1 May 2017

Cerita Seputar Pertemuan Kertanegara

Oleh: Zeng Wei Jian

Senin malam 10 April 2017, hujan membasahi bumi. Sebelum azan magrib, air mata langit turun deras di sekitar Kemang. My doctor drove me to Jl. Kertanegara, rumah Jenderal Prabowo Subianto. 

Tiga puluhan jurnalis ngumpul di bawah tenda. Gerimis masih enggan berhenti. Mobil-mobil di parkir berderet. Lieus Sungkharisma kena macet. Seorang laskar memayungi saya memasuki kediaman, tempat anak-anak Begawan Ekonomi Dr. Soemitro dibesarkan. Ibu Bianti, kakak 08, menikah di rumah ini. 

Ada Nanik Deyang, dua orang biksu muda, Hazmi Srondol di ruang tunggu kecil. Di samping gerbang utama. Setyoko, kader muda Partai Gerindra, bolak-balik angkut logistik. Sekjen Ahmad Muzani melintas. Nia, asisten Mbak Neno Warisman, masuk via pintu samping. Saya jadi tau, Mbak Neno ternyata ada di ruang utama. Srondol bicara banyak seputar masalah batiniah, moksa, manunggaling kawula gusti dan kebiadaban buzzer-buzzer Ahok. 

Selepas sholat Isya, Neno Warisman ngajak masuk. Ustad Zaitun Razmin menelepon. Dia juga kena macet. Mbak Neno bawa saya temui Pak Prabowo. Bincang-bincang sebentar. 

Ruang utama ramai. Mbak Titiek tiba. Disambut Ibu Bianti. Saya duduk di samping Pa Kwik Kian Gie. Bu Fahira Idris bilang saya mirip dengan Pak Kwik. "Saperti kakak beradik," kata Bu Fahira. 

Pak Kwik bilang pertemuan ini sangat plural. Dia benar. Dari spektrum perempuan, ada Chusnul Mariyah, Lies Marcoes, Fahira Idris, Agnes Marcellina (PIRA) dan lain-lain. Di deret depan saya, ada Presiden PKS Sohibul Imam dan Ketua Umum Partai Perindo, Bpk Harry Tanoe.  

Paling tidak ada tiga jenderal, Yunus Yosfiah, Joko Santoso dan Glen. Aktifis Buruh Said Iqbal duduk nyantai di samping musisi Ahmad Dhani. Haji Rhoma Irama tampak di sela-sela meja para ustad. Di seberangnya, sederet dengan kelompok perempuan ada delegasi agama Budha. 

Dari unsur pengusaha ada Hasyim Djojohadikusumo, Harry Tanoe, Erwin Aksa. Tiba-tiba, Ahmad Dhani minta saya duduk di samping. "Ini kelompok proletar," katanya. Said Iqbal ketawa. 

Selain lintas ideologi dan pemikiran, pertemuan ini juga lintas generasi. Ada Pa Amien Rais, Dien Samsudin, Hidayat Nurwahid, kader Golkar dan Perindo. Said Iqbal bilang saya paling muda. 

Suasana akrab. Saling sapa. Selfie. Diskusi serius. Diiringi derai tawa. Tak ada ketegangan sedikit pun. Rasa persaudaraan tinggi. Mungkin karena semua yang hadir punya keprihatinan serupa terhadap situasi bernegara. Saat ini, ada sekelompok penguasa yang hendak mempertahankan kekuasaannya dengan menghalalkan segala cara. 

Pa Prabowo bilang situasi politik sekarang lebih intens dibandingkan kondisi sebelum meletus Kerusuhan Mei 98. Amien Rais menyatakan negara dan bangsa sedang dalam kondisi berbahaya. Ada sekelompok orang menguasai ekonomi dan politik sekaligus. It is surely a way to tyrrany. 

Saya kira, mantan Ketua MPR Amien Rais benar. Negara dalam bahaya ketika sekelompok taipan mencengkram. "Swastanisasi negara" pasti terjadi. Duit mereka bisa beli hukum, media dan alat kekerasan. Sebuah konglomerasi bisa sewa polisi dan tentara gusur pemukiman warga. Gubernur boneka berkilah gunakan hak diskresi (sebagai justifikasi). Dan warga dituding sebagai "penyabot tanah negara".

Peraih gelar doktor dari University of Sydney Australia, Ibu Chusnul Mariyah, mengatakan pemilu 2014 adalah fabricated election. Kita ditipu oleh berbagai rekayasa pencitraan. Dia mengutip hasil riset Oxfam yang menyimpulkan 4 orang terkaya di Indonesia memiliki harta lebih banyak dari 100 juta orang WNI. 

Haji Lulung pamit paling cepat. Tampaknya dia sibuk. Sebelum pulang, saya sempat diskusi dengan Mardhani Ali Sera. Dia bilang, timnya menemukan 160 ribu nama dalam DPT Jakarta yang jelas fiktif. Itu bisa diketahui dari NIK aneh. 

Saya kira KPUD ngga bisa apa-apa. DPT berasal dari Dukcapil. Ini salah satu modus kecurangan yang dilakukan oleh kelompok powerful. 

THE END

Category: 

loading...

Related Terms



News Feed

Berita Lainnya

loading...