28 May 2017

Gesekan Tajam Jokowi-JK dan Lemahnya ‘Chemistry’ Kedua Elite Ini

KONFRONTASI- Ini  masukan dan peringatan bagi M Jusuf Kalla. pedagang yang sudah sepuh. Beredar kabar di kalangan aktivis, wartawan dan kelas menengah ibukota bahwa M Jusuf Kalla, wapres terpilih, sering meremehkan Jokowi. Di kalangan wartawan dan aktivis, dalam percakapan informal, sudah bukan rahasia lagi bahwa Jusuf Kalla yang senior  dan sepuh itu,  acap meremehkan dan menjelekkan Jokowi. Cerita ini beredar dari mulut ke mulut di kalangan wartawan dan aktivis. Ada apa gerangan?

Sebagai sosok senior, JK mungkin kesal dan jengkel sama Jokowi yang tak mau memenuhi permintaan dan sarannya. Gunjingan dan kritik bercampur dilontarkan JK terhadap Jokowi dalam percakapan informal dengan wartawan dan aktivis. ‘’JK nampaknya kecewa dan menjelek-jelekkan Jokowi, itu tidak etis dan tidak pantas,’’ kata seorang wartawan.

Orang lalu ingat gaya JK ketika jadi wapresnya SBY. JK  juga sering mengkritik, menjelek-jelakkan dan ngrasanin SBY yang notabene presidennya.

Bahkan di masa lalu, beredar video wawancara mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di dunia maya lewat tayangan wawancara dengan Bisnis Indonesia TV. Menurut JK, Jokowi hanya populer, namun belum bisa membuktikan keberhasilan membangun Jakarta.

Video berdurasi 3 menit 52 detik itu dibuat sebelum JK menjadi cawapres pendamping capres Jokowi. JK mengkritik pedas Jokowi yang dianggap belum pantas memimpin negeri ini. Menurut JK, bisa hancur negara ini jika mantan wali kota Solo itu menjadi capres. Kata dia, Jokowi populer, tetapi belum bisa mengurus ibu kota, apalagi negara ini.
 

Sebagai aktivis muda, kami rasa dan kira Jusuf Kalla tidak bisa lagi mendikte dan meremehkan atau menjelekkan Jokowi. Kami baca di media sosial, JK dianggap atau malah merasa lebih senior dan berpengalaman dari Jokowi, lalu mau mendiktekan kepentingannya kepada Jokowi. Terutama soal balik modal selama kampanye Capres. Kubu JK ingin segera ‘’balik modal’’, dan itu tidak digubris Jokowi yang mau amanah dan komit pada rakyat. Bukan transaksi jual beli dan untung rugi seperti kubu JK. Gesekan kepentingan dan lemahnya chemistry Jokowi-JK akibat urusan soal modal tersebut.

Jokowi didukung rakyat, bukan pemodal, dan sebaliknya JK merasa mengeluarkan modal untuk pilpres, lalu minta segera balik modal? Kalau itu terjadi, JK tidak amanah dan tidak akan khusnul khotimah karena ternyata bukan untuk mengabdi sebagai Wapres, namun ‘’business as usual’’ . Semoga JK amanah dan tidak jadi  macan tutul  di kandang banteng sebagaimana diingatkan Nehemia Lawalata, senior kami di  Persatuan Alumni GMNI.,

(Penulis: Galih Andreanto, peneliti Insitute Agraria dan aktivis GMNI bersama Darmawan S, Direktur  Freedom Foundation)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



News Feed

loading...

Baca juga


Loading...