22 February 2017

Bantah Fitnah di Medsos, Ini Pernyataan Bersama Ketua Umum IPTI dan Imam Besar FPI: Ummat Islam Tidak Benci Keturunan Tionghoa

KONFRONTASI - FPI dan IPTI menghimbau kepada masyarakat Tionghoa Indonesia untuk lebih mengedepankan Klarifikasi dialogis melalui silaturahmi kebangsaan, komunikasi dan teknologi, atas berbagai isu yang dikemas oleh media sosial yang sengaja diciptakan barisan manusia anti kemapanan yang pengecut, berorientasi proyek, sakit hati dan pendendam. Dengan harapan dan tujuan membenturkan tatanan sosial kemasyarakatan khususnya tentang AGAMA, KEBANGSAAN, KEBHINEKAAN DAN TOLERANSI antara pribumi dan keturunan. Janganlah merasa takut karena kecemasan Masyarakat TIONGHOA sengaja disetting dan diciptakan pihak tertentu dan dihembuskan secara massif agar tercipta ketidakstabilan keamanan, saling curiga dan hilangnya kedamaian dimasyarakat. IPTI DAN FPI melalui pertemuan intensif, menjamin bahwa tidak ada penyerangan dan konfrontasi dengan masyarakat Tionghoa karena Agama Islam telah membentuk pribadi pribadi muslim Indonesia yang rahmatan Lil Al-Amin karena berpegang teguh dan mengikuti Al Qur'an dan Ass Sunnah sebagai kitabullah yang hingga kini terjaga keasliannya karena bersumber dari Allah SWT.
_________________________________

Saya Dr. Ipong Hembing Putra selaku Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Tionghoa Indonesia menghargai dan menerima segala bentuk kebencian, caci maki, hinaan dan fitnah terkejam yang ditujukan kepada saya pribadi dan  kepada institusi/ Ormas IPTI yang saya bangun, hanya dikarenakan berbeda keyakinan dan bersebrangan dengan pemahaman SEBAGIAN masyarakat, pengusaha dan para tokoh Tionghoa di Indonesia mengenai phenomena tangkap AHOK, KOMUNISME dan kebangkitan Islam yang dipimpin para Habaib dan ulama-ulama SE INDONESIA khususnya kepemimpinan Habieb Rizieq selaku Imam Besar  FPI.
_______________________________

Saya terlahir sebagai Tionghoa dari seorang Ayah yang MUALAF, orang tua kami adalah rujukan masyarakat  Tionghoa dalam hal Toleransi dan kebhinekaan, anggota dari berbagai organisasi Tionghoa berbasis ISLAM/ NASIONALISME serta penerima  banyak penghargaan dari banyak Negara. Dimata saya beliau banyak mengajarkan filosofi kebangsaan dan Nasionalisme yang diimplementasikan dalam bidang kemanusiaan, kebhinekaan dan toleransi. Saya menghimbau untuk berhidmat pada sejarah berdirinya NKRI dan semangat nasionalisme agar kita tersadar dan terbangun dari bahaya hasutan media masa, kepentingan politik praktis serta campur tangan Asing  yang sengaja membenturkan keyakinan, kebangsaan dan nasionalisme kita sebagai bangsa yang besar.
________________________________

Saya berkeyakinan bahwasanya Kebenaran sejati bukanlah milik mereka, sekalipun direkayasa dan dibantu jaringan media dan cybercrime , itu hanya ujaran kebencian yang sengaja diciptakan untuk menutupi kepentingan2 global para pemilik modal ASING agar bisa terus berkembang dan mengeser nilai-nilai sosial kemasyarakatan baik itu dalam bentuk Agama, budaya dan komunitas melalui IDEOLOGI yang ditentang masyarakat Indonesia. Fokus umat Islam hanya kepada Sdr. Basuki Tjahaja purnama/ AHOK yang kebetulan TIONGHOA dan beragam NASRANI yang ditersangkakan sebagai penista Akidah Umat Islam. Amatlah kurang bijaksana bila dikarenakan Sdr AHOK adalah keturunan TIONGHOA dan beragam NASRANI dan jelas jelas telah menjadi tersangka hukum, membutakan mata hati, intelektual dan arogansi mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Alangkah murahnya harga ketentraman, kedamaian dan kebhinekaan hanya diukur oleh arogansi seseorang yg kebetulan mendapat dukungan dari kalangan masyarakat, Agamawan, politikus dan finansial konglomerat.
________________________________

Tgl 29 Desember 2016 saya diundang kembali, sebagai KETUA UMUM IPTI oleh Imam Besar FPI Muhamad Rizieq Shihab dipondok pesantrennya, di Megamendung Bogor, dalam pertemuan tersebut ditegaskan kembali bahwa segala fitnah dan hasutan yang dituduhkan kepada beliau adalah rekayasa MEDSOS yang diciptakan sesempurna mungkin oleh para cybercrime agar tertanam rasa kebencian dan perlawanan atasnama AGAMA dan KESUKUAN

Habieb Rizieq menegaskan :
Islam tidak memusuhi minoritas
Islam tidak membenci Tionghoa
Islam tidak membenci Kristen
Islam tidak Anti Asing dan Aseng

Bila ada umat Islam yang mencoba menyakiti mereka, dan  mengatas namakan  FPI saya diminta untuk menindak tegas atau melaporkan kepada para panglima laskar. Ini adalah bentuk komitmen sebagai landasan sikap politik FPI. Kehadiran saya selaku ketua IPTI disana sebagai bentuk ketulusan dan Jaminan sikap seorang ulama besar yang dijadikan panutan umat Islam se INDONESIA
Agar dapat disampaikan dengan terang benderang, bahwa Habieb Rizieq bukanlah sebagaimana yang mereka tuduhkan Melalui MEDSOS yakni "ISLAM RADIKAL ANTI CHINA, ANTI KRISTEN, ANTI KEBHINEKAAN, ANTI PANCASILA ANRI NASIONALISME karena NKRI ADALAH HARGA MATI. Perlawanan umat Islam hanya ditujukan kepada KETIDAKADILAN HUKUM, KOMUNISME DAN PENISTAAN AGAMA. Yang dikemas dan dibungkus toleransi dan kebhinekaan.
________________________________

Saya mengambil resiko untuk berdiri sejajar mendukung dan mengapresiasi langkah-langkah yang diambil umat Islam sebagai hak politik dan sejarah berbangsa, agar tercipta Harmonisasi, toleransi dan sinergi bagi SEBAGIAN masyarakat Tionghoa yang sejak awal setuju dan mendukung langkah umat Islam yg merasa mulai dipinggirkan hak dan POLITIKNYA atasdasar sejarah kebhinekaan dan kebangsaan sejak turun temurun. Marilah kita bangun kembali Harmonisasi dan kebhinekaan dengan tetap menjunjung sikap persaudaraan dengan tidak sekali-kali merendahkan, meremehkan, menghinakan umat islam. Janganlah dikarenakan keberhasilan ekonomi dan strata sosial membuat kita sombong, intoleransi dan pendendam.

Masyarakat Tionghoa adalah bagian yang tidak boleh dipisahkan, baik secara politik dan kepercayaannya, mari genggam erat kebhinekaan untuk kemajuan, kebesaran dan kejayaan NKRI, SALAM PERSAUDARAAN

Jakarta, 4 Januari 2017
Ketua Umum IPTI (Ikatan Persaudaraan Tionghoa Indonesia)

Dr. Ipong Hembing putera

Category: 

Berita Terkait

Baca juga


Loading...