19 December 2018

Dapat Pasokan Listrik PLN, Kilang Pertamina Untung Atau Buntung?

Oleh: Yusri Usman*

Kebijakan Pertamina akan merubah suplai listrik dari “steam generator ” milik Pertamina di kilang Dumai, Plaju , Balongan ,  Cilacap dan kilang Balikpapan dgn suplai listrik PLN sungguh harus dipertanyakan dasar kajiannya.

Walaupun menurut keterangan Direktur Pengolahan Pertamina Budi Syarif bahwa bentuk sinergi dengan PLN  sebagai pemasok listrik untuk 5 kilang , maka Pertamina akan mendapat keuntungan sebesar Rp 2,79 triliun pertahunnya , tentu kalau benar terjadi , maka ini bisa sebuah lompatan efisiensi yang besar di Pertamina.

Pernyataan itu disampaikan Budi syarif setelah menanda tangani  MOU ( Memorandum of Understanding ) antara Pertamina dengan PLN yang diwakili oleh Direktur Perencanaan Korporat Syofvi Felienty Roekman di Jakarta hari Jumat 3/8/2018.

Sebagai informasi saja bahwa selama ini kilang Pertamina membutuhkan pasokan listrik sebesar 60 sd 75 MW untuk setiap kilangnya , dan rata rata ada 6 ” steam generator ” milik Pertamina disetiap kilang dengan kapasitas masing masing 20 MW.

Kalau untuk pemakaian listrik kebutuhan infrastruktur penunjang kilang tentu tidak masalah , seperti untuk kantor dan kompleks perumahan  Pertamina di area kilang tentu boleh dan bisa disubstitusi memakai listrik dari PLN .

Akan tetapi kalau untuk operasional kilang tidaklah sesederhana itu, tentu pertanyaannya mengapa  ???.

Karena listrik untuk kilang adalah listrik kualitas tinggi, dimana frekuensinya harus dijaga benar benar stabil, baik terkait frekuensi maupun Voltasenya.

Kalau listrik PLN pada saat beban puncak ( jam 17 ~ 21) saat konsumen mulai menyalakan lampu malam hari serta TV dan sebagainya, maka listrik PLN biasanya karena beban puncak mendadak naik, frekuensi akan turun, demikian juga voltasenya.

Sehingga  banyak rumah rumah tangga yg mampu secara mandiri memasang alat stabilizer voltase.

Karena kalau  tidak memasang stavolt ( stabilizer voltase) maka peralatan elektroniknya akan cepat rusak karena naik turunnya Voltase dan frekwensi tersebut .

Bagaimana akibatnya bila listrik PLN dipakai di Kilang ??? , bahwa

Kilang akan rawan “Shut Down” (stop operasi), sekali kilang stop operasi dan untuk menormalkan kembali dengan tahapan “start up”, memerlukan waktu yang tidak sebentar , dibutuhkan 3~5 hari .

Artinya dalam priode Start Up tersebut sudah terjadi “Opportunity Loss Margin” kilang , karena untuk menormalkannya kilang saja membutuhkan 4 hari kerja, sementara per harinya kapasitas kilang tersebut mengolah 350.000 barrel minyak mentah , maka berapa potensi losses yg akan terjadi ???.

Hal tersebut sangat rawan , kecuali kalau PLN sudah benar benar mampu memproduksi listrik dengan kualitas super, yaitu stabil voltase maupun frekwensinya , pertanyaan adalah apakah  PLN berani menjamin kehandalan dan kualitas listriknya  ? , seperti yang telah diucapkan oleh direktur korporat PLN .

Karena saat ini publik masih meragukan kualitas listrik PLN ” belum mampu” menghasilkan kualitas listrik seperti yang dihasilkan oleh pembangkit Kilang Pertamina yg memang di design khusus untuk hal tersebut.

Hal lain perlu diketahui, bahwa pembangkitan listrik Kilang Pertamina didahului dengan membangkitkan “steam” , dan kemudian ” steam ” ini dipakai untuk pemanasan unit unit operasi kilang, dan steam  setelah dipakai untuk proses di kilang akan turun tekanannya, kemudian “steam” tersebut  baru dipakai untuk membangkitkan listrik memakai “Steam Turbin Generator”, proses integrasi pembangkitan inilah yg dikenal dengan terminologi ” Steam & Power Balance”.

Sehingga tidaklah mudah  listrik diganti dari PLN seperti yang diwacanakan dalam kerjasama yang telah ditanda tangani tersebut.

Kalau hal tersebut akan dilakukan bahwa listrik untuk kilang akan diganti total suplainya dari PLN , maka beberapa hal harus dijawab pertanyaan sebagai berikut :

1. Steam sisa dari pemakaian operasi kilang apakah langsung dibuang ??

Karena tidak dipakai lebih lanjut untuk membangkitkan listrik, artinya akan terjadi pemborosan berupa limbah panas yg dilepas ke atmosfir, tentu Ini polusi “panas” yg sia2 .

2. Pemakaian bahan bakar ( fuel oil atau gas oil ) untuk pembangkitan steam tetap saja seperti semula , kecuali boiler dimatikan semuanya , padahal boiler boiler itu sangat dibutuhkan untuk memproduksi kebutuhan ” steam ” di kilang , selain itu menurut informasi boiler di kilang angka MCR ( maximum capacity rate ) sekitar 60% , artinya kapasitas dan efisiensinya masih rendah.

3. Ada tambahan biaya operasi kilang , karena harus membayar listrik yg di supply dari luar kilang Pertamina oleh PLN , tentu menambah BPP ( Biaya Pokok produksi ) kilang menjadi tidak efisien.

4. Apakah Pertamina berani menjalankan pola operasi N + 1 terhadap ” steam generator ”  ( 5 beroperasi , 1 stand by )?.

5. Kalau terjadi stop operasi, untuk menormalkan kembali anggap saja diambil waktu tercepat 4 hari , sebagai contoh kilang Cilacap dengan kapasitas 350.000 Barrel Pengolahan Crude/hari.

Maka ada potensi kehilangan operasi pengolahan crude sebesar 4 x 350.000 = 1.400 000 Barrel ini berapa potensi kerugian dialami Pertamina  ???.

Ini baru contoh untuk 1 kilang per 1 kejadian , bagaimana kalau terjadi terhadap 2 kilang ?.

Asal tau saja , setelah lebaran pada akhir bulan Juni 2018 telah terjadi musibah di kilang RU II Dumai mengalami ” black out ” , dan butuh 4 hari menormalkan operasinya , begitu juga yang terjadi pada kilang RCC Cilacap minggu lalu   pada unit WGC ( waste gas compressor ) terjadi ” trip ” dan gas dibakar selama 2 jam , sehingga untuk kedua kejadian tersebut berapa besar ” potensial loss ” pada arus kas Pertamina.

Kecuali kalau potensi kerugian tsb ditanggung PLN bila terjadi akibat kualitas listrik yang di supply tidak stabil (baik frekwensi maupun voltase) tersebut , akan tetapi apakah PLN sanggup menjamin dengan garansi ganti rugi tersebut  ???.

Dengan kata lain, ide untuk mengganti pasokan listrik kilang Pertamina dari PLN perlu dilihat secara komprehensif dan sebaiknya tidak perlu buru buru membuat  keputusan seperti anak kecil yang baru melihat potensi , tetapi sangat tidak memahami potensi resiko yang harus dikompensasikan.

Memang tidak mudah dan perlu kehati2an dengan melakukan analisa mitigasi resiko.

Oleh karena itu jangan sampai publik menilai bahwa narasi  Pertamina akan mendapat penghematan sebesar Rp  2,79 triliun apabila membeli listrik dari PLN hanya sebagai pencitraan saja , atau jangan jangan ada upaya menularkan virus PLN  ke Pertamina.

*Direktur Eksekutif CERI

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...