10 December 2019

Derajat Mulia Ala Pesohor Negeri

Oleh : Rut Sri Wahyuningsih
Pengasuh Grup Online Obrolan Wanita Islamis ( BROWNIS)

Tak heran jika hari ini Tren Outfit of The Day (OOTD) di kalangan fashionista dikatakan bisa mendatangkan keuntungan. Mulai dari fashion editor, fashion blogger, model, selebriti, dan juga fashionista yang rajin memposting gaya kesehariannya dengan label 'OOTD'.

OOTD adalah singkatan dari Outfit of The Day, sebagai padanan kata untuk menunjukan apa yang anda pakai di hari itu. Konsep OOTD sangat sederhana, dan tidak terlalu dibuat-buat. Dalam artian, itu adalah outfit pribadi yang benar-benar mereka pakai untuk beraktivitas dalam satu hari. Hashtag ini sudah mulai populer sekitar 2 tahun terakhir.

Namun, seiring dengan semakin banyak pihak yang demam OOTD, dan dibarengi dengan pemahaman kebebasan berprilaku ala demokrasi, OOTD menjadi ajang pamer yang terkadang tidak manusiawi. Semakin wah penampilan mereka, matching padu padannya, harga barang yang menempel di badan mereka diatas rata-rata , hingga statusnya limited edition makin mereka berpendar. Lihat saja, dengan santai para pesohor itu menyebutkan harga, lokasi mereka beli, cara mereka berburu barang yang kini mereka kenakan, hingga seberapa langka barang itu di dunia telah membuat mereka lebih " mulia " dimata follower.

Bisa dibayangkan, jika rating mereka naik di saluran IG atau Youtube yang mereka miliki artinya makin banyak follower maka makin banyak uang yang mereka dapatkan. Demikian pula endorse para produsen fashion. Kembali para pengusaha bermental kapitalislah yang mendulang dollar. Sama-sama bahannya namun jika sudah diperkenalkan atau dikenakan oleh salah satu pesohor, maka ratusan bahkan ribuan anak muda , termasuk muslim muslimah, membebek tanpa paham apakah itu mengandung hadlarah agama lain atau bukan.

Televisi yang pada fungsi asalnya adalah sarana untuk mengedukasi masyarakat bahkan rela menayangkan acara live gaya hidup para pesohor ini, dari mulai mereka ulangtahun, menikah, sekedar berwisata atau dengan sengaja hanya ngoprek " barang " mereka di rumah mereka.

Sungguh ironi, jumlah mereka bisa jadi hanya sekian persen dari total penduduk Indonesia. Namun mereka mayoritas muslim dan tinggal di wilayah mayoritas Muslim. Dimana seharusnya mereka menampakan gaya hidup seorang muslim namun mereka telah terkooptasi dengan pemikiran barat. Tubuh dan hidup mereka mutlak milik mereka maka bebas digunakan untuk apa.

Tak ada kata mubazir, tabaruj atau riya, seakan mereka sah mempertontonkan kemewahan karena mereka khusus. Padahal di desa, kota dan berbagai wilayah, berapa juta mata melihat dengan angan yang melambung mengharap kemuliaan itu ada pada mereka juga. Karena kesenjangan sosial dan terdegradasinya akidah yang sahih muncullah berbagai kerusakan sosial. Pembunuhan, pencurian, traficking, pelecehan, pemerkosaan, perampokan, prostitusi dan lain-lain menjerat masyarakat. Rasa aman kian mahal, apalagi ketentraman. Karena setiap saat dipenuhi dengan hasad, iri hati dan ambisi meraih dunia agar mendapatkan kemuliaan semu.

Akidah Islam telah tergeser oleh sekulerisme yang menuhankan pendapat manusia, melempar jauh campur tangan Sang Khalik. Status mulia dimutilasi sedemikian keji hingga pada batasan jasadiyah semata. Padahal Allah telah menjelaskan secara gamblang, hambanya yang mulia adalah hamba yang menyelisihi apa yang diperintahkan atau dilarang. Allah berfirman dalam Quran surat Al-Hujurat: 13, yang artinya:

 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Menjadi kaya boleh dalam Islam, karena ibadahpun butuh harta. Namun, menjadikan kemewahan yang dimiliki sebagai ajang pamer dengan anggapan lebih mulia dibanding dengan yang lainnya. Bahkan menjadikan kekayaannya sebagai komoditas ketenaran dan statusnya sungguh dicela oleh Islam. Inilah yang menghantar generasi muda kepada penderitaan dan kehinaan.

 Mereka terbuai dengan dunia dan lupa berjuang demi agama mereka. Kalaulah berkerudung atau bersarung itu hanya atribut kemusliman mereka. Kemudian melanggar apa yang dilarang dan diperintahkan agama. Bagaimana kelak nasib  Karena kemuliaan bukan pada banyaknya harta atau tingginya popularitas melainkan ketakwaan. Wallahu a' lam biashowab.

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...