22 May 2019

Sri Mulyani Ngapain? Defisit Terparah, Neraca Dagang Babak Belur: Ekonomi Jokowi Menuju Hancur?

KONFRONTASI- Ekonomi-politik  Jokowi di ambang kehancuran. Pemilu-pilpres  terburuk, ekonomi terpuruk. Para analis dan periset ingatkan, Pemerintah Jokowi-JK dengan tim ekuin pimpinan Darmin Nasution- Menkeunya Sri Mulyani harus bertanggungjawab terhadap perbaikan neraca perdagangan 2018 yang babak belur dihantam defisit terbesar sepanjang sejarah dengan mempercepat reformasi struktural. Lalu, Darmin- Sri Mulyani dan tim ekuin ngapaian? Sri Mulyani santer disebut bakal jadi Menko Ekuin pada reshuffle sesudah Ramadhan ini.

Pasalnya, defisit neraca perdagangan sebesar US$8,57 miliar tidak hanya dipicu oleh permintaan impor yang melambung tinggi. Tetapi perlu diingat, perkembangan ekspor menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.

Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro melihat pentingnya pemerintah untuk segera mempercepat reformasi struktural pada tahun 2019.

"Khususnya tentang cara mengurangi ketergantungannya pada ekspor komoditas dan untuk mendiversifikasi pasar ekspornya," tegas Satria, Senin (15/1).

Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investor Service mengeluarkan laporan pembaharuan tahunan pada 13 Februari 2019. Dari laporan itu disebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun di bawah lima persen pada 2019-2020.

Hal itu lantaran kemungkinan pengeluaran pemerintah moderat dan laju pembangunan infrastruktur yang lebih lambat. Sebelumnya, ekonomi Indonesia tumbuh kuat dan stabil dengan rata-rata lima persen dalam lima tahun terakhir.

Sementara Ekonom senior Insitute for Development of Economics and Finance (Indef) Fadhil Hasan mengingatkan ancaman krisis kredit dan utang di Indonesia. Siapapun yang terpilih nanti, harus mampu mencari jalan keluar dari ancaman tersebut.

Dia mengatakan, ancaman itu muncul dari rasio utang dan defisit transaksi berjalan Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga akhir Januari 2019 tercatat USD 383,3 miliar atau setara Rp 5.471,60 triliun. ULN ini terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD 190,2 miliar, serta utang swasta termasuk BUMN sebesar USD 193,1 miliar.

Sementara itu, CAD Indonesia sebesar USD 31,1 miliar atau setara dengan 2,98 persen dari PDB. Fadhil menilai jika capaian tersebut justru bukan dalam posisi yang aman.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...