20 April 2019

Survei Litbang Kompas: Rakyat Ingin Perubahan Mendasar, Jokowi Lengser dan Prabowo Pimpin 2019-2014

KONFRONTASI- Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas yang baru dirilis menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia mulai menginginkan adanya perubahan yang mendasaar dan mutlak. Masyarakat mulai jenuh dengan sejumlah rekayasa informasi yang dilakukan pemerintah Jokowi yang lumpuh dan gagal ekonomi saat ini. Survei Litbangh Kompas menunjukkan dengan jelas bahwa rakyat Ingin Perubahan mendasar, dimana Jokowi Lengser/pensiun, Prabowo yang pimpin 2019-2014, itulah makna dari survei tersebut.

Begitu kata analis sosial dari Universitas Bung Karno (UBK) Muda Saleh dan  inteligensia/pengajar Universitas Paramadina Herdi Sahrasad  secara terpisah dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Rabu (20/3).
 
“Apa yang terjadi saat ini kan, dikatakan semua baik-baik saja, entah itu ekonomi, sosial, angka kemiskinan dan bahkan survei-survei yang merujuk pada penilaian Jokowi-Maruf, kebanyakan bunga-bunga,” ujar Saleh.

''Rakyat ingin perubahan mendasar, karena Jokowi gagal ekonomi, penegakan hukum tebang pilih, daya beli rakyat ambruk dan kaum petani/nelayan dan kaum pedagang kecil/informal makin terpuruk, sehingga Nawa Cita jadi Nawa Duka dan aliansi parpol pendukung Jokowi makin terpuruk dan mengundang rakyat meluapkan kecaman dan kutukan,'' kata Herdi Sahrasad.

''Jokowi tak kompeten, dan dia  tuding  anggota kabinetnya bodoh karena impor kalahkan ekspor, defisit perdagangan, padahal Jokowi sendiri tak ada terobosan dan solusi, miskin gagasan dan tak mengerti masalah, tak ada solusi. Jadilah negeri ini ekonominya diwarnai dengan data sesat, ngawur dan ekonomi nasional pun ngawur-ngawuran jadinya,''  ujar Herdi.

 
Masyarakat, kata Saleh, ingin agar Jokowi jujur dalam menyampaikan hasil capaian yang diraih. Semisal ekonomi yang sedang tidak sehat dan kebakaran hutan. Masyarakat, sambungnya, sempat kecewa lantaran dalam debat pilpres Jokowi memanipulasi informasi tersebut.tersebut.
 
“Ya, harapannya kan presiden bisa memberikan informasi yang jujur. Ini kan (saat debat) bisa dikatakan manipulatif informasi,” tegas Saleh.
 
Baginya, Jokowi sudah terlambat untuk memperbaiki penyampaian informasi-informasi yang jujur itu kepada masyarakat, mengingat hari pencoblosan pilpres tinggal hitungan hari, 
 
“Masyarakat kita sudah bergeser, tak lagi suka dengan ‘ketokohan’ melainkan visi dan misi yang membangun peradaban, ekonomi dan sistem yang juga membangun Indonesia lebih baik, satu saja yang paling pas dilakukan oleh Jokowi, yaitu meminta maaf kepada bangsa Indonesia,” tutupnya. 
 
Survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Jokowi-Maruf mengalami penurunan dari Oktober 2018 sebesar 52,6 persen menjadi 49,2 persen di bulan Maret. Sementara pesaingnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengalami kenaikan. Dari 32,7 persen di bulan Oktober menjadi 37,4 persen di bulan Februari.
 
Kini gap kedua pasangan itu menyempit menjadi 11,8 persen. [rmol]
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...