16 June 2019

Clurit Madura’ Dipinjam Anies, Demi Kedaulatan Pribumi?

Oleh: Thowaf Zuharon*

Dalam pidato perdananya sebagai Gubernur DKI Jakarta yang telah menjelma menjadi pusaran polemik tiada henti, Anies menyampaikan Kredo Kebangsaan agar seluruh pribumi Indonesia, khususnya di Jakarta, bangkit melawan penjajahan. Tentunya, kita tidak mungkin lugu, mengartikan “penjajahan” yang dimaksud Anies dalam artian fisik, seperti masa sebelum kemerdekaan. Sebagai metafora pidato seorang Gubernur, kutipan kondisi masa lalu tentu berkaitan dengan kondisi masyarakat Jakarta saat ini yang masih “merasa terjajah” secara ekonomi, budaya, politik, sosial, dan berbagai sendi kehidupan lain. Selalu ada relasi erat antara tekstualitas masa lalu dengan kontekstualitas masa kini.

Sangat jelas, Anies menyampaikan, rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme..... Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, Itik se atellor, ajam se ngeremme. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain. 

Diksi kata “pribumi”, telah membuat Anies diserang dari berbagai penjuru angin. Di sisi lain, Anies juga mendapatkan pembelaan dari berbagai kalangan. Namun, yang justru paling penting, popularitas Anies meroket, bukan hanya secara nasional, melainkan juga mendapatkan sorotan dari berbagai kalangan di luar negeri.

Tom Pepinsky, dosen perbandingan politik program Asia Tenggara, Universitas Cornell, Amerika Serikat, justru menyatakan bahwa pidato Anies adalah pidato Presiden, bukan pidato Gubernur. Karena, bagi Tom, pidato Anies seperti pidato untuk pemilihan presiden 2019, menempatkan Jakarta sebagai pusat politik, lalu menempatkan dirinya sendiri sebagai politisi nasional. Lebih gila lagi, Tom Pepinsky berspekulasi, bahwa penjajah yang dimaksud Anies dalam pidato ini, di masa sekarang adalah Ras Cina dan Negara RRC yang dipersepsikan sedang mencoba mencengkeram kedaulatan Pribumi Indonesia.

Selama berpidato, Anies banyak mengutip peribahasa dari berbagai daerah ketika menyampaikan berbagai visi kepemimpinannya. Uniknya lagi, Anies mengurai kelima sila di dalam Pancasila dengan nukilan peribahasa dari berbagai daerah.

Perhatian besar Anies terhadap peribahasa, merupakan angin sejuk bagi para khalayak sastra dan linguistik di Indonesia. Baru kali ini, ada seorang pejabat tinggi yang selalu menggunakan peribahasa berbagai daerah ketika menyampaikan berbagai pemikiran dan rencana kepemimpinannya. Di masa yang akan datang, akan sangat indah, tentunya, jika dalam setiap pidato, Anies selalu mengutip peribahasa daerah yang menyimpan berbagai mutiara kearifan nusantara. Peribahasa daerah adalah “filsafat asli” dari berbagai suku yang ada di nusantara.

Tak pelak, ketahanan nasional bangsa Indonesia dalam budaya, menjadi terbangun kuat melalui kebiasaan Anies mengutip peribahasa. Anies telah menciptakan tren baru dalam gaya berpidato, yaitu “Pidato yang Beraroma Peribahasa Nusantara”. Tanpa banyak disadari orang, dengan terus mengutip peribahasa, Anies telah menjadi Agen dari kekayaan immaterial (falsafah hidup) seluruh Pribumi Indonesia.

Namun, yang perlu kita cermati bersama, ketika menggelorakan semangat kedaulatan pribumi, Anies lebih memilih peribahasa Madura. Pertanyaannya, kenapa untuk mewakili semangat kebangkitan pribumi, Anies tidak memilih peribahasa yang bukan Madura? Kenapa Anies tidak mengutip pepatah Arab yang luar biasa banyaknya? Kenapa tidak memilih pepatah/peribahasa Jawa yang jumlahnya mayoritas di Indonesia maupun Jakarta? Kenapa Anies malah tidak memilih peribahasa Betawi yang dianggap suku asli kota Jakarta? Apakah semangat pribumi hanya ada di dalam nukilan peribahasa Madura berbunyi, “Itik se atellor, ajam se ngeremme. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain.”

Dalam amatan saya, Anies memilih peribahasa Madura tersebut dengan penuh kesadaran dan pertimbangan yang lama. Tidak asal comot. Barangkali saja, ada peribahasa daerah lain yang juga bisa mewakili semangat perjuangan pribumi. Jangan-jangan, Anies memang sengaja memberi pesan, bahwa peribahasa Madura lebih tepat dalam mewakili semangat kebangkitan pribumi. Anies lebih merasa cocok meminjam “Clurit Madura” (lambang dari karakter budaya Madura) sebagai “senjata bahasa dan peribahasa” dalam menyampaikan maksud dan tujuannya, guna menjunjung kedaulatan pribumi. Anies yang lahir di Kuningan, besar di Yogyakarta, justru tidak memilih kujang, keris, atau pedang arab.

Jika diperkenankan berintrepretasi, saya melihat, Anies ingin menyampaikan, bahwa karakter orang Madura memang memiliki semangat dan mental yang kuat dalam menjunjung kedaulatan pribumi. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang mempunyai etos kerja yang tinggi, ramah, giat bekerja, ulet, dan suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang perantauan asal Madura umumnya berprofesi sebagai pedagang, berjual-beli besi tua, pedagang asongan, dan pedagang pasar. Tapi, tidak sedikit pula di antara mereka yang menjadi tokoh nasional.

Harga diri, menjadi hal paling penting dalam kehidupan orang Madura. Mereka memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura. Karakter orang-orang Madura yang keras dan kuat ini, membuat tokoh-tokoh dari Madura menjadi penentu dalam berbagai peristiwa pergolakan besar sepanjang sejarah nusantara.

Arya Wiraraja, Tokoh Penting Madura Pada Masa Pergolakan Singasari, Kediri, dan Majapahit

Pada masa kerajaan Singasari, runtuhnya Singasari maupun bangkitnya Majapahit, tak lepas dari peran tokoh dari Madura bernama Banyak Wide, yang kemudian mendapat julukan Arya Wiraraja. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai pengatur siasat kejatuhan Kerajaan Singhasari, kematian Kertanagara, pengatur siasat menghancurkan pasukan Tartar Mongol-China, bangkitnya Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Kediri tahun 1293, hingga pendirian Kerajaan Majapahit.

Arya Wiraraja adalah "Penasehat Kenegaraan" pada masa pemerintahan Kertanagara di Singasari. Arya Wiraraja merupakan tokoh muda Singasari yang terbilang cemerlang, karena di usia 30-an ia sudah menduduki jabatan sebagai "penasehat raja". Sayangnya, dalam konflik intern kerajaan Singasari, Banyak Wide dinaikkan pangkatnya, namun dipindahkan dari jauh pusat kerajaan menjadi "Adipati" di Sumenep. Pemindahan besar-besaran ini terjadi pada tahun 1269 Masehi di mana Banyak Wide kemudian memperoleh gelar "Arya Wiraraja" yang berarti "pemimpin yang berani".

Ketika kerajaan Singhasari masih dalam suasana pertentangan melawan kerajaan Mongol Tar Tar, pada tahun 1292 Masehi, terjadi kudeta berdarah yang menewaskan raja Kertanegara tersebut. Ini adalah suatu "blank spot" dalam sejarah di mana tiba-tiba Raden Wijaya dari wangsa Rajasa melarikan diri ke Madura dan menemui penasehatnya, yaitu Arya Wiraraja, di Sumenep.     

Arya Wiraraja mau membantu Raden Wijaya, karena semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi pada Narasingamurti (kakek Raden Wijaya). Maka, ia pun bersedia membantu sang pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Mula-mula Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kediri. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh Jayakatwang. Sebagai bukti takluk, Raden Wijaya siap membuka Hutan Tarik di Tarik, Sidoarjo, Jawa Timur menjadi kawasan wisata bagi Jayakatwang yang gemar berburu. Raden Wijaya dibantu orang-orang Madura kiriman Wiraraja membuka hutan tersebut, dan mendirikan desa Majapahit di dalamnya.

Pada tahun 1293, datanglah tentara Mongol untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Raden Wijaya selaku ahli waris Kertanagara siap menyerahkan diri, asalkan ia terlebih dahulu dibantu memerdekakan diri dari Jayakatwang. Maka, bergabunglah pasukan Mongol dan Majapahit menyerbu ibu kota Kediri. Setelah Jayakatwang kalah, pihak Majapahit ganti mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa. Semua siasat ini, tak lepas dari besutan dan nasihat dari Arya Wiraraja yang berasal dari Madura. Boleh dikata, siasat orang Madura bernama Arya Wiraraja berhasil menghajar “Non Pribumi dari bumi Majapahit”.

Trunojoyo, Sosok Madura yang Mengobrak-Abrik Mataram

Trunojoyo adalah seorang bangsawan Madura yang memberontak kepada Raja Mataram Sunan Amangkurat. Di bawah pimpinan Trunojoyo, pasukan gabungan orang-orang Madura, Makassar, dan Surabaya berhasil mendesak pasukan Amangkurat I. Kemenangan demi kemenangan, pasukan Trunojoyo bahkan berhasil mengalahkan pasukan Mataram pada bulan Oktober 1676.

Tanpa diduga, Trunojoyo berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered. Amangkurat I terpaksa melarikan diri dari keratonnya dan berusaha menyingkir ke arah barat, akan tetapi kesehatannya mengalami kemunduran. Begitu ganasnya Trunojoyo, hingga menyebabkan pemangku tahta Mataram itu terusir dari istananya di Plered. Setelah terdesak ke Wonoyoso, Amangkurat I akhirnya meninggal di Tegal dan dimakamkan di suatu tempat yang bernama Tegal Arum. Padahal, dalam perjalanan itu, Amangkurat bermaksud meminta bantuan Kompeni Belanda. Meski kemudian, Trunojoyo akhirnya berhasil dikalahkan Mataram dengan bantuan dari VOC pada penghujung tahun 1679.

Cakraningrat IV, Sosok Madura dalam Menghabisi Pemberontak Etnis Cina di Solo tahun 1742

Pada tahun 1740, VOC melakukan politik pengurangan jumlah etnis Cina (Tionghoa) di Batavia karena jumlah etnis Cina melebihi jumlah serdadu VOC. Diperkirakan pada saat itu, jumlah Tionghoa diperkirakan telah mencapai sekitar 15.000 jiwa atau sekitar 17% total penduduk di Batavia. Kebanyakan kaum Tionghoa pendatang itu tidak dapat memperoleh pekerjaan dan sebagian dari mereka menjadi sumber kerentanan sosial dengan semakin meningkatnya aksi-aksi kejahatan. Akhirnya, VOC membuat larangan untuk mencegah etnis Cina untuk memasuki Batavia dan mendeportasi sebagian dari mereka ke luar Pulau Jawa.

Pada tanggal 7 Oktober 1740, gerombolan-gerombolan orang Tionghoa yang berada di luar kota Batavia melakukan penyerangan dan pembunuhan beberapa orang Eropa. Akibatnya, pada 9 Oktober 1740, dimulailah pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang Tionghoa di Batavia. Diperkirakan, orang-orang Tionghoa yang terbunuh sebanyak 10.000 orang. Sementara, orang-orang Tionghoa yang berhasil lolos dari pembantaian di Batavia melarikan diri ke timur, menyusuri sepanjang daerah pesisir, bergabung dengan komunitasnya di Jawa Tengah untuk melakukan perlawanan terhadap VOC lebih lanjut.

Pada tahun awal 1742, para pemberontak Etnis Cina itu mengangkat salah seorang pangeran cucu laki-laki dari Amangkurat III yang baru berusia 12 tahun, bernama Raden Mas Gerendi (lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kuning). Sunan Kuning adalah sebutan sunan yang diangkat oleh komunitas Tionghoa.

Pemberontakan dari Etnis Cina ini berhasil merebut Keraton Kartasura pada bulan Juli 1742, dan membuat Pakubuwono II lari ke Ponorogo. Namun, dengan dibantu oleh Pangeran Cakraningrat IV, Pakubuwono II menyerang Kartasura dan berhasil merebut Kartasura bulan Desember 1742. Tanpa bantuan Cakraraningrat IV dari Madura, saat itu, mungkin Kraton Solo masih dikuasai Etnis Cina pemberontak.  

Entah bagaimana, berbagai peristiwa pemberontakan besar di tanah Jawa, selalu berkaitan dengan etnis Madura. Bahkan, boleh dikatakan, sosok Madura menjadi penghancur pasukan Tartar dan penghancur pasukan etnis Cina yang menguasai Kraton Solo. Tampaknya, peran etnis Madura dalam berbagai pergolakan besar, perlu kita beri garis tebal. Pertanyaannya, ketika Anies menyitir perjuangan pribumi, kenapa mengutip peribahasa Madura? Hanya kebetulankah? Ataukah Anies justru sangat sadar mengenai hal ini?

Barangkali, kutipan Anies dengan peribahasa Madura mengenai Pribumi yang tertindas ini, perlu kita tanyakan kepada berbagai tokoh Madura yang saat ini cukup berpengaruh. Suatu saat, perlu kita tanya hal ini kepada Mahfud MD (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), R. Hartono (mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat), Hadi Purnomo (Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan BPK), Nurmahmudi Ismail (Mantan Mentri Kehutanan dan Presiden PKS), Achsanul Qosasi (Anggota VII BPK RI 2014–2019), dan tokoh Madura lainnya.

Cakrabirawa Penculik Jenderal, Mayoritas Berdarah Madura

Di luar semua hal itu, ada satu fakta menggelitik yang membuat Ben Anderson (Indonesianis dari Amerika) terhenyak ketika melakukan wawancara kepada Sersan Mayor Bungkus, bagian dari pasukan Cakrabirawa yang menculik para Jenderal. Semula, Ben mengira bahwa inti serdadu yang bergerak di lapangan menculik para jenderal adalah orang-orang Jawa. Anggapan ini berubah setelah Ben bertemu dengan Bungkus. Ia melihat fakta menarik, bahwa hampir semua serdadu yang ditugasi menculik para Jenderal berdarah Madura. Pimpinan lapangannya juga berdarah Madura.

Pimpinan lapangan penculikan adalah Dul Arief yang diberi sandi Pasopati. Dul Arief adalah serdadu berdarah Madura. Hampir seluruh personelnya berdarah Madura, seperti Djahurup, dan Bungkus. Komandan batalyonnya adalah Letnan Kolonel (Infanteri) Abdul Latief yang juga memahami bahasa Madura. Maka, tak usah heran, bahasa sehari-hari di batalyon itu banyak menggunakan bahasa Madura.

Setelah peristiwa 30 September dan 1 Oktober 1965, Lettu Dul Arief dan Pelda Djahurup hilang. Hanya Kopral Hardiono, anak buah Dul Arief, yang kemudian disidang di Mahkamah Militer Luar Biasa pada 1966 dan dituduh bertanggung jawab atas penculikan para jenderal tersebut.

Sejujurnya, fakta bahwa orang-orang Cakrabirawa penculik berdarah Madura, membuat saya sangat merasa keki. Meskipun demikian, saya ingin merenungkan hingga kapan pun, dan akan terus mencari jawaban, kenapa Anies Baswedan memilih peribahasa Madura untuk mewakili semangat kebangkitan pribumi? Yang jelas, sejauh pengamatan saya, sejauh Indonesia ini berdiri, baru Anies Baswedan yang mendayagunakan peribahasa daerah dari Sabang hingga Merauke, untuk memperkuat argumen pidatonya.

Dengan manuver peribahasa, Anies adalah satu-satunya pemimpin Indonesia pertama yang terampil mengimplementasikan kekayaan falsafah hidup seluruh suku di nusantara untuk terwujudnya Bhinneka Tunggal Ika berdasar Pancasila dan UUD 1945. Ini adalah kunci Anies untuk mendapat luapan simpati dari hati rakyat Indonesia. Sungguh, saya agak yakin, jika Anies konsisten merawat berbagai peribahasa nusantara menjadi landasan pemikiran dan langkah kerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta, ia akan menjadi salah satu bintang terang pada 2019.

*Thowaf Zuharon adalah Pemerhati Peribahasa Nusantara

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...