22 March 2019

Wawancara Eksklusif Simon McMenemy, Cahaya Harapan Timnas Indonesia

KONFRONTASI -  Pelatih asal Skotlandia, Simon McMenemy, didapuk menjadi pelatih tim nasional Indonesia oleh PSSI. Pelatih berusia 41 tahun tersebut akan membesut timnas selama dua tahun.   Salah satu target yang diberikan PSSI kepada Simon adalah membawa timnas Indonesia menjadi juara di Piala AFF 2020. Indonesia memang belum bisa menaklukkan Piala AFF.

 

Prestasi terbaik timnas di ajang ini adalah lima kali menjadi runner-up. Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, dalam wawancara dengan Kompas.com beberapa waktu lalu, menyatakan bahwa Simon sebagai sosok tepat untuk memutus puasa gelar Indonesia di Piala AFF. "Bagi PSSI memilih Simon bukan keputusan tiba-tiba. Ada pertimbangan bahwa ini pelatih yang memahami karakter sepak bola, catatan prestasi, secara kualifikasi memenuhi, dan ini sebagai bagian satu dari elemen suksesnya timnas," kata Jokdri.

Ya, Simon merupakan pelatih muda berprestasi. Dia pernah membawa Filipina untuk kali pertama menembus semifinal pada 2010. Saat itu, dia masih berusia 33 tahun. Kemudian, Simon sukses mempersembahkan gelar juara Liga 1 bagi Bhayangkara FC pada 2017. Dia pun kemudian dinobatkan sebagai pelatih terbaik. Simon pun sudah menyusun rencana untuk mewujudkan target mempersembahkan gelar juara. Berikut uraian Simon soal timnas dalam wawancara dengan wartawan Kompas.com, Ferril Dennys Sitorus, dan tim BolaSport.com: Selamat Anda terpilih menjadi pelatih timnas Indonesia.

 

Lalu apakah menerima tawaran melatih timnas Indonesia sebagai sebuah keputusan yang sulit? Menerima tawaran tersrebut bukan hal yang sulit. Adalah hal yang spesial untuk bekerja di tim yang sangat mencintai sepak bola. Saya beruntung mendapatkan pekerjaan di timnas Filipina tetapi tidak banyak fans yang mendukung Anda dan memberikan motivasi untuk terus maju. Saat datang ke Indonesia pada 2010 bersama Filipina, saya yang berdiri di depan tribune Stadion Gelora Bung Karno terisi penuh bergemuruh oleh suara-suara suporter, hal tersebut membuat bulu kuduk saya berdiri. Hal itu masih membuat saya terkesan. Fakta sekarang saya mendapat dukungan sedemikian besar dari orang-orang sebanyak itu merupakan perasaan sangat luar biasa. Saya sudah tidak sabar untuk menjalani pertandingan bersama timnas. Apakah waktu setahun cukup bagi Anda untuk memenuhi target PSSI membawa timnas Indonesia menjuarai Piala AFF 2020? Dalam satu tahun tidak (cukup persiapan) karena dua tahun lagi baru mulai turnamen itu. Tapi untuk juara, hal itu mungkin terpenuhi. Indonesia punya banyak talenta. Kita hanya harus menggabungkan satu per satu talenta itu untuk menjadi sebuah tim yang solid.   

 

Saya hanya harus menemukan kombinasi yang tepat untuk mewujudkannya. Jadi saya pikir target itu mungkin terpenuhi. Namun selain memiliki tim bagus, kami butuh dukungan penuh. Dukungan semacam apa yang Anda butuhkan? Sama saja seperti situasi di Liga. Semua orang datang ke pertandingan kandang, karena itu stadion jadi ramai dan dipenuhi gemuruh, serta semangat suporter. Tim jadi seperti bermain dengan 12, 13, atau 14 orang. Hal itu juga sama di timnas. Hanya ada beberapa negara yang bisa menandingi Indonesia saat Gelora Bung Karno terisi penuh. Stadion itu memang keren karena gemuruh suporter. Hal ini sangat mengintimidasi lawan yang datang. Jika Indonesia ingin sukses, kami butuh dukungan luar biasa juga.    Berbicara soal prestasi, menurut Anda apa penyebab timnas tidak bisa juara setidaknya di ajang Piala AFF? Hmmm, saya mencoba menjelaskannya. Sangat banyak hal positif. Tapi banyak hal juga yang harus saya coba kembangkan. Pengetahuan sepak bola di luar lapangan, menurut saya, adalah satu faktor kunci.

 

Lihat Malaysia, Thailand, atau Johor Darul Takzim. Mereka membangun fasilitas luar biasa untuk meningkatkan motivasi pemain di luar lapangan, sebelum bertanding. Pendidikan tentang hal seperti ini yang masih harus dikembangkan di Indonesia. Tim, pemain, dan setiap individu masih harus mengerti tentang apa yang terjadi di luar lapangan dan bagaimana rasanya tampil di lapangan. Hanya turun ke lapangan dan bermain saja tidak selalu cukup. Soalnya, Anda akan terkena cedera atau sanksi bermain atau kelelahan. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan seputar pendidikan di luar lapangan. Saya pikir, pelatih sebelumnya telah melakukan hal bagus untuk membuat tim maju. Saya berharap bisa melanjutkannya. Tapi, saya juga punya target spesifik, dalam mengembangkan mental tim di luar lapangan. Semoga hal tersebut bisa membuat pemain tampil bagus di dalam lapangan. Jadi hal itu menjadi masalah yang kompleks bagi Anda?

Gambar mungkin berisi: 1 orang, janggut dan teks

Saat menerima tawaran timnas, saya pulang ke negara saya. Teman saya bilang,'selamat. bagaimana timnya.' Saya jawab ini bukan soal sebuah tim, melainkan sebuah pekerjaan besar. Tim hanya bagian kecil dari pekerjaan. Pengalaman saya sebagai pelatih di klub membuat saya lebih baik dalam memahami masalah dan pekerjaan yang harus saya lakukan.

Saya pikir jika Anda ingin menjadi pelatih yang sukses, Anda harus mengerti melatih sepak bola dari dasar hingga level tertinggi. Satu-satunya cara agar bisa melakukannya adalah melibatkan diri Anda sendiri.

 

Salah satu persoalan timnas adalah minimnya penyerang lokal. Apa pendapat Anda soal masalah ini?   Persoalan striker bukan hanya dialami oleh Indonesia. Hal itu karena penyerang muda sulit dapat tempat karena klub lebih memilih merekrut penyerang asing. Namun karena klub bisa membayar penyerang asing itu, kenapa harus mengambil risiko memainkan pemain muda? Selalu ada risiko untuk memainkan pemain muda dan hal inilah yang terjadi di negara-negara Asia Tenggara. Lalu apa solusinya?

Saya telah berdiskusi dengan PSSI soal kemungkinan merekurt pelatih spesialis untuk striker. Dia adalah orang khusus memonitor para striker, bukan hanya di timnas tetapi di level u-22 untuk memastikan perkembangan mereka. Terkadang sulit saat Anda memiliki tim dengan 21 sampai 25 pemain, untuk berkosentrasi pada satu hal saja.  Masalahnya adalah pemain muda itu jarang dapat kesempatan tampil di klub. Ambil contoh Dendy Sulistiawan. Sangat sulit bagi dia untuk dapatkan kesempatan tampil di liga. Hal-hal itulah yang harus ditemukan solusinya bersama. Semoga salah satu cara mendatangkan pelatih striker ini bisa fokus untuk membuat para penyerang tampil lebih baik.   Apakah peran pelatih spesialis untuk striker sama dengan pelatih kiper? Ya, kurang lebih sama. Kebanyak tim juga memiliki pelatih khusus striker. Contohnya timnas Inggris yang sukses di Piala Dunia 2018. Siapa kira-kira kandidat pelatih striker? Ada beberapa nama yang sedang didiskusikan bersama PSSI. Anda pernah berpengalaman melatih di Vietnam, Filipina, dan Indonesia. Sekarang level Vietnam sudah sangat tinggi setelah lolos ke perempat final Piala Asia 2019. Bisakah Indonesia seperti mereka dan berapa lama waktu yang dibutuhkan? Liga di Vietnam sangat sulit.

 

Mungkin gaji pemain tidak terlalu tinggi dan penontonnya sedikit, tetapi sepak bola mereka sangat terorganisasi. Hal bagus yang mereka lakukan adalah berinvestasi untuk perkembangan pemain muda. Mereka membangun pusat perkembangan pemain muda dan strukturnya. Ada banyak strategi berbeda untuk mengembangkan tim nasional. Filipina membangun dari atas lebih dulu untuk memacu perkembangan pemain muda. Mereka membangun timnas dengan pemain-pemain berkualitas agar sukses, lalu menghadirkan gairah dan memancing ketertarikan untuk pemain muda dan lebih banyak anak-anak untuk bermain sepak bola. Akhirnya generasi muda itu yang akan menemukan cara untuk berkembang.

 

Situasi di Indonesia sedikit berbeda. Kita harus punya timnas Indonesia yang membanggakan dan menginspirasi generasi muda. Ide pribadi saya adalah menciptakan role model. Dia harus menjadi standar terbaik dan teladan bagi semua orang. Misalnya, saya ingin seperti Evan Dimas, atau siapa pun. Saya ingin pemain muda menjadikan role model itu sebagai inspirasi. Banyak hal berbeda yang bisa dijadikan patokan untuk menciptakan role model misalnya mindset. seperti attitude, kesempatan bermaim di klub, serta tanggung jawab. Saya ingin membentuk timnas seperti cahaya yang membuat bangga semua orang.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih

Banyak orang menganggap Anda gagal bersama Marcus Bent di Mitra Kukar. Bisa Anda ceritakan pengalaman Anda di sana bersama Bent? Dia bekerja dan tinggal di Tenggarong, area yang sangat sulit bagi seorang pemain Premier League. Dia terbiasa berlatih di salah satu fasilitas terbaik di Inggris, lalu tiba-tiba tinggal di Kalimantan. Hal ini tak ada hubungannya dengan sepak bola. Bukan artinya Marcus menjadi pemain gagal, bukan. Tugas keseharian saya kebanyak untuk memastikan Marcus termotivasi dan dia tidak pergi. Orang yang mengamati Marcus bisa melihat pada musim tersebut dia mencetak 6 gol. Namun, rekannya di lini depan, Jajang Mulyana, mencetak 15 gol dalam setengah musim. Karena semua  orang terfokus kepada Marcus, tak ada yang mengamati Jajang. Jadi mereka melihat Marcus untuk  melihat sukses atau gagal. Saya pikir sukses karena Jajang bermain sangat-sangat bagus. Kami ada di posisi ketiga ketika saya pergi. Sulit mengatakan saya gagal. Saya gagal karena kehilangan pekerjaan. Hal itu tergantung manajemen. Namun, saat itu kami bermain bagus. Semua orang  mencetak gol karena Marcus membuat repot semua bek tengah. Sungguh keuntungan memainkan pemain seperti dia. Saya pikir musim 2017 saat marquee player diperkenalkan di liga, kami punya  opsi untuk merekrut banyak pemain berbeda. Kami memenangi liga dan dan marquee player saya adalah pemain terbaik. Jadi, saya pikir pengalaman yang dipelajari dari memiliki Marcus bersama  Mitra Kukar sangat bagus untuk keputusan mendatangkan marquee player. Tapi pada pramusim di Cilacap, Anda bilang Bhayangkara FC tidak butuh marquee player. Bagaimana pendapat Anda? 

Gambar mungkin berisi: 1 orang, janggut dan teks

Pada  2017 menjadi musim menarik karena marquee player. Klub merekrut pemain dengan nama besar, Namun, sistem itu tidak selalu sukses, contohnya marcus bent. Kami rekrut marquee player dengan level rendah. Saya bilang liga tidak butuh marquee player. Fokus semua klub jadi terarah ke sana. Gara-gara marquee player, pemain muda jadi tidak memiliki kesempatan. Bukannya dipromosikan dan dikembangkan, klub lebih memilih merekrut pemain yang kariernya sudah hampir habis. Untuk apa? Untuk terkenal? Saya tidak suka sistem marquee player di 2017. Pada 2018 ada banyak pemain bagus dan profesional. Lebih bagus untuk tidak memakai marquee player. Saya pikir liga 1 adalah kompetisi yang ketat. Saya melihatnya sekarang. Perbedaan antara juara liga dan finis di atas zona degradasi hanya 20 poin. Sekitar 6 kemenangan perbedaannya. Perbedaannya liga sekarang sangat ketat dan sangat sulit buat siapa pun. Kalah sekali peringkat Anda jatuh jauh, menang sekali Anda ke puncak klasemen. Di Bhayangkara, Anda memiliki Zulfiandi dan Alfin Tuasalamony. Kedua pemain ini sempat mengalami cedera panjang. Namun, Zulfiandi cepat tumbuh masuk ke timnas Indonesia. Apa Anda yang lakukan sehingga Zulfiandi bisa kembali ke performa terbaiknya? Zulfiandi tidak beruntung. Di awal 2017, dia bermain bagus dan memiliki teknik.

 

Dia berkembang di latihan. Dia tahu apa yang kami ingin sampai akhirnya dia mengalami cedera. Ketika dia kembali ke tim, banyak pemain yang bermain bagus. Wahyu Suboseto, Evan Dimas, dan Lee Yu-jun mendominasi di lini tengah. Kesempatan dia jadi terbatas. Itu sebabnya dia pindah ke Sriwijaya. Itu transfer yang bagus. Saya bilang ke dia saya senang dia ke Sriwijaya. Saya harap dia bagus di sana. Zulfiandi semakin kuat. Alfin kembali dari cedera parah. Dia bersaing dengan Putu Gede yang bagus dalam dua musim terakhir dan menjadi pemain timnas senior. Mengembangkannya setahap demi setahap. Terkadang memainkannya sebagai starter, atau istirahat. Untuk kedua pemain, itu membuat perbedaan selama mereka ada di Bhayangkara. Saya senang mereka Alfin dan Zulfiandi tampil bagus di klub baru dan membela timnas. 

 

Salah satu kendala Luis Milla waktu melatih timnas adalah bahasa. Apakah Anda ingin belajar bahasa Indonesia? Saya pikir bahasa tidak jadi masalah. Komunikasi yang penting di sepak bola. Di luar lapangan pelatih, di dalam lapangan pemain. Harus ada komunikasi bagus. Tidak ada gunanya saya punya pengetahuan, tapi tidak bisa memberikannya kepada pemain karena masalah bahasa. Itu hal terpenting bagi pelatih: penyampaian pesan. Dua tahun terakhir saya berusaha walaupun tidak lancar bahasa Indonesia. Saya akan menggambar atau menyiapkan video dalam sesi latihan apa yang ingin kami lakukan. Walaupun pemain tidak memahami secara verbal, lewat gambar mereka tahu apa yang harus dilakukan. Saya berusaha membuat banyak bentuk komunikasi, bukan cuma verbal. Ada pelatih yang hanya menggunakan verbal. Saya tahu verbal itu sulit di Indonesia karena saya tidak berbahasa Indonesia dengan bagus. Jadi saya coba bentuk lain komunikasi. Pemain seringkali terbelah fokusnya antara klub dan timnas. Bagaimana sikap Anda soal situasi ini? Saya pikir ini situasi di semua negara. Bedanya kita tidak menghentikan liga saat timnas bermain. Ada alasan untuk situasi ini. Sulit bagi pemain untuk bermain bagi timnas dan klub. Timnas vs klub adalah argumen yang sudah berlangsung lama di mana pun. Tujuan kunci adalah punya relasi bagus dengan pelatih klub. Saya pernah jadi pelatih klub, pernah merasakan ditinggal pemain karena timnas. Saya ingin memastikan pelatih klub tahu apa yang dilakukan timnas. Jika kita bisa membuat hidup lebih mudah bagi pelatih klub, hidup juga akan lebih mudah bagi pemain. Lebih sedikit tekanan, lebih banyak perencanaan dari pelatih klub untuk mengantisipasi strateginya jika pemain yang dibutuhkan tidak ada karena di timnas. Komunikasi dengan pelatih klub sangat penting untuk saya. *Apakah akan pakai formasi di Bhayangkara, sama seperti Luis Milla, atau punya opsi lain? Pertama-tama saya bukan Luis Milla.

 

Dia punya ide, etos, dan filosofinya sendiri. Beberapa idenya pasti akan saya coba lanjutkan. Tapi saya yakin pelatih harus percaya diri. Anda harus percaya Anda tahu apa yang terbaik untuk pemain. Pertama-tama, harus memahami pemain. Apa yang bisa mereka lakukan, apa yang tidak bisa mereka lakukan. Di Bhayangkara beberapa bulan pertama, saya bermain dengan 4-4-2 diamond. Beberapa pemain tidak yakin, tapi akhirnya kami menjuarai liga dengan formasi itu dengan permainan bagus. Kami mengoper bola. Sangat penting bagi saya untuk segera mengetahui apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan grup pemain di timnas. Apa yang mereka bisa, saya akan mencoba membangun strategi berdasarkan apa yang mereka bisa lakukan. Yang tidak bisa mereka lakukan, saya akan membangun strategi yang menyembunyikan kelemahan ini. Melindungi dari hal-hal ini. Inilah yang harus dilakukan pelatih. Akan arogan jika saya memaksakan formasi. Saya tidak percaya ini. Saya percaya strategi harus dibangun berdasarkan kemampuan tim, bukan pemain berdasarkan strategi. Jadi, untuk saat ini strategi buat pertandingan pertama saya di timnas bukan prioritas. Filosofi apa yang akan Anda bangun di timnas? Saya suka possession football. Lebih sedikit membuat kesalahan, lawan tidak bisa menguasai  banyak bola.

 

Jika Anda yang pegang bola, lawan tidak bisa mencetak gol. Sesimpel itu. Saya percaya pada possession football, tapi saya juga percaya pada mencari cara meraih kemenangan. Terkadang tim dengan possesion football hanya memainkan bola tapi tidak bisa masuk ke daerah lawan. Statistik 80 persen  tapi cuma 1 kali menembak. Kami harus bisa beradaptasi. Harus memahami 3-4 strategi dan bereaksi dengan cara lawan bermain. Bhayangkara pada 2018 sulit karena kami harus mencari cara berbeda untuk menang. Kami mulai dengan 4-4-2, kemudian berubah 4-2-3-1, 4-4-2 flat. Itu sebabnya tim seperti Barcelona memang, tim seperti Leicester City menang. Pelatih selalu mencari cara melawan strategi. Saya suka possession football, tapi saya ingin mencari strategi yang cocok dengan pemain timnas dan efektif untuk dipakai menghadapi lawan. Off the pitch, mentalitas tinggi harus ditunjukkan pemain timnas menjadi contoh. Selalu ada rivalitas, tapi di timnas kita semua Indonesia. Siapa pelatih yang menginspirasi Anda? Saya tidak tahu apakah Anda pernah mendengarnya. Jock Stein. Bisa menghasilkan tim dengan pemain yang menjuarai Piala Champions 1967. Semua pemain tim Celtic itu lahir 32 kilometer dari stadion mereka. Itu statistik yang luar biasa untuk tim juara Eropa. Saya suka underdog. Tidak ada tekanan dan bertarung melawan tim-tim kuat. Celtic waktu itu juga begitu. Dia membawa pemain lokal yang tidak pernah diketahui tetapi tahu-tahu mengalahkan Real Madrid dan Inter Milan. Sangat menginspirasi, saya membaca banyak buku tentangnya. Cerita tentang David vs Goliath ini menjadi inspirasi saya.(Jft/Kompas)

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...