24 January 2017

Ahok Memihak Modal bukan Kemanusiaan

 

GUBERNUR DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menantang para pejabat eselon II di lingkungan Pemprov DKI Jakarta yang tidak mampu bekerja dan tidak suka kepada dirinya untuk menyampaikan surat pengunduran diri. Surat pengunduran diri itu ditunggunya Senin tadi (2/5).

Tantangan itu disampaikan Ahok saat ia diwawancarai langsung di sebuah stasiun televisi swasta, Jumat sore (29/4).

Ini jurus cerdas Ahok. Dia mengunci bawahannya dengan tantangan agar yang tidak mampu dan tidak suka kepada dirinya untuk mengajukan surat pengunduran diri. Cerdas sekali Gubernur ini. Tentu saja para pejabat di bawahnya tidak akan mau dianggap/dicap tidak mampu.

Dengan demikian sdh bisa dipastikan tidak akan ada yang mundur.

Bagaimana pejabat yag tidak suka kepada Ahok, apakah akan berani mengundurkan diri?

Dari pembicaraan dengan kalangan yang mengetahui situasi rumah tangga pemerintahan Ahok, penulis mendapat informasi bahwa sebenarnya banyak atau paling tidak ada beberapa pejabat setingkat esselon 1, 2 dan 3 yang tidak suka kepada Ahok.

Namun untuk mundur tentu saja mereka harus berpikir berkali-kali. Banyak alasan dan pertimbangan mereka masih bertahan di posisi jabatannya, ada yg berpikir "tanggung usia pensiun tinggal sebentar lagi" atau ada juga yang berpikir"lihat situasilah mungkin dalam waktu dekat ada perubahan yang signifikan oleh faktor politik dan hukum yang sedang terjadi".

Banyak juga yang tidak suka dengan Ahok tetapi "takut kehilangan kedudukan dan rejekinya". Mereka ini mencoba bertahan pada posisi jabatannya saat ini.

Kemudian ada juga beberapa yang memang baru beberapa hari/bulan dipromosikan oleh Ahok untuk menempati posisi jabatan baik di eselon 1, 2 dan 3.

Biasanya pejabat ini yang usianya relatif masih muda dengan demikian lebih energik, walau dari segi teknis dan kemampuan masih ditunggu mereka membuktikannya.

Pejabat yang model terakhir ini adalah pengikut setia Ahok, setiap tugas yang diberikan oleh Ahok pasti mereka mengatakan "siap Pak" atau "baik Pak segera dilaksanakan" tanpa berpikir manfaat/mudaratnya bagi masyarakat.

Bahkan pejabat yang seperti ini selalu menyanjung dan memuji gubernurnya "mantap Pak" atau "top Pak" atau "luar biasa Pak", atau "Jakarta Baru akan segera terwujud Pak".

Dengan demikian sudah bisa dilarikan tantangan Ahok kepada pejabat di bawahnya untuk mengundurkan diri tidak akan terjawab, atau tidak akan tersambut, para pejabat akan diam tanpa bereaksi sama sekali.

Bahkan seorang mantan Walikota Jakarta Utara Rustam Effendi pun tidak akan mundur jika dia tidak dipermalukan dan dituduh "bersekutu" dengan Yusril di muka umum

Bisa jadi Rustam tidak mundur jika hanya alasan tidak mampu bekerja dan tidak suka kepada Ahok.

Di sinilah cerdasnya Ahok, dia sudah berhitung dengan matang bahwa tidak mungkin ada pejabatnya yang mengundurkan diri karena alasan yang dia sampaikan.

Di sisi lain dia ingin menunjukan bahwa dia sepenuhnya mengendalikan semua bawahannya dan sekaligus meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ambisi dan program-programnya dilaksanakan tanpa dibantah oleh bawahannya.

Cerdaskah Ahok?

Bagi saya Ahok bukan cerdas tetapi "culas".

-----

Rico Sinaga, Penulis adalah Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta).

Tags: 
Category: 

 


loading...
loading...

BACA JUGA:      

Loading...