27 May 2019

Aksi Mahasiswa dan Matinya Media Mainstream

Oleh: Muslim Arbi (Koordinator Gerakan Perubahan , Garpu)

Beberapa hari belakangan ini mahasiswa di berbagai kampus di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa lakukan aksi sebagai tanda protes terhadap rezim Jokowi.  Aksi demontsrasi mahasiswa di berbagai kampus dan di Jakarta di depan Istana Negara itu adalah murni suara mahasiswa.

Rakyat menyambut dengan gembira suara-suara yang di sampaikan mahasiswa. Karena belakangan ini mahasiswa jarang tampil ke ruang publik untuk kritisi kebijakan dan arah pemerintah yang dirasakan sangat menghimpit kehidupan rakyat.

Sebelum mahasiswa turun ke jalan, merangsek ruang-ruang DPRD dan berteriak di depan istana kepresiden, sejumlah ibu-ibu dari emak-emak peduli terhadap kehidupan bangsa dan negara yang tergabung dalam barisan emak-emak atau BEM aksi di depan istana tentang mahalnya harga-harga bagan pokok dan kenaikkan BBM, listrik dan pajak. Emak-emak dari berbagai daerah juga santroni KPU desak Jokowi mundur dari presiden karena sudah menjadi Capres.

Lalu aksi emak-emak ini membuat publik bertanya kemana mahasiswa? kok bukan mahasiswa yang turun ke jalan, kok emak-emak justru yang demo? pertanyaan dan desakan publik itu kini terjawab sudah.

Mahasiswa sudah bergerak mengkritisi Jokowi bukan saja pada soal Rupiah dan lemahnya ekonomi, tapi Jokowi-JK dianggap gagal dan harus turun.

Meski suara mahasiswa sudah menggaung di berbagai penjuru negeri via medsos dan hanya tampak pada TV tertentu saja, sedangkan TV lain dan media mainstream lainnya tidak memberitakan. Seolah tidak terjadi apa-apa di negeri ini. Bisa saja karena media-media mainstream yang tidak diberitakan demo mahasiswa itu sudah dibeli istana dan sudah menjadi pengabdi istana.

Itu pertanda media-media itu bukan lagi sebagai instrumen demokrasi. Media-media itu sudah menjadi alat oligarki kekuasaan. Itu pertanda media-media itu sudah masuk pada persekongkolan atas kejahatan terhadap demokrasi.

Mahasiswa, aktifis pergerakan dan rakyat umum juga tahu, meski media-media mainstream tidak beritakan demo mahasiswa dan suara-suara kritis yang dilontarkan oleh para aktifis pergerakan tapi via media sosial dan media-media online.  Suara-suara mahasiswa dan aktifis pergerakan akan sampai juga ke rakyat dan publik.

Terus bergerak kaum mahasiswa, terus berjuang untuk perbaikan dan perubahan atas negeri ini. Kebenaran dan keadialan akan selalu bersama orang-orang yang terzalimi dan tertindas.

Hidup mahasiswa…

Hidup rakyat…

Bangkit dan berjuanglah terus…

Demi kebenaran, keadilan dan demi kejayaan indonesia…

 

Allahu Akbar

wa lillahil hamdu

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...