16 December 2019

Berharap Perubahan dari Bilik Kardus?

Oleh: Nasrudin Joha

Sekali lagi, euforia perubahan yang ada saat ini baru tegak diatas kesadaran kerusakan kondisi eksisting. Belum dibangun diatas konsepsi idiil masa depan bangsa yang dicitakan. Semua, semangatnya ingin segera keluar dari himpitan kezaliman Jokowi.

Kesadaran atas rasa sakit yang mendalam itulah, yang membuat orang emoh terhadap Jokowi dan lari berhamburan ke bilik kardus dengan visi yang sama : ingin segera lepas dari berbagai dusta dan nestapa akibat tidak cakapnya pemimpin mengelola negara.

Padahal, persoalan yang dihadapi bangsa ini bukan hanya Jokowi. Bahwa Jokowi bermasalah, iya, semua ijma' mengenai hal ini. Tapi, apakah Jokowi satu-satunya masalah atau bahkan Jokowi adalah akar masalah ? Ini yang perlu dirinci.

Pertama, dimanapun dan di negara apapun tata kelola pemerintahan itu terdiri dari dua pilar : rezim dan sistemnya. Jokowi n the gank, hanya mewakili satu entitas kekuasaan (rezim) yang diketahui represif dan anti Islam.

Sementara itu, sistem sekuler, sistem kapitalisme, sistem demokrasi sejatinya adalah akar dari seluruh persoalan yang mendera umat ini. Demokrasi telah melahirkan Jokowi era ini dan tetap akan memproduksi Jokowi-Jokowi yang lain.

Sistem sekuler demokrasi melahirkan pemimpin yang menerapkan UU manusia, UU yang menentang kekuasaan Allah SWT, UU yang telah memindahkan otoritas mengatur manusia, memerintah dan melarang manusia, dari otoritas Allah SWT menuju otorita nafsu.

Dalam mengelola SDA, khususnya tambang yang depositnya melimpah, Allah SWT telah memerintahkan manusia berserikat dalam memiliki dan memanfaatkannya. Negara (khilafah) mewakili rakyat untuk mengelola dan memiliki tambang-tambang dengan deposit melimpah, kemudian mengembalikan hasilnya kepada rakyat baik dalam bentuk natural barang, layanan publik, fasilitas publik, atau natural uang dan santunan yang dipandang maslahat bagi rakyat.

Jika sistem yang diterapkan kapitalisme demokrasi, maka selamanya kedaulatan atas tambang, migas, semua dalam kekuasaan swasta bahkan asing. Rakyat yang memiliki tembang secara kolektif, tapi yang mengeruk dan mengambil manfaat dari tambang justru swasta bahkan asing.

Jadi, sampai kapanpun dan siapapun pemimpinnya jika sistem pemerintahan yang diterapkan kapitalisme demokrasi maka selamanya rakyat tidak akan pernah berdaulat atas tambang dan migas yang hakekatnya milik rakyat. Bahkan, negara dipaksa membeli barang milik rakyat -padahal negara adalah wakil rakyat- yang diberi tugas untuk mengelola harta milik rakyat.

Kedunguan dalam pembelian saham freeport adalah contoh kongkrit bagaimana sistem ekonomi kapitalis yang ditopang sistem politik demokrasi sekuler, telah memindahkan otoritas kepemilikan dan pengelolaan atas tambang dari rakyat kepada swasta, korporat, bahkan asing.

Ini sekelumit contoh, padahal seluruh urusan di negeri ini nyatanya tunduk pada sistem sekuler demokrasi. Sampai hari ini, dan sampai kapanpun tidak mungkin membiayai pengelolaan negara kecuali dari pajak rakyat yang mencekik. Padahal, dalam Islam mengambil harta rakyat tanpa alasan yang hak (pajak) adalah haram.

Lantas, umat kemudian euforia berharap perubahan dengan berjubel di bilik kardus ? Rakyat masih menaruh kepercayaan pada partai dan caleg, yang jangankan menjanjikan keadaan dimasa depan, yang sudah jadi saja tidak berdaya dengan keadaan ?

Lantas, apa kemampuan dan tawaran konsepsi para caleg, partai, politisi, selain jargon-jargon kosong, ujaran-ujaran hiperbolik yang diulang-ulang dan menjemukan ?

Pilih saya muda berwibawa, pilih saya Indonesia bisa, bersatu untuk membangun negeri, saatnya Indonesia bangkit, bersatu untuk selamatkan negeri, ayo berantas korupsi, dan berbagai kata dan kalimat hampa terpampang di baliho. Kadang diiringi dengan senyum caleg yang dipaksakan, pake kerudung, pake kopiah, pake sarung, semua musang-musang politik yang menggunakan kostum domba.

Setelan masuk dan meraih tampuk kekuasaan, apa yang mereka lakukan ? Data dari KPK, tidak ada satupun partai yang terbebas dari korupsi. Jika ada partai yang belum terkena korupsi, dipastikan partai tadi belum dapat kursi.

Partai juga sering absen dari berbagai agendakan umat. Saat kampanye sibuk mendatangi umat, setelah jadi sibuk menghindari umat. Khawatir 'dipalak proposal' khawatir ditagih janji, khawatir ditodong bantuan, dll.

Mereka yang sudah masuk lingkaran kekuasaan diwajibkan memiliki karakter pendusta. Politisi kalau tidak bohong tidak akan sampai ke tampuk kekuasaan.

Yang belum berkuasa, pendatang baru, masih hijau dalam politik, hidupnya tidak menapaki bumi. Dia masih hidup menerawang diatas angan, membayangkan kekuasaan, membayangkan jadi pejabat, membayangkan dikerubuti rakyat. Setelah gagal, baru sadar atau kadang jadi gila. Setelah jadi, tidak beda dengan yang sudah berkuasa : jadi maling juga.

Lantas siapa yang berani menjamin akan ada perubahan dan kemaslahatan dalam sistem demokrasi ini ? Sistem yang mengabaikannya syariat Allah SWT ? Sistem yang terbukti memecah belah umat ? Lantas, apa yang mau diharapkan dari mimpi kemaslahatan dengan berjubel dibilik kardus ?

Sesunggunya umat ini menjadi baik manakala umat ini meneladani generasi terdahulu yang menjadi baik karena Islam. Rasulullah SAW melakukan perubahan politik diluar sistem, dengan dakwah dan melakukan tholabun Nusyroh.

Kekuasaan yang diperoleh baginda Nabi SAW di Madinah dirintis melalui dakwah, pembinaan umat, membongkar sistem jahil dan para penguasa kafir, memperoleh dukungan militer aus dan kazrat, memperoleh baiat dan demi hukum tegak lah Daulah Islam yang pertama di Madinah. Rasulullah SAW menolak berkompromi dengan sistem jahiliyah, bahkan jika kompensasinya matahari dan rembulan.

Setelah Daulah Islam tegak, maka Islam tidak lagi hanya didakwahkan. Bahkan Islam dikumandangkan keseluruh umat dan bangsa dengan jihad. Islam melakukan berbagai pembebasan, melalui kekuatan institusi negara.

Karenanya jika generasi era now ingin sukses dan berjaya memperbaiki kondisi umat, maka generasi era now ini harus berittiba' pada amaliyah praktis generasi old, generasi era Rasulullah SAW. Generasi era now tidak akan pernah berjaya, jika masih ittiba' kepada Montesqueu dengan tetap Istiqomah menapaki jalan demokrasi. [].

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...