Parpol-parpol di era reformasi ini meliuk ke kiri atau ke kanan (seperti barongsai), tergantung orang yg memainkannya. Karena barongsai itu sendiri tidak memiliki roh atau nyawa (baca: garis politik) dan bahkan otak (baca: ideologi) sendiri.

Perlu ditegaskan bahwa dengan adanya UU Pilkada yang telah disahkan oleh DPR RI yang di dalamnya terdapat pemilihan tidak langsung kepala daerah, itu sama dengan menghilangkan dan mencabut hak konstitusional dirinya sebagai warga negara.  Dan kalian tahu, aku kehilangan hak suaraku dalam Pilkada untuk (dipilih menjadi kepala daerah) maupun hak untuk memilih karena kedua hak tersebut telah dirampas oleh DPR RI dan diserahkan ke DPRD. Tentu saja bukan hanya aku yg dirampok, tapi kamu juga dan seluruh rakyat Indonesia.

Peristiwa 26 September 2014 subu itu sunguh memilukan hati. Ketika palu pengesahan UU Pilkada diketok oleh yang mulia Priyo Budi Santoso (panglima perang) yang kemudian dirayakan oleh pendekar-pendekar KMP dengan riuhnya atas kekalahan rakyat dan matinya demokrasi di Negara ini - telah memberikan gambaran bahwa kubu itu, kubu yang memasang label nasionalis religius atau religius nasionalis masih dijiwai budaya kratologi.

Budaya kratonisme yg jelas bersifat feodalistik dan otoriter serta cendrung berperilaku antidemokrasi dan tidak ada lagi kepedulian pada aspirasi rakyat, juga aspirasi anggotanya. Bahkan dengan masih dihidupkannya budaya kratologi oleh SBY, Prabowo, Amin Rais & KMP itu, yang kemudian melahirkan konglomerasi politik, maka seperti yg pernah dimuntahkan sendiri oleh Amin Rais (yg tentu saja merupakan panglima tertinggi dari pendekar-pendekar itu) bahwa ini akan menjadi lonceng kematian demokrasi.

Ya, Amin Rais telah membunyikan lonceng kematian itu sendiri. Dia bahkan telah menyiapkan cangkul penggali liang kubur untuk menguburkan demokrasi bangsaku - menguburkan kedaulatan rakyat. Sesungguhnya, negeriku telah dihancurkan oleh mereka yg selalu mengumandangkan demokrasi, tapi mendustakannya. Pendekar-pendekar itu kian menjauhi bahkan meninggalkan aspirasi dan harapan rakyat. Mereka tidak lagi merasa sebagai ikan dan tidak melihat rakyat sebagai airnya.(Dani siahaan/KCM/kompas)

 

 

 
- See more at: http://www.konfrontasi.com/content/opini/indonesia-dihancurkan-oleh-para...

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...