11 December 2019

Agar Islam Tak Terus Dinistakan

Oleh:Ummu Salman

"Saya hanya bertanya, siapa yang berjuang untuk kemerdekaan. Nabi yang mulia Muhammad atau Sukarno. Titik. Tapi diberitakannya, siapa lebih berjasa," kata Sukmawati.  "Saya cuma pengin tahu, anak muda zaman sekarang itu tahu sejarah bangsanya atau tidak. Atau hanya tahu sejarah nabi yang mulia Muhammad?" ujarnya. Atas pernyataan yang dianggap membandingkan Sukarno dan Nabi Muhammad itu, Sukmawati dilaporkan oleh simpatisan Koordinator Bela Islam (Korlabi).(cnnindonesia.com, 16/11/2019)

Kasus Penistaan Islam Terus Berulang

Meskipun sukmawati membantah bahwa dia tidak sedang membandingkan antara ayahnya dengan Nabi Muhammad Saw, namun jelas pertanyaannya di forum anak muda yang mengusung tema membangkitkan nasionalisme, menangkal radikalisme, dan memberantas terorisme itu sangat tendensius. Kasus penistaan agama terus terjadi, baik berupa penghinaan dan pelecehan terhadap Allah, Rasulullah Saw, AlQur'an, ulama maupun terhadap ajaran Islam berupa syariat termasuk ibadah. Belum hilang dari ingatan kaum muslim Indonesia ketika sebelumnya sukmawati membacakan puisi yang isi puisinya adalah suara kidung lebih merdu dari suara azan, dan konde ibu indonesia lebih elok daripada cadar. Sebenarnya kasus-kasus serupa banyak terjadi, seperti yang pernah dilakukan oleh ahok, joshua, atta halilintar dan yang lainnya.

Jika menelisik berbagai kasus penistaan tersebut, hanya ada dua sebab. Pertama karena ketidaktahuan. Semestinya ketidaktahuan tersebut membuat mereka berhati-hati dalam berbicara atau berkomentar karena sungguh mereka telah berbicara tanpa ilmu. Kedua, karena kesengajaan sebab adanya kebencian terhadap Islam. Mengenai kebencian ini, Allah SWT pun telah menerangkan dalam Al Quranul karim, seperti dalam firmanNya:

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).

“Sungguh akan kalian dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik).” (QS. al-Maa’idah [5]: 82).

Allah telah memperingatkan akan sikap orang-orang kafir terhadap orang beriman. Namun peringatan Allah tersebut bukan berarti sebagai orang beriman, kita diam saja atas tindakan mereka. Jika kemudian mereka melakukan penistaan kepada Islam secara terang-terangan, tentunya kita harus menunjukkan pembelaan kita sebagai bukti iman dan cinta kita kepada Allah dan Rasulnya. Selama iman masih menyala di dada-dada orang-orang beriman, mereka tidak akan rela yang dicintainya dinista, dihina dan dilecehkan.

Berulangnya kasus penistaan ini tak lepas dari lemahnya negara dalam melindungi agama Islam. UU penodaan agama yang sudah dibuat ternyata tak efektif menghentikan semua itu. Ditambah lagi penegakan hukumnya seringkali tak memenuhi rasa keadilan. Ini bisa kita saksikan saat terjadinya penistaan agama yang dilakukan oleh BTP/ahok, UU penodaan agama tersebut hampir-hampir tak mampu untuk memberikan sanksi hukum. Aksi berjilid-jilid pun harus dilakukan oleh umat Islam untuk mendapatkan keadilan. Begitu juga dengan kasus penistaan sukmawati bagian satu, atau penistaan oleh Joshua yang dia lakukan di stand up comedy, hanya berakhir dengan permintaan maaf dan mereka pun lolos dari jerat hukum. Ironis memang! Jumlah umat Islam mayoritas di negeri ini, namun agama Islam sering menjadi korban penistaan.

Melihat kondisi ini, PKS (partai keadilan sejahtera), mengusulkan RUU perlindungan agama dan ulama untuk memperluas cakupan UU yang sudah ada atau menutup celah kekosongan hukum dalam kontes ini. Pada laman kompas.com (16/11/2019): "Partai Keadilan Sejahtera ( PKS) berkomitmen untuk merealisasikan empat janji politik selama masa kampanye Pemilu 2019, salah satunya yakni menginisiasi Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perlindungan Ulama, Tokoh Agama, dan Simbol Agama.

"PKS berkomitmen memperjuangkan RUU Perlindungan Ulama, Tokoh Agama, dan Simbol-Simbol Agama," ujar Sekjen PKS Mustafa Kamal saat membacakan hasil rekomendasi Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (16/11/2019).

Agar Islam Tak Dinista

Kegagalan negara melindungi Islam dari penistaan berbagai pihak adalah bukti bahwa sungguh negara yang bersandar pada sistem sekularisme ini lemah dalam melindungi agama Islam. Alasan kebebasan berpendapat, sering menjadi tembok yang menghadang suara perlawanan umat Islam atas penistaan terhadap agamanya. Upaya membuat regulasi baru dan penegakan hukum yang tegas tentu tak cukup untuk menyelesaikan kasus penistaan Islam.

Selama Islam hanya diposisikan sebagai agama yang sekedar mengatur ibadah ritul dan moral semata, maka selamanya Islam akan terus diremehkan. Maka butuh perubahan sistemik untuk menerapkan Islam yang berasal dari Allah dan Rasulnya sebagai sumber nilai dan aturan dalam seluruh aspek kehidupan. Semua warga negara wajib memahami dan mempraktikannya. Dan pihak pendengki Islam tidak akan dibiarkan menjalankan aksinya. Hal ini terbukti sepanjang sejarah penerapan Islam sebagai sistem hidup, sungguh Islam adalah agama yang tinggi dan dimuliakan. Tak ada yang berani meremehkan apalagi sampai menistakan Islam dan umatnya. Oleh karena itu hanya dengan kedudukan sebagai sistem hidup itulah, perendahan terhadapnya akan berhenti.

Wallahu 'alam bishowwab

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...