25 August 2019

Guru, Buruh yang Terabai

Oleh: Desi Dian S.

Profesi guru baru-baru ini menjadi perbincangan setelah munculnya Iklan dari perusahaan game yang diprotes masyarakat karena dipandang melecehkan profesi guru. Dalam iklan tersebut mengambarkan seorang guru yang kalah main game melawan muridnya yang mengakibatkan guru tersebut harus mengikuti keinginan muridnya dengan sambutan dan membawakan tas sang murid. Namun pelecehan yang sesungguhnya terjadi adalah ketika muncul wacana impor guru yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani. Bahkan menurut Puan saat ini indonesia telah bekerja sama dengan beberapa negara untuk mengundang para pengajar ke indonesia salah satunya dari Jerman. 

 
Wacana impor guru dilakukan dengan pertimbangan agar cara mengajar guru lebih baik dan menghasilkan murid yang berkualitas. Meski kemudian di klarifikasi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendi, bahwa Menko Puan bukan hendak 'mengimport' melainkan 'mengundang' guru atau instruktur luar negeri, untuk program Training of Trainersatau ToT. (republika.co.id 13 May 2019)

Wacana ini tetap mendapatkan protes dari berbagai pihak. Pasalnya menurut Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim menyampaikan jumlah guru di Indonesia sudah mencukupi. Ia merujuk data Kemendikbud yang menyatakan pada 2013 terdapat 429 LPTK, terdiri dari 46 negeri dan 383 swasta. Total mahasiswa saat itu mencapai 1.440.770 orang dan diperkirakan lulusan sarjana kependidikan adalah sekitar 300.000 orang per tahun. Padahal kebutuhan akan guru baru hanya sekitar 40.000 orang per tahun," ujar Ramli kepada reporter Tirto, Jumat (Tirto.com 10 Mei  2019).

Pendidikan adalah kebutuhan masyarakat, menyiapkan pengajar yang berkualitas adalah kewajiban negara sebagai penyelengara pendidikan. Namun bila melihat probelm pendidikan hari ini, ialah tidak berhasilnya sistem dalam mencetak generasi tangguh yang berkualitas, berkarakter kuat, mampu sebagai problem solver dan memiliki skill dalam kehidupan.  Sebut saja krisis moral yang terjadi, Kriminalitas mengatasnamakan kenakalan remaja kerap bermunculan seperti tawuran, pencurian, seks bebas banyak dilakukan oleh generasi muda kita.

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Harusnya kualitas guru sebagai tenaga pengajar ditingkatkan bukan malah mengundnag guru dari luar negeri tuk mengeder posisi dalam negeri.

Jaminan Kesejahteraan Guru

Tenaga Pendidik memiliki peran yang sentral dalam mencetak tenaga yang berkualitas. Bagaimana bila hari ini tenaga pendidik kita tidak sejahtera? Beban kompetensi yang banyak dan gaji yang tak sesuai membuat mereka mencari alternatif pendapat lain sehingga fokus mengajar tidak maksimal. Selain itu pendistribusian guru juga tidak merata sebab banyak tenaga pengajar yang memilih mengajar di kota besar.

Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam sistem Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara termaksud pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Di riwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madina yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000).

Sungguh luar biasa, dengan sistem islam para guru akan terjamin kesejahteraannya dan dapat memberi perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya tanpa harus dipusingkan lagi untuk membagi waktu dan tenaga untuk mencari tambahan pendapatan.Tidak hanya itu, negara dengan sistem islam juga menyediakan semua sarana dan prasarana secara cuma-cuma dalam menunjang profesionalitas guru menjalankan tugas mulianya.

Sehingga selain mendapatkan gaji yang besar, mereka juga mendapatkan kemudahan untuk mengakses sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Hal ini tentu akan membuat guru bisa fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia.

Sayangnya, kesejahteraan guru seperti diatas tidak akan didapatkan jika Islam tidak diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.  Karena hanya sistem Islam dalam naungan Khilafahlah kesejahteraan dan rahmatan lil alamin akan tercipta. Wallahu A’lam Bissawab.

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...