28 March 2020

Adakah Independensi Media ?, Sebuah Pernyataan Sekaligus Pertanyaan

                                                                           Warih W Subekti *)

Adakah media yang benar-benar independen saat ini ?, secara tegas saya berani mengatakan tidak !, padahal kita tahu, bahwa banyak media dalam idiologinya independen dan tak memihak pada satu golongan tertentu. Pertanyaannya sekarang kenapa media tidak bisa atau tidak mampu menjaga independensinya, benarkah lantaran media tak lagi merupakan institusi yang memperjuangan kepentingan publik, tapi media saat ini sudah menjadi alat atau dikuasai oleh seseorang atau kelompok orang untuk memperjuangakan kepentingan kelompoknya.

Tiras atau oplah menjadi persoalan bagi media cetak untuk tetap eksis dan bisa menjumpai pembacanya, demikian juga bagi media elektronik rating menjadi satu tujuan media itu supaya tetap mendapatkan iklan agar media yang bersangkutan terus bisa menyelenggaran siarannya. Apa terjadi kemudian yang dilakukan oleh media untuk mencapai hal itu, mereka melakukannya dengan cara yang terkadang sampai melanggar hal-hal yang tabu supaya bisa meningkatkan tirasnya juga menaikkan ratingnya, banyak program acara di televisi yang bernilai sampah dan juga media cetak yang hanya menampilkan hal-hal yang berbau syur, kita pernah mendengar jurnalisme ' ser dan ler ' yang digagas Arswendo Atmowiloto dengan 'Monitor' nya yang pernah menghebohkan itu.

Dan di media elektronik kita pernah saksikan program-program acara televisi yang cuma memanjakkan syahwat, di sebuah stasiun televisi swasta yang memang notabene hanya untuk kepentingan profit semata dan mengesampingkan atau membuang jauh-jauh aspek edukasi bagi pemirsanya, sangat tragis memang tapi itulah fakta yang ada di depan kita, dimana persaingan didalam media televisi terutama televisi swasta sangat tajam.

Apalagi menjelang Pilpres 2014 ini, apakah kita melihat ada media yang masih menjunjung tinggi independensinya ? saya rasa tidak ada, indepensinya hanya sebuah jargon yang ada pada tataran ideal saja dan kenyataan praktisnya media berpihak pada seseorang atau kelompok tertentu, ini bisa disebabkan karena afiliasi media dengan tokoh atau kelompok itu, atau memang media yang bersangkutan dikuasai atau dimiliki oleh tokoh atau kelompok yang dimaksud.

Kita pernah mendengar Koran Suara Karya yang berjaya pada saat orde baru berkuasa, saat itu oplahnya bisa mencapai 150 ribu eksemplar, dan rakor ini cuma bisa ditumbangkan oleh Jurnal Nasional yang dikomadoi Budayawan Taufik Rahzen, kedua media di atas bisa eksis dan berjaya karena ada dukungan politik dari penguasa, tentu nasibnya akan tidak jelas sebagaimana Suara Karya setelah orde baru tak lagi berkuasa juga Jurnal nasional juga tinggal menunggu ajal, saat nanti Partai Demokrat sebagai bumper terlempar dari kursi kekuasaannya.

Bagaimana kita melihat kesetiaan TVRI mengawal orde baru dengan memproduksi program-program acara dari Departemen Penerangan yang sangat monumental semacam Klopencapir yang hingga saat ini kita masih terkesan dan rindu pada tayangan semacam itu yang mampu memberdayakan masyarakat kecil para petani dan nelayan, hingga mereka bisa menaikkan taraf hidupnya. Ini tak bisa dicapai oleh televisi swasta yang kemudian muncul bagai cendawan di musim hujan, merayakan kebebasan di era ketebukaan informasi ini.

Kemudian timbul pertanyaan apakah nanti penguasa mendatang akan menerbitkan media yang baru yang akan mendukung dan menyuarakan kepentingan-kepentingannya sebagaimana orba dengan Suara Karya dan Partai Demokrat dengan Jurnal nasional, Bagaimana pula dengan media-media maindstreem apakah mereka akan merobah arah redaksionalnya atau menjadi penyeimbang dan mengkritisi penguasa yang baru, baiklah kita tunggu saja kiprah mereka selanjutnya.

*) Warih W Subekti, Penyair dan Pengamat Media, Saat ini Tinggal di Jakarta. (War)

 

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...