27 February 2017

Terpuruknya Rupiah, Krisis Legitimasi Jokowi-JK dan Demo Mahasiswa

KONFRONTASI- Rupiah terpuruk,  pemerintahan Jokowi-JK yang tidak berkualitas kiian hadapi krisis legitimasi dan rakyat sudah gerah. Apakah gerakan ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bandung dan Jabodetabek masih digdaya? Apakah mereka masih mau melakukan aksi demonstrasi di depan Istana Negara pasca aksi demo Senin (25/5/15)?. Apakah mahasiswa ITB, Unpad, UIN Bandung, UPI, Telkom dan BEM Jabodetabek masih mau menyelamatkan negara dan bangsa dari krisis ekonomi?

Dalam orasi aksi mahasiswa Mei lalu, mereka menyoroti paket kebijakan pemerintahan Jokowi-JK yang dinilai membuat rakyat kecil semakin sengsara. Melambungnya harga pokok, kenaikan BBM, dan kenaikan Tarif Dasar Listrik merupakan contoh kongkret dari kebijakan pemerintah yang mereka anggap tidak berpihak terhadap kehidupan rakyat.

Selain itu, mahasiswa juga menyoroti lemahnya kinerja penegakan hukum. Mereka menagih janji pemerintah untuk menuntaskan mega skandal BLBI, Kasus Century, pemberantasan mafia migas dan mafia CPNS.

Aliansi BEM Jabodetabek merupakan gabungan dari Badan Eksekutif Mahasiswa dari sejumlah kampus swasta yang terdiri dari BEM Universitas Bung Karno, BEM Univ. Islam Assyafiiyah, BEM Univ. Islam At-Tahiriyah, BEM Az-Zahra, KM Universitas Ibnu Chaldun, KM Universitas Mpu Tantular dan LEKSMA Jayabaya.

Dalam aksinya mereka membentangkan baliho raksasa berwarna merah putih dan terpampang foto besar Presiden Jokowi. Di bawah baliho tertulis "Pak Jokowi, Pemimpin Tanpa Beban Masa Lalu Namun Tersandra oleh OTAK KEJAHATAN Masa Lalu". Selain itu mereka juga membubuhkan delapan tuntutan yaitu:

1. Turunkan Segera Harga Kebutuhan Pokok
2. Stop Impor, Selamatkan Petani.
3. Bagikan 2 Hektar Lahan per-Petani Miskin
4. Bangun Sejuta Rumah Layak Huni untuk Prajurit TNI/POLRI
5. Tangkap dan Tuntaskan Kasus Mega Skandal BLBI
6. Tangkap dan Usut Tuntas Kasus Century
7. Tangkap dan Usut Tuntas Mafia Petral
8. Tangkap dan Usut Tuntas Mafia Penerimaan CPNS.

Sejumlah aktivis mahasiswa yang berasal dari organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di berbagai kampus swasta Jabodetabek pada Senin (25/5) akan mendatangi istana negara untuk menyampaikan tuntutan atas berbagai problem yang dihadapi bangsa Indonesia.

Dalam rilis undangan kepada media massa Minggu (24/5) disebutkan aksi yang akan mereka lakukan merupakan tanggapan atas opini yang berkembang di tengah masyarakat atas sikap "naris" dan "budaya pop" yang dilakukan beberapa elite mahasiswa beberapa waktu lalu saat diundang diskusi oleh Presiden Jokowi di Istana Negara. Mereka kecewa atas perilaku elit mahasiswa tersebut yang dinilainya telah bermesraan dengan rezim dan mengabaikan fungsi kontrol mahasiswa terhadap pemerintah.

"Ber-selfie riang di istana negara menjadi kebanggaan, seakan mereka lupa bahwa kehadiran mereka disana adalah menyampaikan aspirasi rakyat dan menuntut pemerintah u/ menjalankannya," tulis mereka yang menyebut diri berasal dari BEM UBK, BEM Univ. Islam Assyafiiyah, BEM Univ. Islam At-Tahiriyah, BEM Az-Zahra, KM UIC, dan LEKSMA Jayabaya.

Sejumlah BEM dari kampus swasta tersebut akan memulai aksinya sekitar pukul 08.00 pagi dan akan menyuarakan 8 tuntutan berikut:

1. Turunkan Segera Harga Kebutuhan Pokok
2. Stop Import, Selamatkan Petani.
3. Bagikan 2 Hektar Lahan per-Petani Miskin
4. Bangun Sejuta Rumah Layak Huni untuk Prajurit TNI/POLRI
5. Tangkap dan Tuntaskan Kasus Mega Skandal BLBI
6. Tangkap dan Usut Tuntas Kasus Century
7. Tangkap dan Usut Tuntas Mafia Petral
8. Tangkap dan Usut Tuntas Mafia Penerimaan CPNS.

Seperti diketahui pada Senin (18/5) lalu, sejumlah pimpinan BEM dari UI, ITB, UGM, UIN, Trisakti, Telkom University, Unpad, ITS, Unpar, Iisip, UPI, serta Atma Jaya diundang diskusi oleh Presiden Jokowi ke Istana Negara. Undangan diskusi itu disebut-sebut sebagai skenario pihak istana untuk menjinakkan mahasiswa yang sebelumnya diberitakan berencana menggelar aksi besar-besaran pada 20 Mei 2015 yang bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional.

Beberapa saat setelah digelarnya pertemuan itu kemudian beredar foto mahasiswa bersama presiden di istana negara. Foto itupun kemudian melahirkan cibiran di media sosial yang membandingkan perbedaan antara mahasiswa tahun 1998 yang dinilai lebih idealis dengan mahasiswa era 2015 yang ber"selfie" dengan presiden.

Salah satu foto yang beredar di media sosial membandingkan perbedaan aksi mahasiswa 1998 dan 2015.

 

Category: 

Berita Terkait

Baca juga


Loading...