16 December 2017

Abu Janda dan Hadits 200 Tahun Setelah Rasulullah SAW Wafat

Oleh: Dini Sumaryanti

Menyaksikan ILC semalam, saya tergelitik..ah lebih tepatnya mual, dengan pernyataan abu janda (malas saya menuliskan namanya dengan huruf besar di awal kata). Menyatakan “Hadits itu kan dibuat 200 tahun sesudah Nabi saw wafat”. Sebenarnya dari pernyataan itu saja sudah terlihat kualitas dirinya sebagai orang yang mengaku muslim. Apalagi menjadikan dia sebagai ustadz..sungguh jauh dari kata layak.

Teringat saya puluhan tahun silam. Ketika belajar ulumul hadits bersama sahabat-saahabat tercinta akhwat angkatan 24 IPB. Sepanjang kajian mewek2 menahan haru dan akhirnya pecahlah tangis setelah selesai kajian, karena baru saat itu saya memahami bagaimana besarnya perjuangan, pengorbanan para mukhorij (orang yang mengeluarkan hadits, seperti imam Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasai dan lain-lain) untuk memastikan hadits yang mereka keluarkan benar-benar berasal dari Rasulullah saw.

Dalam menghimpun hadits-hadits para Mukhorij menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Mereka  berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.

Yang membuat saya menangis antara lain kisah Imam Bukhori. beliau senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: “Aku susun kitab Al Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.” 16 tahun sobaaat, beliau hibahkan waktunya agar kita bisa mengetahui perbuatan, perkataan, bahkan diamnya rasulullah saw, untuk kita jadikan sebagai pegangan. 

Waktu  16 tahun itu beliau isi dengan mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits. Jangan dibayangkan bepergian ke kota-kota teresebut dari tempat tinggal beliau di Bukhoro (Rusia) naik pesawat.. membayangkan perjalan darat dengan kuda, unta, atau bahkan berjalan kaki membuat air mata ini semakin deras mengalir. Secara saya naik kuda setengah jam, pegal linunya nggak hilang seminggu.

Tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Mari renungkan sahabat sudah jauh-jauh, repot-repot menghafal 1 juta hadits, namun beliau rela tidak menuliskan dalam kitabnya, jika tidak memenuhi kriteria shohih.

Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhori tak hanya sekali mendatanginya. Setelah sekian tahun, ulama tersebut dikunjungi kembali. Tujuannya untuk memastikan apakah masih konsisten hadits yang dulu disampaikan dengan saat kunjungan berikutnya. 
Beliau berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

Banyak ulama atau perawi yang ditemui sehingga Imam Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits.  Perilaku dan sikap merekapun menjadi perhatian Imam Bukhori. Pernah bliau meninggalkan hadits yang salah satu perawinya saat dikunjungi memanggil kudanya dengan memukul palung (tempat makanan kuda), untuk ditunggangi. Padahal biasanya palung  dipukul jika akan memberi makan.

Kasus lain, seorang perawi ditolak haditsnya karena keluar rumah tak memakai kopyah (topi penutup kepala). Ada juga ulama yang menyelonjorkan kakinya ke Arah Ka’bah, tertolak haditsnya. Bisa dibayangkan betapa tingginya kepribadian para ulama perawi hadits, yang beliau terima haditsnya.

Kehati-hatian beliau dalam menyusun hadits terlihat dari pernyataan Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. “Saya susun kitab Al-Jami’ as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih”. 

Ah tak mampu diri ini kembali membendung rasa haru, jika mengingat perjuangan para Mukharij hadits. Hanya orang-orang jahil yang menganggap remeh hadits. Sehingga tak merasa perlu percaya atau terikat pada makna kandungannya.

Parent mari ita kenalkan anak-anak kita dengan tsaqofah Islam sejak dini, seperti tafsir, hadits, bahasa Arab, Siroh Rasulullah saw dll. Agar kelak mereka tak jadi seperti abu janda dan pengikutnya. Naudzubillah min dzalika.

#YukNgaji biar pinter
#JanganBubarinPengajian Nanti Kayak abu janda
Dini #InspiRatorOrangTuaHebat
#ParentingIslami
#ParentingIdeologis

Tags: 
Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...