18 September 2019

Ijasah Palsu: Ribuan Ijasah Palsu University of Sumatera dipakai Pegawai. Siapa Mereka?

KONFRONTASI- Ribuan ijazah palsu telah dikeluarkan University of Sumatera selama beroperasi secara ilegal dan tanpa memiliki izin dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Ini dikatakan Kopertis Wilayah I Sumatera Utara Prof. Dian Armanto

"Ini benar-benar memalukan dan dengan semudah itu mencetak ijazah ilegal," kata Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut, Prof Dian Armanto di Medan, Minggu (31/5/2015).

Sebelumnya, Personel Satuan Reskrim Polresta Medan, Rabu, (27/5) menangkap Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta University Of Sumatera berinisial MY yang diduga pembuat ijazah palsu S-1 dan S-2.

Petugas juga mengamankan barang bukti berupa satu lembar ijazah S-1 dan ijazah S-2 milik mahasiswa, uang tunai sebesar Rp15 juta, brosur universitas sebanyak 2.500 lembar, ratusan lembaran KRS, stempel rektor, stempel dekan dan lainnya.

Armanto mengatakan, Kopertis I sangat menyesalkan perbuatan yang dilakukan tersangka MY, yang mengobral ijazah palsu kepada masyarakat untuk memperoleh kepentingan pribadi.

Selain itu, tersangka tersebut juga meminta dana sebesar Rp10 juta hingga Rp40 juta untuk mendapatkan ijazah sarjana S-2 dan S-3 kepada mahasiswanya.

Bahkan mahasiswa itu, tidak perlu capek-capek untuk kuliah yang penting adalah mereka bisa mengeluarkan dana seperti yang diminta oleh tersangka tersebut.

"Kasus penjualan ijazah ilegal ini, sempat mengejutkan dan sekaligus mencemarkan nama baik perguruan tinggi di tanah air, dan kedepan diharapkan tidak terulang lagi," ucap Guru Besar Universitas Negeri Medan (Unimed).

Ia menjelaskan, berdasarkan pengakuan tersangka saat diperiksa penyidik Polresta Medan, MY telah memproduksi sebanyak 1.200 lembar ijazah palsu.

Praktik yang dilakukan university liar itu, sangat keterlaluan dan tersangka harus dihukum berat untuk membuat efek jera, serta tidak mengulangi lagi perbuatan melanggar hukum.

"Tersangka yang membuka perguruan tinggi bodong dan menjual ijazah palsu itu, melanggar Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional," kata Armanto

Kopertis Wilayah I Sumatera Utara telah melaporkan Rektor University Of Sumatera berinisial MY (63) ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi karena ditangkap aparat kepolisian menjual ijazah sarjana palsu kepada mahasiswanya.

"Kita telah sampaikan ke pimpinan mengenai rektor yang terlibat memperjualbelikan ijazah ilegal tersebut," kata Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut Prof Dian Armanto di Medan, Jumat (29/5/2015).

Sebelumnya, Personel Satuan Reskrim Polresta Medan, Rabu (27/5) menangkap Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta University Of Sumatera berinisial MY karena diduga pembuat ijazah palsu S-1 dan S-2.

Petugas juga mengamankan barang bukti berupa satu lembar ijazah S-1 dan ijazah S-2 milik mahasiswa, uang tunai sebesar Rp15 juta, brosur universitas sebanyak 2.500 lembar, ratusan lembaran KRS, stempel rektor, stempel dekan dan lainnya.

Armanto mengatakan, oknum rektor yang diringkus pihak berwajib itu, sebelumnya juga telah dilaporkan ke Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi karena tidak memiliki izin dalam mengelola universitas dipimpinnya itu.

Selain itu, menurut dia, rektor tersebut juga dikenal cukup handal dan tidak pernah mau melapor ke Kopertis mengenai izin yang belum dimiliki Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tersebut.

"Namun, akhirnya perbuatan rektor yang melanggar hukum itu, diamankan pihak berwajib," ujar Armanto.

Dia menyebutkan, alamat kampus Universitas itu juga fiktif dan tidak jelas serta selalu berpindah-pindah untuk memudahkan melakukan kegiatan bisnis ijazah ilegal.

Karena itu, katanya, Kopertis sangat mendukung upaya penegakan hukum yang dilakukan Polresta Medan.

"Bahkan izin dari Dirjen Dikti mengenai PTS itu, juga tidak pernah ada. Kopertis tidak pernah tahu izin Universitas yang tidak jelas tersebut," kata Guru Besar Universitas Negeri Medan itu.

Armanto menambahkan, rektor yang cukup nekad itu, dan berani secara terbuka menjual ijazah sarjana S-2- dan S-3 senilai Rp10 juta hingga Rp40 juta kepada mahasiswanya sangat melecehkan pendidikan tinggi yang ada di tanah air ini.

Perbuatan melanggar hukum itu tidak boleh dibiarkan serta harus diproses secara hukum hingga ke pengadilan.

"Dunia akademis dicemarkan oleh ulah rektor yang tidak bertanggungjawab itu dan hanya mencari keuntungan pribadi dengan cara yang salah," katanya. [tar]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...