19 September 2019

Belajar Merubah Sudut Pandang

KONFRONTASI - Hingga kini saya heran dengan teman-teman yang suka mengeluhkan situasi di Indonesia. Dari tempatnya di lingkungan elit menengah Jakarta, dia berkata di statusnya bahwa kehidupan semakin sulit di Indonesia. Ekonomi memburuk dan banyak PHK dimana-mana. Rakyat semakin susah dan harga pangan terus melambung tinggi.

Dari tempat yang berbeda di perumahan kelas menengah bawah, teman saya berbicara di status facebooknya tentang mata uang dollar AS yang makin perkasa terhadap Rupiah. Kewibawaan negara kita tergerus dan ekspor bahan mentah dihentikan yang membuat pengusaha tambang susah.

Percaya tidak, bahwa saya membaca status mereka sambil tertawa lepas. Kenapa? Karena saya kenal mereka. Si perumahan elit menengah berbicara kenaikan bahan pangan, padahal setahu saya ke pasar pun ia enggan. Si menengah kebawah berbicara dollar, sedangkan ia sendiri bukan pelaku pasar global, memangnya kapan ia pernah megang dollar?. Dan seperti biasa kekompakan mereka, akhirnya mereka-pun mencaci Presidennya. Yang kurang inilah, kurang itulah. Pokoknya kurang semua.

Ada memang tipikal manusia yang sulit bersyukur. Ketika ia merasa hidup tidak bersahabat dengannya, ia mulai menyalahkan sekelilingnya. Ia bahkan tidak mampu mengukur dirinya, tetapi mencoba mengukur situasi menurut ukurannya.

Aah, kadang ingin saya punya kekuatan untuk menukar nasib seseorang agar ia mau belajar dan merasakan yang belum pernah ia alami. Saya ingin memindahkan teman-teman saya tadi ke Amerika, dimana hidup hanya untuk bekerja karena manusia hanyalah bagian dari sebuah mesin besar. Ketika ia tua, ia sadar bahwa ia sebenarnya tidak punya apa-apa, karena besarnya pendapatan yang ia peroleh sebanding dengan besarnya biaya yang harus ia keluarkan.

Saya ingin memindahkan teman saya itu ke Suriah. Dimana hidup dengan banyak kekurangan dan ketakutan. Trauma dengan pembantaian oleh militer Suriah yang sedikitpun tidak menghargai nyawa. Saya ingin teman saya itu saya pindahkan ke Jepang, yang setiap hari dibawah tekanan pekerjaan. Bekerja seperti orang gila hanya untuk mempertahankan kedudukan. Salah sedikit, pecat dan digantikan.

Mereka di Negara-negara itu pasti iri melihat bangsa Indonesia. Mereka terbayang indahnya Bali dimana “everyday is holiday”. Terbayang santainya Jogja yang “alon-alon asal kelakon”. Terbayang panasnya Surabaya dengan secangkir kopi dua ribu rupiahnya.

Dan buat mereka, negara kita ini surga. Semua tumbuh dimana-mana dan harganya masih sangat murah. Murah meriah karena. Masih bisa santai dengan main facebook, meskipun debt collector siap menghadang. Masih bisa makan mie Ayam yang harganya enam ribu rupiah, ada beberapa helai sayur dan daging ayamnya yang berukuran mini.

Teman saya si elit menengah dan si menengah kebawah mungkin harus belajar menikmati hidup dan menerima kekurangan zaman. Kalau tidak, dimasa tuanya mereka bisa terserang stroke, karena apapun yang mereka lihat dan rasakan dianggap sebagai beban. Bahkan ketika hidung mereka berjerawat, mereka anggap ini gara-gara Presidennya kurang tampan. Kali saja mereka mau belajar merubah sudut pandang.[]

Denny Siregar
Dosen di Universitas Sumatera Utara

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...