23 July 2019

Game Online dan Kerusakan Generasi

Oleh: Ratna Kurniawati 
Aktivis Remaja

Di era yang serba digital saat ini, sangat mudah mengakses layanan internet sehingga membawa manusia pada banyak perubahan, termasuk hadirnya sejumlah hiburan dan aktivitas lainnya yang berbasis online. Ada banyak aktivitas online yang dilakukan di sela-sela kesibukan, salah satunya adalah bermain game online. Tidak hanya sebatas anak muda saja, bermain game online juga disukai oleh hampir seluruh kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orangtua. Peminat game online terus meningkat setiap tahunnya, bahkan besar kemungkinan masih akan meningkat di masa yang akan datang. Tingginya minat masyarakat akan permainan yang satu ini jelas membawa keuntungan besar bagi perusahaan penyedia game online, sehingga wajar saja jika sebagian perusahaan ini begitu semangat untuk merebut pasar yang ada, yaitu dengan rajin mengeluarkan game terbaru ke pasaran. 

Sedangkan bagi penikmat game akan menjadi kabar baik dan sekaligus “ancaman” yang dapat menimbulkan kecanduan. Tidak masalah jika penyuka game ini memiliki kontrol yang baik dalam mengelola waktu dan membatasi diri dalam bermain game online ini. Namun, jika ternyata tidak, maka besar kemungkinan para peminat game akan menjadi salah satu pecandu game online. Main game online memang bisa menyita waktu hingga harta. Banyak sekali orang yang menghamburkan uang untuk membeli item atau skin di dalam game online. Ada pula yang melakukan segala cara untuk mendapatkan fitur-fitur dari game tersebut.

Pokkt Decision Lab dan Mobile Marketing Associattion (MMA), melakukan studi terkait game di Indonesia dan menyatakan jumlah gamers di negeri ini mencapai 60 juta dan jumlah tersebut di perkirakan meningkat menjadi 100 juta di tahun 2020. Sedangkan bagi para gamers, bermain on line menjadi ajang untuk mengumpulkan uang dalam berbagai even atau pertandingan.

 Namun di balik 'sedapnya' game on line timbul berbagai dampak negatif tidak hanya bagi kesehatan namun juga menimbulkan banyak tindakan kriminalitas yang di lakukan oleh para 'pecandu' game on line.  Selain itu fakta membuktikan kecanduan bermain game on line juga mampu membuat anak - anak malas untuk belajar  atau memahami pelajaran di sekolah. Mereka lebih peduli dengan permainan game on line di bandingkan pelajaran di sekolah. Pelajaran sekolah menjadi tidak menyenangkan lagi. Padahal dengan belajar mereka akan mendapat banyak ilmu yang dengan nya mereka akan menjadi generasi yang hebat. Tidak hanya itu game on line pun turut berperan membentuk karakter remaja. Kondisi remaja yang terisolasi dari interaksi dengan masyarakat menjadikan mereka tidak peduli terhadap orang lain. Para generasi milenial pun menjadi terlena dan malas untuk meraih cita - cita dan memilih untuk menenggelamkan diri dalam dunia game on line. Banyak orangtua yang prihatin dan mengeluhkan kondisi anak-anak mereka, karena mereka menjadi anak - anak yang sulit di atur dan kasar.

Sungguh amat di sayangkan, di saat orang tua yang resah dan mengeluh karena maraknya game on line yang memberikan dampak negatif di bandingkan dampak positif, pemerintah justru kini akan memberikan kemudahan dan memfasilitasi untuk bermain game online. Dalam debat capres putaran ke 5 tanggal 15 April 2019 lalu, capres nomer urut 1 Joko Widodo mengemukakan bahwa industri game di Indonesia mempunyai peluang besar untuk pertumbuhan ekonomi sehingga pemerintah akan membangun infrastruktur digital untuk memfasilitasi para gamers.

 

Disaat banyak harapan digantungkan di pundak remaja, namun saat ini remaja sang “agent of change” sedang terpuruk dan tenggelam dalam dunia game dan dunia maya yang melenakannya. Islam tentunya bukanlah agama yang tidak mengerti tentang manusia. Islam memperlakukan manusia sesuai naluri dan kemanusiaannya. Islam sangat memberikan keluasan dan kelapangan bagi manusia untuk merasakan kenikmatan dunia.

Kenapa kondisi ini bisa terjadi? saat ini manusia hanya memikirkan keuntungan yang sebesar besarnya, melupakan dampak kerusakannya pada generasi muda. Sistem ini namanya sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan.  Padahal

Islam memandang semua pihak bertanggung jawab dalam menjadikan generasi baik sebagai orang tua sebagai wadah pertama dan utama di rumah, lingkungan tempat generasi tinggal dan hidup di dalam masyarakat dan negara yang bertanggung jawab dalam melahirkan generasi yang islami yang juga merupakan tugas dari negara. Islam memandang media sebagai madaniyah yang merupakan hasil kecanggihan teknologi yang secara hukum boleh digunakan hanya saja media perlu di awasi keberadaannya karena akan memberikan pengaruh pada masyarakat tergantung pada baik dan buruknya sistem yang menghadirkannya. Negara dalam hal ini sebagai pemegang kebijakan wajib mengerahkan segenap potensi dana, ahli dan teknologi untuk menangkal pemikiran dan ide yang bertentangan dengan aqidah Islam melalui media dan melarang konten yang merusak. Negara juga dapat menghadirkan keteladanan generasi yang sukses dalam peradapan Islam sehingga dapat dijadikan role model bagi generasi remaja saat ini. Meniadakan tontonan yang melemahkan baik berupa film atau games.

Beginilah gambaran dunia Islam menjaga generasi dari kerusakan akibat media. Hanya saja, semua ini dapat terwujud jika Islam di terapkan secara sempurna. Generasi yang unggul tidak akan lahir dari suatu sistem yang rusak seperti sistem sekurelisme. Generasi yang unggul hanya akan lahir dari sistem yang unggul yakni ketika Islam diterapkan secara kaffah. Sejarah juga telah membuktikan selama 13 abad bahwa penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah mampu melahirkan generasi yang cemerlang.يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُو مبينٌّ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...