24 January 2017

BPK Patahkan Spekulasi Ahok di Media Massa

Di beberapa media, Ahok uring-uringan setelah 12 jam diperiksa KPK. Persis ketika ia nyinyir soal APBD siluman di DKI Jakarta. Waktu APBD siluman menyeruak ke publik, Ahok begitu mendidih, tapi apa hasilnya? Koruptor kakap mana yang dipasugnya? Haji Lulung? Toh politisi PPP itu, masih tampil parlente dengan mobil Lamborghini nya. Ahok seperti legenda dewa Narcissus yang di tulis GM dalam catatan pinggirnya di TEMPO. Tapi Narcissus yang ini (Ahok), mengukur dirinya dengan mulut ember. Tapi semakin Ahok mengukur dirinya dengan mulut besar, semakin menyingkap tabir kebohongan. Narcissus yang ini, percaya pada gema suaranya. Yang pagi teriak A, sore teriak B. Dari gema itu, ia mengokohkan kepercayaan diri. Kini, setelah satu kasus di periksa KPK, Ahok sudah di tubir kemalangan. Ahok panik, stres, phobia dan paranoid dengan skandal RSSW. Baru satu kasus Loh ! Belum reklamasi Podomoro, yang sempat membuatnya didapuk sebagai pangeran Podomoro atau tokoh reklamasi. Dua gelar yang melekat ke Ahok itu, jadi trending topic. Menambah insentif elektabilitasnya, yang sempat anjlok. Di sosial media, digadang-gadang, setelah 12 jam diperiksa KPK, lalu disoraki teriakan “Ahok maling” oleh pendemo, ada yang bikin pooling, lalu, 61% yang ikut pooling yakin, Ahok terlibat korupsi Sumber Waras. Itu Baru Sumber Waras Loh, belum reklamasi Podomoro, belum dugaan Gartifikasi Ahok Center atau Teman Ahok. Waduh, banyaknya dugaan skandal korupsi di sekitar Ahok. Untungnya separuh orang masih waras, dan tak membenarkan, bahwa hukum tak bisa dikonstruksi oleh pooling. Berbeda dengan Ahok, memperdayai logika publik soal audit BPK dengan spekulasi liar di media. Mereka yang masih bernalar dan bertakjim pada kebenaran, tak segila itu meyakini penyetiran persepsi oleh opini.

Fakta hukum, tak disusun dari perspektif media. Tapi berdasarkan temuan dan alat bukti, melalui institusi hukum dan diuji di pengadilan. Menanggapi pernyataan Ahok soal BPK dan beberapa spekulasi liarnya di media, kini memancing BPK terus mengulik Ahok. BPK membeberkan, terkait pembelian tanah RSSW, diawali dengan transaksi tunai senilai Rp.755,69 miliar melalui mekanisme yang tidak lazim. Saya ulangi terkait pembelian tanah RSSW, diawali dengan transaksi tunai senilai Rp.755,69 miliar. Dengan pendekatan audit berbasis risiko, dari sisi nilai, waktu dan jenis belanja, tim audit melakukan penulusuran kepada dokumen pendukugnya. Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Internasional (BPK) Yudi Ramdan Budiman Sebagaimana dirilis KOMPAS, Kamis (14/4) mengatakan, kejanggalan tersebut berasal dari transaksi yang tak lazim yang dilakukan oleh Pemprov DKI. Dari hasil pemeriksaan BPK, terdapat transaksi yang dilakukan oleh Bendahara Dinkas Pemprov DKI pada 31 Desember 2014 pukul 19.00 atau lewat dari jam kerja. Dari hasil pemeriksaan laporan keuangan, ada transaksi tunai senilai Rp 755,69 miliar melalui jenis belanja uang persediaan (UP). Yudi mengatakan, transaksi melalui UP biasanya dilakukan untuk transaksi dengan nilai transaksi kecil. "Sudah nilai besar, lalu melalui UP dan transaksi dilakukan pukul 07.00 malam yang sudah lewat dari jam kerja Proses inilah kemudian dikembangkan oleh tim audit menjadi temuan. Berani jujur Ahok hebat ! Dengan permulaan penulusuran atas kejanggalan ini, apakah Ahok masih bersilat lida? Padahal dalam soal lain, Ahok pernah menyatakan Tak Mau Transaksi Non-Tunai, Artinya Tidak Jujur (2 Juni 2014, di KOMPAS). Lebih lengkap dalam ucapan Ahok yang dirilis Kompas itu berbunyi : "Jadi kita sudah ada MoU dengan BPK, tidak ada lagi transaksi kontan. Jadi harus Bank ke Bank. Kita akan paksa pihak-pihak yang berurusan dengan Pemprov DKI agar buka rekening di Bank DKI," katanya saat acara penandatangan dokumen penandatangan kinerja Kepala SKPD/UKPD Pemprov DKI Jakarta 2014, di Balai Agung, Balaikota Jakarta, Senin (2/6/2014). Ahok seperti “senjata makan tuan, pun menepuk air di dulang.” Mana yang benar dari Ahok, antara ucapakan dan kelakuan? Ucapan malaikat, kelakuan…? Masih sanggupkah Ahok menepuk dada, sembari bilang BPK ngaco, atau penyidik KPK lucu? Pantaslah, dengan temuan yang kian menyudutkan Ahok, memaksanya menggunakan jurus mabuk, hajar sana-hajar sini.

Seperti yang kita duga, berspekulasi liar di media, adalah pertahanan terakhir Ahok membenarkan dirinya. Horas bah ! Sebelumnya saya menulis di media ini juga, coba perhatikan gestur muka Ahok setelah 12 jam diperiksa KPK. Setelah keluar dari pintu kaca KPK, keringat tebal melele di jidatnya. Rautnya membungkus malu. Dari kening, kantung mata dan pipinya seakan-akan jatuh ke bawah. Senyumnya tak lebar. Kalaupun senyum pada wartawan, arah gerak bibirnya seakan tumpah ke bawah. Ahok terlihat tak sanggup melihat ke depan. Tatapannya pendek. Jangkauannya tak lebih dari dua meter. Pandangannya berat. Dengan 12 jam dperiksa penyidik KPK, sistem hormonalnya tersedot kebagian organ kepala. Jadi wara-wiri opini yang disebarkan Ahok di beberapa media, cumalah reaksi stress, panik, phobia dan parno yang berlebihan sesaat setelah diperiksa KPK. Coba dianalisa, Ahok begitu reaktif berkelik panjang lebar ketika ditanya wartawan setelah diperiksa KPK. Jika Anda bertanya pada seseorang dan ia langsung menjawab setelah diberi pertanyaan, maka ada kemungkinan orang tersebut sedang berbohong. Hal ini karena pembohong telah melatih jawaban atau sudah memikirkan jawaban untuk mengatasi situasi. Dalam deteksi kebohongan verbal, berhati-hatilah dengan respon emosional yang impulsif. Waktu dan durasi cenderung hilang ketika seseorang sedang berbohong. Ahok, dengan beberan data di atas, masih berani sebut BPK nganco? Dari serentetan pengungkapan dugaan geliat Ahok dalam skandal Sumber Waras, apakah sejenak Ahok berfikir, bahwa inilah hukuman buatnya, atas segala perbuatan kejamnya terhadap rakyat kecil? Pernakah Ahok sejenak merenung, bahwa do’a orang-orang kecil itu, dijawab Tuhan melalui temuan BPK? Ingatkah Ahok, mereka yang berpeluh bertahun-tahun, di tempat mereka mengais rejeki, lalu kau usir mereka dari tanah tempat mereka dilahirkan? Kau ancam mereka dengan bedil dan bulldozer. Kau hina mereka di atas tanah leluhurnya.

Dan kini Ahok, perlahan-lahan, hukum alam menamparmu dengan kehinaan demi kehinaan, di atas tahta dan kuasa yang acapkali menyengsarakan rakyat kecil itu kau dihina oleh fakta hukum. Ingat Ahok, hukuman manusia bisa dibolak-balik, tapi hukuman Tuhan pasti dan dicicil ! Kini, berbagai temuan dalam kasus RSSW sedang menyasar padamu. Apakah kau ingat, bahwa sekencang apapun kau berlari dengan kebohongan, kebenaran akan mengejar dan mendaptkanmu Ahok?

(MUNIR AS/Kompasioner)

Tags: 
Category: 

 


loading...
loading...

BACA JUGA:      

Loading...