23 May 2019

Hari Santri dan Suksesi Pemilu 2019

Oleh: Iin Solihin*

Angka 22 Oktober dewasa ini menjadi angka keramat, tiap tahun dirayakan dan diperingati yang disebut sebagai “Hari Santri Nasional ” tepat pada 2018 ini merupakan tahun yang ke -4 . Maka agar terlihat kompak, mesti digelar secara serentak di berbagai wilayah kabupaten dan kota di Indonesia. Publik pun mafhum, bahwa peringatan dan perayaan ini bukan sesuatu hal yang mubazir untuk dilaksanakan, apalagi hanya bersifat seremonilal . Momentum “Peringatan Hari Santri Nasional” memiliki makna historis, heroisme maupun patriotisme perjuangan ulama dan santri dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa melalui “resolusi jihad” , hal itu tentunya patut diteladani dan di syukuri .

Nurcholish Madjid dalam Bilik -Bilik Pesantren (2010:1) memaknai “ santri ” adalah orang-orang yang melek literacy “kaum terdidik” . Sedangkan Tihami dalam Tasbih dan Golok (Hudaeri:2007:62) menyebut santri adalah kaum terpelajar sekaligus Jawara karena memiliki kemampuan intelektual dan kanuragaan. Melalui definisi istilah tersebut, dinisba t kan bahwa kaum santri adalah orang kuat ber komitmen , kaum cerdas dan bijak, dimana tubuhnya mengalir darah merah putih “nasionalis dan religius” .

Oleh sebab itu, melalui penyelenggaraan peringatan Hari Santri Nasional ini menjadi satu tarikan nafas yang berkorelasi sebagai laboratorium artikulasi ( menyerap aspirasi) dan agregasi ( memperjuangkan ) kepentingan semua elemen anak bangsa untuk membentuk dan meningkatkan soliditas menyikapi persoalan-persoalan ke-Islaman dan ke-Indonesiaan secara kolektif dan konstruktif, utamanya menyikapi masalah yang tengah dihadapi baik kesejahteraan ekonomi, sosial dan politik.

Lalu apa makna Peringatan Hari Santri Nasional di tahun politik dewasa ini ?

Hari Santri dan Pemilu

Peringatan Hari Santri Nasional yang digelar pada tahun politik , Pemilu legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden 2019, dua agenda tersebut merupakan momentum penting publisitas politik dalam satu layar yang mesti digelar secara sukses.

Syahdan, jika dilihat kedua pasangan Capres dan Cawapres pada Pemilu 2019 ini , kedua pasangan tersebut baik nomor urut satu pasangan Joko Widodo-Ma’rup Amin dan nomor urut dua pasangan Prabowo-Sandiaga Uno, mereka semua nya sama-sama memiliki basis massa yang memperebutkan suara pemilih dari kalangan yang berasal dari kaum santri .

Realitasnya yang kini menjadi tantangan, sebagaimana tampak dipermukaan, tensi politik dewasa ini pada pelaksanaan ritual tahapan kampanye politik yang terhitung 23 September 2018-13 April 2019 semakin hari terasa panas, para elite politik semakin lihai , pintar bermanuver secara vulgar dari “perang tagar” hingga “drama Ratna Sarumpaet” semakin menambah komplikasi dan polarisasi antar pendukung kedua p asangan Capres dan Cawapres kian menguat dan meluas.

Atas realitas tersebut, Hadrot al-Syakh Hasyim Asyari pada kongres Nahdatul Ulama 1935 di Banjarmasin mengeluarkan Sirkuler ( surat edaran ) yang tersebar luas. Surat edaran tersebut secara tegas dan bernas mengingatkan kepada para ulama ( politisi ) agar hendaknya meninggalkan sifat -sifat fanatik (ta’assub), menghindari perilaku saling menghujat dan menjatuhkan , menghargai perbedaan pilihan politik. Agar tercipta persatuan, kembalilah pada agama yang satu yakni agama Islam. (Abdul Qadir Djaelani (1994:93-94) . Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia ).

Surat edaran Hadrot al-Syaikh Hasyim Asyari , merupakan nasihat yang mesti di amini untuk menjaga nalar agar tetap waras. Terlebih khususnya bagi kaum santri sebagai generasi calon pemimpin agama dan bangsa di masa depan . Tentunya, agar suksesi Pemilu legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden 2019 dapat dijalani secara bermoral . Maka dibutuhkan peran serta para ulama , elit politik dan e lemen anak bangsa menjadi tauladan bersama sebagaimana ungkapan bernas Ki Hajar Dewantara Ing Ngarsa Sung Tuladha,Ing Madya Mangun Karsa (didepan memberi teladan,ditengah memberi semangat dan dibelakang memberi kekuatan).

Oleh sebab itu, momentum Peringatan Hari Santri dapat dijadikan media untuk meredakan suhu panas awan politik demokrasi elektoral Pemilu legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden 2019 yang semakin pengap , maka harus membangun “fantasi cita-cita ” bersama melalui konvergensi simbolik dari Ernest Bormann (Suryadi, 2010:426) , konvergensi simbolik ( Symbolic Convergence Theory (CST) yaitu pola komunikasi yang mempertemukan dua kelompok dalam satu “panggung” yaitu pada momentum Peringatan Hari Santri .

Maka kedua kelompok yang berbeda orientasi dan dukungan politik Capres dan Cawapres di Pemilu 2019 , dapat bertemu , saling introspeksi , saling mengingatkan memperkuat persatuan menuju cita-cita membangun Indonesia bersama. Hal itu dapat dilakukan melalui empat tahapan, Fantasy Theme (Tema Fantasi) yakni semangat untuk menyikapi persoalan yang dihadapi . Fantasy Chain (rantai fantasi) yaitu kegairahan berpartisipasi rasa empati dan umpan balik . Terakhir Rhetorical Visions (Visi retoris) pembentukan kesadaran , kondisifitas bersama.

Dengan demikian, hikmah Peringatan Hari Santri bagi para ulama dan stakeholders lainnya sebagai komunikator politik yang memiliki kredibilitas, daya tarik, kesamaan dan kekuatan dapat menegaskan dan mengingatkan publik bahwa realitas dewasa ini bahwa d unia pendidikan pesantren berperan sangat penting sebagai labroratorium kaderisasi mencetak calon pemimpin masa depan . Maka kaum sa n tri harus di dorong untuk meningkatkan wawasan keilmuan nya agar sesuai dengan Imtaq dan Iptek.

Terakhir, dalam men yikapi tahapan suksesi Pemilu legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden 2019 ada baiknya semua pihak untuk tetap menjaga nalar dan kondisifitas , fanatis negatif , kampanye hitam, hoax dan fitnah merupakan tindakan yang berbahaya dan dilarang baik menurut peraturan negara maupun ajaran agama . Seorang satri sebagai kaum terdidik harus memegang kuat prinsip sebagai pejuang Fastabiqul Khoirot yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan. Agar meraih keteduhan dalam menjalani ritual demokrasi elektoral ini dilakukan secara santun dan wajar. Semoga !

______________

*Penulis adalah Santri Magister Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...